Sunday, October 25, 2009

DENGAR KOTBAH KOK NGANTUK?

By Daniel Ronda

Pagi ini saya ke gereja dan jarang-jarang dapat kesempatan mendengar kotbah karena biasanya selalu berkotbah di mimbar. Ketika sudah tiba waktunya kotbah, seorang yang diundang khusus dari luar kota, menyampaikan kotbah. Anehnya dalam tempo lima sampai sepuluh menit saya diserang rasa kantuk yang hebat. Rasanya ingin tutup mata saja. Saya tahan mata saya karena status sebagai hamba Tuhan. Kalimat lepas kalimat berlalu diucapkan kelihatan tidak bermakna dan mengena. Tiba-tiba pernyataan Haddon Robinson masuk di kepala saya “Apa ide besarnya?”. Ini yang tidak pernah saya dapatkan. Apakah mungkin saya kurang tidur? Rasanya tidak.

Untuk membuktikannya, lalu saya lihat sekeliling dan muai bertanya apakah kalau hanya saya yang bermasalah. Ternyata di depan saya seorang ibu sibuk perhatikan brosur acara pemuda “Booming Youth” yang dibagikan pada waktu kami masuk. Di seberang kursi ada bapak mapan asyik bolak balik buletin gereja yang sudah berkali-kali dibaliknya. Seorang oma, sebelah depan kanan saya, selalu gelisah membalikkan badan dan pantat duduknya sambil menggosok-gosok tongkatnya. Mungkin dia berpikir kapan acara itu selesai. Ada ibu tiga baris di depan saya sibuk mengipasi badannya dengan buletin gereja, padahal ruangan sudah cukup dingin. Suasana sungguh terasa lesu. Bahkan seorang Ibu sebelah sudut kiri kursi saya asyiki ber-sms ria sambil menyembunyikan telepon selulernya (hp) di balik Alkitab.

Rick Warren mengingatkan kita para pengkotbah, bahwa
Preaching is all about bridging THEN (interpretation) and NOW (application). The bridge is the Timeless Principle.” Kotbah adalah “menjembantani” masa lalu Alkitab lewat penafsiran yang baik dan penerapan prinsip-prinsip itu kepada masa kini. Konsep penjembatanan adalah kunci kotbah yang menarik. Banyak kali kita berkotbah hanya bagi diri, kita senang memfokuskan pada beritanya, kita asyik dengan argumen kita, tidak peduli apa jemaat mengerti atau berhubungan dengan kehidupannya. Itu sebabnya pengkotbah tidak peduli kalau jemaatnya gelisah, karena fokus kepada uraian penafsiran teks Alkitab yang berhubungan dengan masa lalu di Israel.

Namun ada juga yang asyik dengan aplikasi yang kelihatan menarik namun kadang tidak sesuai dengan teks yang dibahas. Sibuk dengan cerita dan ilustrasi masa kini, yang sebenarnya mengena dalam kehidupan sehari-hari, namun miskin prinsip penjembatanan.

Soal tidak sesuai antara judul dan isi kotbah, memang seringkali pengkotbah terjebak untuk mengangkat banyak ide besar. Pagi ini topik kotbah seringkali dikembangkan dari aslinya. Saya mulai mendengar pengkotbah mulai berbicara tentang rasa malu, lalu rasa bersalah, dan topik yang sepertinya penting yaitu perlunya air hidup. Namun ditambahkan topik misionari dan eksploitasi perempuan dari kisah perempuan Samaria. Aduh kok banyak sekali gagasan yang hendak disampaikan? Di sini tidak ada benang merah yang ingin disampaikan. Dari gagasan tentang pertobatan, kegagalan gereja menjadi saksi (semangat reformasi yang hilang), sampai kepada usaha misi. Wow!!!

Berkotbah bukan gampang, namun kalau tidak ada saya berikan analisa yang begini, banyak hamba Tuhan akan menggampangkan berdiri di mimbar. Seorang pengkotbah perlu terus menyempurnakan cara ia menyampaikan Firman Tuhan. Tentu prinsip rohani seperti berdoa, “berendam” dalam teks Firman adalah hal dasar yang harus dilakukan pengkotbah. Namun sudahkah kita berani mengevaluasinya? Tolong... jangan bikin ngantuk jemaat!

No comments:

Post a Comment

Post a Comment