Friday, October 23, 2009

SEKS YANG BAIK

Oleh Daniel Ronda

Artikel sederhana ini merupakan saduran tentang seks yang baik dalam pernikahan Kristen. Ini bagian dari ceramah yang akan disampaikan dalam Komisi Pasutri Gereja Kristen Kalam Kudus Makassar, Oktober 2009:

A. Fakta Alkitab tentang seks:

  1. Seks memiliki kekuatan yang dahsyat (Kej 2:23-24)

Menjadi satu daging. Seks bukan hanya kesatuan fisik, tetapi juga kesatuan emosional, psikologis dan rohani. Dia laksana 2 kertas yang dilem menjadi satu. Bila coba dipisahkan akan menjadi robek. Seks mengikat tali perkawinan lebih dalam dan kuat.

Seks menjadi alat di tangan Tuhan sebagai pro-kreasi, di mana kuasa penciptaan Allah terjadi lewat hubungan seksual.

  1. Seks merupakan penemuan dan pencarian seumur hidup

Bacalah kitab Kidung Agung. Di sini Allah menghendaki manusia untuk menikmati seks, mengeksplorasi tubuh lewat membangkitkan gairah dan mencapai puncak. Tetapi film-film telah merusak citra seks, sehingga seks yang menggairahkan kalau baru bertemu (one night stand) atau perselingkuhan (affair).

Baca Amsal 5:18-19. Allah menghendaki pasangan menikmati hubungan seksual.

  1. Seks merupakan “bumbu” yang paling esensial dalam pernikahan.

Baca I Kor 7:3-5.

- Jangan membuat seks sebagai senjata untuk menghukum pasangan.

- Jangan pakai sebagai alat untuk memisahkan diri karena Setan bisa memakai keterpisahan untuk menghancurkan perkawinan.

- Analogi: seks adalah sebuah “busi motor”. Benda yang kecil tetapi sangat penting dalam kehidupan pasangan suami istri. Ia juga laksana garam dalam masakan.

  1. Seks adalah tindakan memberi

Baca: Ef 5:21-22, 25, 28-33. Janganlah seks menjadi alat pemuas diri, tetapi memberikan yang terbaik bagi pasangan. Belajar untuk memberikan kepuasan bagi pasangan. Masalah hubungan seks biasanya muncul ketika level keinginan berbeda terutama pada masa stres, kehamilan, dan pasca melahirkan. Jangan hanya menuntut pasangan memenuhi kebutuhan seks, tetapi belajar memahami situasi pasangan.

B. Enam kualitas sebagai pencinta ulung:

Masalah seks dalam pernikahan:

“Laki-laki tidak mendapat cukup seks; perempuan tidak mendapat cukup romantisme; Laki-laki langsung mau ke tujuan; perempuan mau lewat proses (jalannya); Laki-laki seperti kompor gas: langsung panas dan langsung dingin; perempuan seperti kompor listrik: lambat panas dan juga selesainya lambat dingin.”

Prinsip menjadi pencinta ulung dalam hubungan suami istri:

  1. Komunikasi yang baik

Seks menjadi bermasalah bila komunikasi suami istri bermasalah. Bangun komunikasi yang baik untuk mendapatkan seks yang baik.

  1. Kelembutan

- Melibatkan waktu untuk membangun romantisme dan keinginan (nafsu).

- Jangan hanya menyentuh istri bila hendak melakukan seks. Ini tanda yang buruk.

- Istri akan memberikan tubuhnya jika dia merasa aman, dikasihi, dan mesti merasa khusus.

- Jangan ada kekerasan dalam rumah tangga

- Survey: sebagian besar istri tidak tertarik badan macho, tetapi tertarik dengan pria yang lembut dan romantis.

  1. Responsif

Istri perlu memberikan respons atas cinta dan keinginan suaminya. Dia perlu bertindak atraktif terhadap suaminya. Istri tidak perlu malu, bahkan harus berani. Bacalah Kidung Agung 7:12-13.

  1. Romantis

Pasangan suami istri perlu menciptakan suasana yang mendukung adanya kegairahan dalam kehidupan suami istri.

  1. Antisipasi

- “The best sex starts at breakfast”.

- Perlu punya pikiran yang baik dan sehat.

- Hilangkan stres dan tekanan.

  1. Variasi

Seks yang baik meliputi kreativitas, pemikiran dan variasi

- Tempat melakukan hubungan seks

- Variasi dalam waktu

- Variasi dalam suasana (kamar)

- Variasi atas rutinitas. Atas dasar suka sama suka, menjaga kehormatan, dan pencapaian kepuasan bersama.

Wednesday, October 21, 2009

KEPENUHAN ROH KUDUS (2)

Oleh Daniel Ronda[1]

Masalah Baptisan Roh

Pribadi Roh Kudus adalah pribadi yang tidak kalah pentingnya dalam doktrin Kristen. Roh Kudus adalah Allah sendiri. Tetapi dalam penerapan ajaran tentang Roh Kudus menimbulkan kontroversi di dalam gereja-gereja. Topik-topik yang kontroversial itu antara lain baptisan Roh Kudus serta tanda yang mengiringi baptisan Roh.

