Monday, February 13, 2012

GEMBALA YANG DIRINDUKAN JEMAATNYA

By Daniel Ronda

Hari-hari ini saya sering mendapatkan masukan dari para sahabat saya yang adalah anggota jemaat di mana mereka mengeluhkan gembalanya. Jemaat umumnya kecewa dengan perilaku gembala yang tidak menunjukkan sebagai pemimpin rohani, otoriter, malas melakukan perkunjungan, kehadiran jemaat menurun, menciptakan konflik, tidak jujur, dan tidak konsisten antara kata dan tindakan. Mengapa ini bisa terjadi? Di mana letak kesalahannya?

Jujur mau dikatakan masalah ini kompleks dan kesalahan terletak pada dua sisi. Pada satu sisi jemaat punya ekspektasi yang berlebihan dan mencari sosok sempurna dari gembala. Mereka mau gembala yang pintar berkotbah, rajin pembesukan, jago manajemen gereja, keluarganya menopang, rendah hati, ramah dan lembut terhadap jemaat, tidak pilih kasih antara kaya dan miskin, juga mau terima apa adanya termasuk gaji seadanya. Figur sempurna seperti ini mungkin ada, namun pasti ada kekurangannya. Untuk itu jemaat dan pengurus gereja harus diingatkan bahwa mencari gembala bukan sedang mencari Tuhan. Mencari gembala berarti menemukan sosok gembala yang terpanggil, integritas dan karakter yang dewasa, namun jemaat dan pengurus mau menerima gembala apa adanya. Kemungkinan ada saja kelemahan gembala seperti kurang pandai berkotbah, ada kendala dalam bersosialisasi, dan sebagainya. Sepanjang itu masalah bukan prinsip, jemaat dan pengurus hendaknya berkomitmen untuk menolong kekurangan itu. Gembala hadir menjadi pemimpin rohani dan bukan pemimpin perusahaan. Tanggung jawab gereja ada di pundak jemaat itu sendiri. Hendaknya jemaat tidak suka membandingkan gembalanya dengan gembala gereja tetangga. Mereka pun pasti ada kelemahannya.

Namun pada sisi lain, ada juga gembala sendiri adalah sumber masalahnya. Sang gembala tidak punya hati gembala, dan tidak mau belajar seperti Yesus. Orientasi si gembala hanya kepada keuntungan materi dan atau lebih kepada rasa aman dan nyaman karena ada pekerjaan. Jadi posisi gembala dilihat sebagai pekerjaan. Yang utama adalah tidak memiliki spirit menjadi gembala, selalu merasa terancam dengan orang lain sehingga menjadi otoriter dan cenderung diktator. Orang seperti ini akan susah berhubungan dengan orang lain karena perasaan minder. Justru untuk menutupi kelemahannya, orang seperti ini menjadi sombong atau lebih tepatnya menyombongkan diri. Belum lagi keluarga (baca istri) yang tidak menunjang pelayanan. Filosofi pelayanan rohani tidak difahami sang istri sehingga istri menuntut dilayani dan bukan melayani. Prinsipnya istri pun tidak mengerti apa itu menjadi istri gembala dan pada akhirnya ibu gembala menjadi frustrasi, sang gembala pun bingung (memang perlu topik khusus soal istri gembala). Ujungnya, jemaat pun frustrasi lihat sikap istri gembala dan ini menjadi sebuh lingkaran permasalahan yang kalau tidak diselesaikan akan berakhir konflik.

Penyelesaiannya tidak mudah dan analisis penyelesaian beragam. Namun kita perlu menyelesaikannya satu persatu. Maka sepatutnya kita perlu belajar melihat bagaimana gembala yang sukses menggembalakan jemaat. Salah satu gembala yang perlu kita teladani adalah Pdt Dr. Byoung Sam Kim dari gereja Manna di dekat kota Seoul, Korea. Dia pun ingin mencari tahu apa sebenarnya yang dicari jemaat tentang gembalanya? Dia menemukan rahasia pelayanan yang diberkati adalah gembala yang punya etika yang baik (an ethical leader) dan gembala yang rohani (spiritual leader). Inilah gembala yang dirindukan jemaatnya. Dia mengembangkan kerohanian dirinya sebagai hal utama. Fokus utamanya adalah berdoa, berpuasa dan pendalaman Firman. Kerja keras bukan fokus energi kepada hal-hal administrasi dan pembangunan fisik belaka. Tapi ia menjadikan dirinya pemimpin rohani. Ia selalu berdoa dan berpuasa sepanjang minggu bila hendak berkotbah. Hasilnya nyata, di mana gereja mengalami pertumbuhan. Kebaktian doa paginya dihadiri kurang lebih 4000 orang, dan jumlah kehadiran jemaat pun menjadi dua kali lipat secara kontinu dari tahun ke tahun.

Bagi Pdt Byoung, kerja keras seorang gembala terletak dalam perjuangannya menjadi pemimpin rohani yang dirindukan jemaatnya. Saya yakin ini akan menjawab banyak pergumulan gembala, di mana kita harus bertanya pada diri sebagai gembala: apakah kita sudah berdoa dan berpuasa minggu ini? Apakah kita bergairah dengan melakukan studi Firman Tuhan setiap hari? Apakah ada kerinduan untuk mengembangkan ibadah doa dengan lebih baik? Apakah kita sedang memiliki kehidupan doa yang baik serta mendoakan jemaat dengan kontinu?

Sumber tentang kesaksian Rev. Byoung Sam Kim diambil dari: “The Spirituality of Leadership” oleh Byoung Sam Kim, dari Leading Ideas, 16 Februari 2011.

1 comment:

  1. Shallom.....sebenarnya bagaimana seharusnya sikap Gembala terhadap istrinya yang menurut pandangan Jemaat justru tidak menjadi teladan bahkan menjadi pemecah dalam Jemaat?.... Kalau Gembalanya sih dipandangan saya sudah sungguh2 n all out< walau banyak kurang disana sini tapi itulah gunanya pelayan2 lain untuk saling melengkapi. Yang jadi masalah ada lah si "bugem" yang berbisnis (berjualan) dengan jemaat. Hobby sekali menawarkan tas, pakaian, dll kepada jemaat.....bayangkan, kalau tidak membeli nggak enak, kalau mau beli toh tidak butuh.....kasat mata dia akan lebih memperhatikan jemaatnya yg sering jd konsumen (yang secara ekonomi lebih mapan). Sibuk bisnis membuat beliau nggak lebih giat dalam pekerjaan Tuhan/melayani dibanding ibu2 lain dalam gereja tersebut....hadeehhh. Geregetan deh punya "bugem" model gini, setiap minggu baju baru, sepatu abaru, pamer foto jalan2 ke Luar Negeri padahal 75 persen jemaatnya taraf pendapatan dan pendidikannya ada di level bawah. Apa yang harus yang sebaiknya dilakukan?

    ReplyDelete