Sedikitnya ada dua ajaran yang berbeda tentang baptisan Roh Kudus yang dianut gereja (bagi kaum evangelikal):

Pertama, ajaran yang percaya bahwa seseorang yang dibaptis air di dalam nama Kristus pada saat yang sama juga dibaptis dalam Roh. Paulus menyatakan kepada jemaat di Efesus bahwa mereka dimeteraikan oleh Roh Kudus pada saat percaya kepada Kristus (Efesus 1:13). Sehingga tidak diperlukan lagi baptisan Roh Kudus sebagai pengalaman yang berbeda setelah baptisan dalam nama Yesus. Yang diperlukan bagi setiap orang percaya adalah berjalan di dalam Roh atau yang biasa disebut kepenuhan Roh Kudus. Umumnya pandangan ini dianut oleh kaum evangelikal. Bagaimana dengan adanya peristiwa baptisan Roh Kudus yang berbeda dengan pengalaman pertobatan seperti yang ada dalam Kisah 2, 8, 10, 19? Bagi kaum evangelikal, Roh Kudus tercurah atas empat grup yaitu orang Yahudi, Samaria, orang-yang takut akan Allah (God fearers), dan orang kafir untuk menunjukkan bahwa mereka mulai saat itu terhisab di dalam gereja atau masuk dalam satu tubuh yaitu gerejaNya.[2] Lagipula peristiwa-peristiwa yang terjadi itu bukanlah merupakan suatu pengajaran yang bersifat dogamtis dan hanya berupa uraian. Rumus penafsiran kaum evengelikal adalah bahwa hermeneutika yang benar tentang ajaran Kristen adalah “harus dibangun hanya pada bagian-bagian Alkitab yang bersifat didaktis (bersifat ajaran).”[3]

Kedua, bahwa setiap orang yang telah dibaptis dalam nama Yesus memerlukan pengalaman kedua yaitu baptisan Roh yang berbeda waktunya dengan baptisan yang pertama. Umumnya ayat-ayat yang diambil adalah Kis. 2, 8, 10, 19. Ayat-ayat yang dipakai untuk menjelaskan adanya pengalaman yang berbeda. Walaupun demikian mereka juga menganggap pentingnya dipenuhi oleh Roh Kudus. Umumnya pandangan ini dianut oleh gereja-gereja Pentakosta, Sidang Jemaat Allah dan Gerakan Kharismatik atau Neo-Pentakosta (yang notebene juga masih merupakan bagian dari kaum evengelikal).

Kedua ajaran ini tidak dapat dipersatukan dan masing-masing berpendapat bahwa ajaran mereka berasal dari Alkitab. Namun isu ini perlu diangkat untuk mengetahui bahwa gereja-gereja memiliki pemahaman yang berbeda tentang hal ini.

Pentingnya dipenuhi Roh Kudus

Kepenuhan Roh ada hubungan erat dengan pengajaran baptisan Roh itu. Setiap orang perlu mengalami kepenuhan Roh di dalam hidupnya setelah pertobatan atau setelah mengalami pengalaman kedua (seperti yang dibahas di atas). Efesus 5:18b berkata, “Hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Ini adalah perintah yang dapat dipegang sebagai doktrin. Kata ini adalah perintah untuk setiap orang yang percaya bahwa setiap orang harus dipenuhi dengan Roh Kudus. Artinya, orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang dipenuhi pribadi Roh Kudus itu. Dia menguasai hidup dan memiliki kehidupan seseorang. Kata ini juga berbentuk present continous tense dalam bahasa Yunaninya. Itu berarti bahwa kepenuhan Roh adalah hal yang bersifat terus-menerus. D. Scheunemann berkata, “Titik berat pengajaran Perjanjian Baru tidak terletak pada suatu pengalaman Roh Kudus yang berlaku hanya pada waktu yang tepat, yang tidak dapat diulangi lagi, melainkan pada pembawaan diri dalam kepenuhan Roh yang terus menerus.”[4] Orang percaya perlu berdoa agar Tuhan memenuhi hidupnya dengan Roh Kudus setiap hari, karena kepenuhan bisa bermakna bahwa seseorang bisa dipenuhi dan pada suatu saat ia kurang dipenuhi oleh Roh Kudus. Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah artinya dipenuhi dengan Roh Kudus? Dalam menjawab pertanyaan ini perlu dibahas cara dan ciri dipenuhi Roh Kudus. Yang pertama menyangkut bagaimanakah seseorang dipenuhi Roh dan yang kedua adalah karakteristik orang yang dipenuhi Roh. Walaupun demikian seseorang tidaklah boleh terperangkap dengan memakai pola tertentu tentang cara seseorang dipenuhi Roh Kudus. D. Scheunemann secara tepat berkata, “Kita tidak boleh menentukan satu cara atau menggariskan satu pola tertentu tentang bagaimana kepenuhan Roh Kudus harus berlangsung dalam kehidupan Kristen. Karena justru cara-cara demikian telah mendatangkan banyak penderitaan dalam jemaat, dan mengakibatkan banyak orang Kristen mengalami pergumulan, keputusasaan, bahkan terlibat dalam peniruan yang fatal.”[5] Jadi sebenarnya masing-masing pribadi memiliki keunikan dalam berhubungan dengan Roh Kudus di dalam hidupnya.

Tetapi setidaknya ada beberapa prinsip tentang bagaimana seseorang dipenuhi Roh Kudus ada tiga yaitu pertama, kerinduan yang mendalam akan Tuhan. Kedua, penyerahan total, dan ketiga, ialah menerima dengan iman (Yoh. 7:37-39).[6] Dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang dipenuhi Roh tidaklah perlu baginya untuk mengalami baptisan Roh tersendiri yang berbeda dari pertobatannya. Dan tidak ada keharusan akan tanda bahasa Roh yang mengikutinya.

Sedangkan ada beberapa ciri yang menunjukkan seseorang dipenuhi oleh Roh. Pertama, kehidupan yang berisi pujian kepada Allah (Ef. 5:19-20). Kedua, orang yang dipenuhi Roh Kudus akan menghasilkan buah-buah Roh (Gal. 5:22-23). Ketiga, orang yang dipenuhi Roh akan menyalibkan keinginan daging karena berjalan dalam pimpinan Roh (Gal. 5:24-26). Artinya, dia hidup dalam kekudusan dan berjuang melawan semua dosa. Itu tidak berarti bahwa orang yang dipenuhi Roh adalah orang yang sempurna, tetapi senantiasa berjuang untuk melawan segala keinginan daging. Keempat, kepenuhan Roh adalah penting dalam pelayanan seseorang, di mana kepenuhan Roh memampukan seseorang dalam melakukan pelayanan (Kis. 4:31; 5:3).

Tentang Bahasa Roh

Bahasan terakhir yang tak dapat diabaikan adalah tentang bahasa Roh. Kelompok gereja tertentu menganggap bahwa bahasa Roh adalah tanda dari orang yang sudah dibaptis oleh Roh Kudus dan bukti dari kepenuhan Roh Kudus. Tentang hal inipun terjadi perbedaan pendapat. Bila melihat pengajaran Perjanjian Baru maka dapat disimpulkan bahwa bahasa Roh adalah salah satu karunia di dalam gereja.

Di dalam Perjanjian Baru ada tiga bagian dari 27 buku Perjanjian Baru. Referensi tentang bahasa Roh terdapat dalam tiga bagian yaitu di dalam Kisah (Kisah 2:1-13; 10:1-11;18:24-19:7); kemudian terdapat satu bagian di dalam 1 Korintus (pasal 12-14); dan satu frase singkat dalam kitab Markus (16:17). Dapat disimpulkan bahwa bila benar bahasa Roh adalah sesuatu yang penting bagi umat Kristen, tentulah Paulus harus menyebutnya dalam kitab-kitabnya yang lain. Tetapi yang ada adalah sebaliknya.

Di dalam daftar karunia-karunia yang didaftarkan oleh Paulus ternyata karunia bahasa Roh ditempatkan terakhir dalam dua daftar (1 Korintus 12:8-10, 28) dan tidak disebutkan dalam Efesus 4:11 dan Rom 12:6-8. Ini menunjukkan bahwa karunia ini bukanlah yang terpenting dalam kehidupan bergereja.

Paulus juga sering mengatakan bahwa karunia bahasa Roh tidaklah sepenting yang lain. Misalnya, hal ini terdapat dalam 1 Kor. 12:28-31, 14:5, 14:19. Paulus juga menjelaskan bahwa karunia bahasa Roh tidaklah untuk setiap orang (1 Kor 12:29-30). Ini menunjukkan bahwa bahasa Roh bukanlah tanda utama dari kepenuhan Roh dan tidak diperlukan dalam pertumbuhan iman orang percaya. Paulus juga tidak mensyaratkan bahasa Roh dalam pemilihan panatua dan diakon (2 Tim 3:1-13; Titus 1:5-9). Pemimpin gereja tidak diberikan syarat untuk memiliki karunia bahasa Roh.

Walaupun bahasa Roh tidak sepenting yang kita bayangkan dalam kehidupan bergereja, namun eksistensinya sampai saat ini masih ada.[7] Salah satu argumen yang saya pakai adalah bahwa bila karunia yang lain masih ada, maka karunia ini pun masih ada logikanya. Yang lainnya adalah bahwa dalam perjalanan gereja, sampai tumbuh pesatnya gerakan Pentakosta dan Neo-Pentakosta maka ada suatu hal yang perlu diakui tentang masih eksisnya bahasa Roh.[8]

Bahasa Roh sebagai fenomena gereja moderen perlu dimengerti sebagai karunia dari Allah. Tetapi, sebagaimana J. I. Packer mengamati bahwa saat ini bahasa Roh adalah “sought and used as part of a quest for closer communion with God and regularly proves beneficial at conscious level, bringing relief of tension, a certain inner exhilaration, and a strengthening sense of God’s presence and blessing.” Ia juga menambahkan, “Glossolalia represents, focuses, and intesifies such awareness of divine reality as is brought to it; thus it becomes a natural means of voicing the mood of adoration, and it is not surprising that charismatics should call it their ‘prayer language.’” Kemudian dia menyimpulkan, “All this argues that for some people, at any rate, glossolalia is a good gift of God, just as for all of us power to express thought in language is a good gift of God.”[9] Maksudnya, bahasa Roh saat ini merupakan suatu upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memakai bahasa Roh sebagai bahasa doa. Dan itu dapat dikatakan sebagai pemberian Allah, yang sama dalam tiap orang ketika dia mengekspresikan doanya kepada Tuhan di dalam bahasanya masing-masing.

Akhirnya, memakai bahasa Roh perlu berhati hati agar tidak memanipulasi secara psikologis orang lain. Firman Tuhan mengingatkan, “Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan para nabi, demikianlah Firman Tuhan, yang memakai lidahnya sewenang-wenang untuk mengutarakan firman ilahi. Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman Tuhan, dan yang menceritakannya serta menyesatkan umatKu dengan dustanya dan dengan buahnya. Aku tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka. Mereka sama sekali tiada berguna untuk bangsa ini, demikianlah firman Tuhan” (Jeremia 23:31-32). Ini menjadi awasan bagi setiap orang yang menyatakan diri menerima karunia bahasa Roh.



[1]Ketua (Rektor) STT Jaffray

[2] Lihat penjelasan lengkap: R. C. Sproul, Essential Truths of the Christian Faith (Wheaton, Ill.: Tyndale, 1992), 118-9.

[3] D. Scheunemann, Sungai Air Hidup: Roh Kudus dan PelayananNya (Malang: YPPII, 1979), 169. Lihat juga prinsip yang sama yang dikembangkan oleh Gordon Fee & Dauglas Stuart, How To Read The Bible For All Its Worth (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 1981). Fee dan Stuart berkata, “Our assumption, alongwith many others, is that unless Scripture explicitly tell us we must do something, what is merely narrated or described can never function in a normative way,” hlm. 97.

[4] Scheunemann, Sungai Air Hidup, 168.

[5] Ibid., 169.

[6] Ibid., 170-1.

[7] Kesimpulan ini berbeda dengan pandangan profesor saya Randall C. Gleason, PhD (Dallas Theological Seminary) yang menyatakan bahwa bahasa Roh sudah tidak ada lagi dalam kehidupan berjemaat dewasa ini. Lihat Randall C. Gleason, Life in the Spirit (Manila: ISOT ASIA, 1998), 1-16.

[8] Argumen sejarah juga dipakai oleh mereka yang menolak eksistensi bahasa Roh sampai saat ini, di mana sejak Bapa-Bapa gereja sampai abad ke 19 tidak ada dalam catatan sejarah tentang adanya bahasa Roh. Lihat misalnya tulisan Thomas R. Edgar, “The Cessation of the Sign Gifts,” Bibliotheca Sacra 145 (1988):371-86. Saya memakai argumen sebaliknya, walaupun karunia bahasa Roh muncul lagi sebagai fenomena gereja moderen.

[9] J. I. Packer, Keep in Step with the Spirit (Old Tappan, N.J.: Fleming H. Revell Co., 1984), 210-11.

KARYA ROH KUDUS (1)

By Daniel Ronda

Karya Roh Kudus
Roh Kudus adalah Allah sendiri yaitu dalam ketritunggalanNya. Diberi judul karya Roh Kudus karena Roh Kudus adalah pribadi yang kehadiranNya nyata di dalam dunia, terutama juga di dalam gereja. Karya Roh Kudus meliputi empat hal yaitu karya yang evangelistis, organis, karismatis, pedagogis (Scheunemann, 1). Namun tidak bisa dikatakan bahwa karyaNya berlaku secara otomatis di dalam jemaatNya. Karena jemaat perlu memberikan respons yaitu iman dan taat, supaya karyaNya nyata dalam kehidupan orang percaya. Jadi respons kita terhadap karya Roh Kudus penting di dalam kehadiran dan karyaNya. Bila karya penyelamatan adalah anugerah semata-mata, maka penyucian perlu respons manusia atas panggilan itu.

1. Pelayanan Evangelistis
Roh Kudus menyadarkan manusia akan dosa-dosanya, sehingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya.

2. Pelayanan Organis
Karya Roh Kudus yang mana Ia memperbaharui hidup kita, menyucikan kita dari dosa, menghasilkan buah-buah Roh Kudus, memiliki hubungan harmonis dengan Tuhan dan sesama jemaat.

3. Pelayanan Karismatis
Memperlengkapi orang percaya dengan berbagai-bagai karunia-karunia untuk tugas pelayanan. Ini akan dibahas tersendiri di bawah.

4. Pelayanan Pedagogis
Roh Kudus memimpin, menghibur dan mengajar orang percaya di dalam kehidupan hari lepas hari. Misalnya, kita mampu menghadapi suka dan duka, tantangan, cobaan, dsb.

Karunia-Karunia Roh Kudus

Apa itu karunia rohani?
Karunia rohani adalah suatu kemampuan yang diberikan oleh Roh Kudus dan dipakai dalam pelayanan gereja (Grudem, 1016). Karunia rohani sendiri berhubungan erat dengan bakat (natural gifts) seperti mengajar, berkemurahan, atau administrasi dan karunia rohani yang tidak berhubungan dengan bakat seperti nubuat, kesembuhan, karunia membedakan berbagai macam roh. Jadi yang termasuk karunia rohani adalah keduanya, karena keduanya berasal dari Allah dan dipakai untuk memabngun dan menguatkan jemaat.

Tujuan adanya karunia rohani
Tujuannya adalah untuk melengkapi gereja untuk dapat melaksanakan tugas pelayanan di dunia ini sampai Tuhan Yesus datang. Di samping membangun, karunia rohani juga memperkaya kehidupan rohani orang percaya sehingga mereka semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Sehingga gereja yang sehat adalah gereja yang memberikan peluang seluas-luasnya agar gereja mempraktekkan karunia rohani.

Berapa banyak karunia rohani dalam gereja?
Sebenarnya tidak ada jumlah yang ditetapkan di dalam gereja berapa banyak karunia dalam jemaat. Ini dibuktikan dari ayat-ayat tentang karunia menuliskan daftar yang berbeda dengan urutan yang berbeda pula. Bahkan untuk jemaat masa kini, ada daftar karunia yang perlu ditambahkan dalam daftar. Yang paling penting setiap jemaat setidaknya memiliki satu karunia. Dan yang paling penting adalah tidak ada karunia yang lebih penting dari yang lain. Semuanya memiliki kedudukan yang sejajar.

Lihat daftar karunia rohani yang ada di Alkitab:
I Kor 12:28
Rasul, nabi, pengajar, mengadakan mujizat, menyembuhkan, melayani, memimpin (administrasi), bahasa lidah.

I Kor 12:8-10
Berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, iman, menyembuhkan, mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, bahasa roh, menafsirkan bahasa roh.

Efesus 4:11
Rasul, nabi, pemberita Injil, gembala-pengajar.

Roma 12:6-8
Bernubuat, melayani, mengajar, menasehati (encouraging), membagi-bagi sesuatu, memimpin, kemurahan.

I Kor 7:7
Membujang

I Petrus 4:11
Berbicara (banyak karunia tercakup), Melayani (banyak pelayanan tercakup).
Bagaimana kita mencari tahu karunia rohani kita?
Gereja harus menyiapkan sarana di mana gereja bisa mempraktekkan karunia rohani. Semua jemaat harus sadar bahwa karunia rohani masih ada dan bahkan perlu diberi kesempatan untuk jemaat menggunakannya. Jangan ditutupi. Dari sanalah jemaat akan tahu manakah yang akan menjadi karunianya.
Tiap anggota jemaat berdoa dan meminta hikmat dan suatu keyakinan untuk menemukan karunia rohaninya. Cari Tuhan dan minta kepadaNya. Semuanya dipakai untuk memuliakan Allah.
Langkah terakhir tentunya jemaat mulai mempraktekkan atau terjun langsung ke berbagai pelayanan dan lihat bagaimana jemaat diberkati oleh pelayanan kita. Sehingga kita tahu manakah yang menjadi karunia kita, ketika jemaat mulai mengalami berkat dari pelayanan kita.

Karunia adalah alat, dan bukan tanda bahwa seseorang sudah dewasa
Seringkali terjadi salah kaprah bahwa kalau orang memiliki karunia, itu berarti dia sudah dewasa dalam iman, bahkan sempurna. Itu tidak benar. Jemaat Korintus adalah contoh untuk itu. Mereka memiliki banyak karunia, tetapi pada saat yang sama masih berjuang dalam menghadapi dosa. Bahkan Paulus menyebut jemaat Korintus seperti bayi rohani (I Kor 3:1). Jadi bisa saja ada yang punya karunia rohani, tetapi masih belum paham pengajaran atau masih “anak-anak” dalam hal pengenalan Alkitab. Bahkan ada yang masih berjuang melawan dosa. Jadi kita tidak bisa mengevaluasi seseorang yang dewasa rohani berdasarkan karunia rohaninya.

Bahaya yang mengancam karunia rohani di gereja:
1. Tidak pernah dipraktekkan di dalam gereja
Ada ketakutan dan kekhawatiran bahwa bila dipraktekkan bisa menyebabkan masalah. Sehingga yang terjadi adalah karunia rohani dibahas, dikhotbahkan, namun tidak pernah dibiarkan berkembang dalam kehidupan berjemaat.

2. Sombong rohani
Ada orang yang berkeinginan untuk menjadi orang yang terkenal secara rohani. Mereka mulai meniru-niru karunia rohani. Tidak mengerti benar apa itu karunia rohani, tetapi dengan kekuatan sendiri berupaya menghakimi orang lain.

3. Tidak bisa membedakan yang dari Tuhan dan manusia
Mendapat penglihatan dan mimpi untuk menyampaikan nubuatan adalah sesuatu yang Alkitabiah. Namun harus disampaikan dengan kata-kata yang dapat dimengerti serta sederhana, dan tidak membuat kekacauan (I Kor 14:40). Karena Allah tidak pernah bermaksud mendatangkan kekacauan di dalam jemaat. Hati-hati terhadap Iblis yang menunggangi fenomena yang ada, karena dia adalah oknum peniru yang paling hebat.
Jadi kita tidak boleh memadamkan Roh (I Tes 5:20-21, namun pada sisi lain Alkitab mengingatkan kita untuk tidak percaya kepada setiap roh, namun diuji apakah itu berasal dari Allah (I Yoh 4:1; I Kor 14:29).

Kesimpulan:
Karya Roh Kudus harus dipahami secara utuh yaitu evangelitis, organis, karismatis, dan pedagogis. Di dalam karyaNya, Dia ingin umat Allah mengalami semua karya Allah itu.
Karunia rohani adalah dari Tuhan dan untuk membangun jemaat. Karena karunia rohani itu pemberian dari Allah maka:
1. Manusia tidak ada hak membanggakan dirinya dan mulai merendahkan orang lain, menghakimi pihak lain yang berdosa. Padahal justru karunia dipakai untuk melayani orang berdosa.
2. Karunia rohani itu tidak ada keseragaman dan tidak ada yang lebih penting satu kepada yang lain. Jadi tidak semua misalnya mendapat karunia A atau B. Justru dalam keanekaragaman tubuh Kristus dibangun.
3. Hati-hati terhadap ketidakwaspadaan dalam perjuangan rohani melawan kuasa si jahat. Ia selalu menunggangi manusia bila gereja Tuhan bertumbuh.
4. Jangan takut untuk menggunakan karunia rohani di dalam jemaat. Bila ada jemaat memilikinya, marilah kita mendoakannya dan meminta supaya semua karunia bisa dipakai dalam pelayanan.

Wednesday, August 26, 2009

KISAH AKHIR HIDUP DR. R.A. JAFFRAY

Oleh Randall Whetzel

(Banyak orang ingin tahu bagaimana sebenarnya akhir hidup seorang tokoh besar dalam bidang misi seperti Dr. R.A. Jaffray. Kita tahu dia mati di tawanan Jepang, namun kita belum tahu akhir yang tragis itu. Randall Whetsel, teman sepenjaranya, mengisahkan kisah akhir Jaffray. Tulisan ini merupakan kiriman dari Rev. Dr. William Conley yang adalah mantan dosen STT Jaffray, dan beliau mengizinkan saya untuk menerjemahkannya. Terjemahan Daniel Ronda).

Jaffray Ditangkap

Ketika tentara Jepang mulai menyerang Asia Tenggara, R.A. Jaffray, istrinya, Minnie, dan anaknya, Margaret, sedang di Baguio, Filipina, beristirahat beberapa hari sebelum berangkat ke Kanada. Keluarga Jaffray diperhadapkan kepada pilihan yang harus diputuskan: kembali ke Timur memakai kapal laut untuk kembali ke Kanada tempat tinggalnya atau ke Selatan yaitu ke Indonesia (saat itu masih dijajah Belanda). Tanpa ragu, mereka kembali ke Makassar, Indonesia. Saya bertanya kepada Jaffray mengapa tidak ke Kanada saja sesuai rencana, apalagi misi C&MA (The Christian and Missionary Alliance) sudah menetapkan Pdt. Russell Deibler, pemimpin yang luar biasa, sebagai pemimpin. Dia menjawab, “Tempatku adalah dengan saudara-saudaraku di Indonesia.” Jaffray berpikir, sebagaimana saya juga, berharap bahwa dengan kepulangannya tentara pendudukan Jepang akan mengizinkan pekerjaan misi dilanjutkan. Justru dia kembali untuk ditangkap.

Jepang telah menyiapkan kamp tawanan untuk pria di Pare-Pare, sekitar 200 km sebelah utara Makassar. Kamp tawanan untuk perempuan dan tawanan di Kampili, dekat Makassar. Pada awalnya, orang laki-laki yang sudah tua ditempatkan di kamp perempuan, tetapi pada Juni 1943, semua orang tua, yang ditemani sekelompok anak-anak berusia 14 tahun ke atas, direlokasi ke kamp Pare-Pare. Ketika Jaffray mengucapkan selamat berpisah kepada Nyonya Jaffray dan Margaret, mereka pun tidak tahu apakah mereka akan bertemu kembali dalam keadaan hidup.

Tetap Sibuk

Di kamp tawanan, Jaffray bertemu Deibler dan Ernie Presswood, yang juga misi C&MA. Saya juga bertemu Jaffray untuk pertama kalinya pada sorenya. Dia dan 23 laki-laki yang sudah tua diizinkan tidak bekerja dan ditempatkan terpisah dan sedikit baik keadaannya. Jaffray tetap sibuk menerjemahkan ke bahasa Inggris buku-buku dan tafsiran-tafsiran yang dia telah tulis dalam bahasa China dengan suatu harapan bahwa setelah perang berakhir, mereka akan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Di sana ada tiga orang China di kamp tawanan: Konsul China, Bapak Wang; wakil-konsul, Lee Tsu Hwai dan anak laki-laki dari Bapak Wang, Mi Fu. Karena Konsul Wang adalah seorang diplomat, maka dia tidak perlu bekerja, Jaffray sering bercakap-cakap dengannya dalam bahasa China.

Dia setiap sore mengusahakan berjalan mengelilingi kamp dengan Deibler dan Presswood. Saya juga berupaya sesering mungkin bersama dia pada waktu malam sampai larut. Pelayanannya yang telah dilakukan di China, Vietnam (dulu Indo-China jajahan Perancis) dan Indonesia adalah suatu hal yang baru saya tahu. Dia tidak pernah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tak terhitung banyaknya. Setelah Russell Deibler meninggal karena diare tanggal 29 Agustus, hanya Presswood menjadi teman sandaran Jaffray. Ketika itu saya pergi selama enam hari dengan sekelompok grup kayu untuk menebang pohon dan memotongnya sebagai kayu bakar untuk dapur Jepang dan juga dapur kami. Waktu itu kami berhasil menyelundupkan berbagai jenis makanan ke kamp, ditaruh secara sembunyi di bawah tumpukan kayu bakar. Barang yang paling populer yang diselundupkan adalah telur bebek, di mana ini menjadi suplemen bagi makanan untuk kesehatan Jaffray.

Hari Minggu kami lebih memiliki waktu bersama. Presswood, Jaffray dan saya berbicara sambil minum teh dan kopi, dan Jaffray sering memberikan teka-teki tentang apa yang saya lihat selama 10 km jalan kami setiap hari untuk mencari kayu bakar. Dia adalah orang yang penuh humor, dan satu komentar dari penjaga Jepang sungguh membuat dia tertawa riang. Kebanyakan pada hari Minggu kami diizinkan beribadah, tetapi suatu minggu kami tidak diizinkan beribadah. Salah seorang penjaga menjelaskan dalam bahasa Indonesia, “Tidak boleh meong-meong!” (Maksudnya tidak boleh menyanyi seperti kucing).

Sasaran Lanjutan

Sebelum Perang Dunia Kedua, gereja Katolik dan Protestan Balanda di Indonesia terlibat dalam perang kata-kata. Saat di kamp, ternyata ada 40 imam Katolik, 80 awam Katolik dan 40 misionari Protestan yang ditawan bersama, dan perselisihan terus berlanjut selama beberapa minggu di dalam tawanan. Dan ketika pertemuan diadakan, salah seorang bertanya “Di fihak mana kita sebenarnya?” “Kita mempunyai musuh bersama, Jepang yang memenjarakan kita.” Sejak saat itu perdamaian terjadi. Saat itu Jaffray berkata bahwa dia berharap bahwa sebenarnya semua masalah dalam kehidupan teratasi sehingga sungguh heran mengapa orang percaya dari semua gereja tidak bersatu melawan musuh bersama yang terbesar yaitu Iblis.
Jaffray seringkali berbicara sasaran berikutnya: membuka daerah Burma (Myanmar) untuk Injil. Dia merasa bahwa pelayanan misi C&MA di Indonesia sudah berjalan dengan sehat, sehingga dia merasa bebas untuk melanjutkan visinya. Saya yakin sepenuhnya, bila dia mampu bertahan hidup dalam perang, dia pasti akan pergi ke Myanmar setelah keadaan lebih baik.
Di dalam kamp tawanan sipil seperti kami, ada beberapa profesor, guru dan dari berbagai profesi. Para tentara penjaga mengizinkan adanya kelas-kelas pendidikan yang diajar setelah makan malam. Beberapa dari guru memiliki buku teks, dan beberapa orang mengajar dari ingatannya. Banyak mata pelajaran yang diberikan, sehingga pilihan menjadi tidak terbatas. Saya mengambil kelas filsafat, atau ilmu burung (ornithology) dan sastra. Jaffray mengikuti kelas etnologi. Saya yakin bahwa ketertarikannya terkait dengan visinya ke Burma.

Pulang Ke Rumah Bapa

Tanggal 19 Oktober 1944, pasukan Sekutu mengebom kamp kami di Pare-Pare. Tentara penjaga memindahkan kami dengan berjalan kaki sepanjang delapan kilometer ke selatan ke beberapa gudang kosong, namun orang yang sudah tua diizinkan naik menggunakan kendaraan trailer besar yang biasa dipakai mengangkut kayu bakar. Kondisi kebersihan di kamp yang baru ini sangat mengerikan. Dalam waktu tidak lama terjadi wabah disentri. Bahkan ketika puncak wabah, ada sampai 400 dari 600 tawanan yang terkena wabah. Presswood dan saya kena penyakit ini, tetapi Jaffray tidak.

Pada Juni 1945, Pasukan Sekutu sudah mendekati pulau-pulau di utara Indonesia, dan tentara Jepang memutuskan untuk memindahkan kami lebih ke dalam lagi. Kami ada 30 dinaikkan ke sebuah truk dari kamp kami di pantai ke pegunungan di Toraja di mana waktu tempuh perjalanan selama 16 jam. Orang-orang yang lebih tua dipindahkan beberapa hari kemudian.
Kamp tawanan baru kami terletak di suatu lembah sekitar hampir dua kilometer dari ujung jalan. Waktu itu hujan terus menerus, sehingga jalanan berlumpur, licin, berlubang dan dipenuhi dengan batu-batu. Orang yang sudah tua tidak dapat berjalan masuk, sehingga kami membuat jalinan bambu dan membuatnya sepanjang malam sehingga jalanan bisa dilewati. Karena bahayanya, maka kami mengikat orang tua sehingga bisa lewat. Jaffray dan beberapa orang lainnya dibawa dengan terburu-buru ke tempat orang sakit, yang berdinding bambu sederhana dan atap jerami dengan lantai tanah. Selimut sama sekali tidak ada. Beruntung, Kolonel Woodward dari Bala Keselamatan (Salvation Army) memiliki jaket tebal sehingga dia menjualnya ke Jaffray US$20, di mana pembayaran akan diberikan setelah perang.

Kecuali yang sudah lanjut, seluruh tawanan dalam keadaan kelaparan. Seringkali tidak ada makanan sama sekali selama 24 jam, bahkan kadangkala 36 jam. Makanan harian adalah setengah gelas nasi, tidak ada garam dan gula, sayuran tidak teratur dan hampir tidak ada daging sama sekali. Jaffay sangat memerlukan garam dan gula, tetapi tidak ada seorang pun yang punya. Beberapa anak muda mencoba menyelinap keluar kamp pada waktu malam untuk mendapatkan benda-benda itu di desa terdekat. Mereka kembali dengan tangan hampa, dan tentara penjaga, yang mengabsen tawanan, memukuli mereka.
Berat badan saya turun menjadi 49 kg dari sebelumnya 75 kg namun saya tetap harus bekerja dengan rekan penebang kayu. Saya kena disentri lagi dan ditaruh di tempat orang sakit sekitar empat tempat tidur dari Jaffray. Hari lepas hari Jaffray semakin lemah. Perawat laki-laki memerintahkan Presswood dan saya untuk memeriksa apakah Jaffray sudah meninggal. Jaffray kemudian pergi ke rumah Tuhan di tengah malam tanggal 29 Juli 1945, beberapa minggu sebelum perang berakhir. Perawat tidak memanggil saya sampai pagi harinya. Presswood kemudian datang, dan kami berdua menangis di samping tempat tidur hamba Tuhan yang terpilih ini.

Presswood memimpin upacara pemakaman pada pukul 16.00 sore dalam suasana hari yang dingin dan berangin. Sekelompok paduan suara gabungan Katolik dan Protestan menyanyikan lagu “Makin Dekat KepadaMu, Tuhan “ (“Nearer My God to Thee”) dalam harmoni tiga bagian yang diaransir oleh sorang imam, Pastor Does. Nyonya Jaffray dan Margaret tidak tahu kematian orang yang dikasihinya sampai kami semua dibebaskan. Setelah perang berakhir, mayat Jaffray dipindahkan ke tempat yang layak di Makassar, di mana kuburannya masih ada sampai saat ini (catatan penerjemah: di kuburan Kristen Panaikang).

Kebenaran Yesus yang ada dalam Lukas 9:57-62 sangat tepat teraplikasi dalam kehidupan Jaffray. Ketika dia sudah melangkah untuk melayani tidak ada lagi titik balik, baik itu karena masalah rohani maupun fisik. Dia tidak mempunyai tempat untuk membaringkan kepalanya yang menjadi miliknya. Lewat pemeliharaan Tuhan, hanya saya dari empat orang yaitu Jaffray, Deibler, Presswood dan saya yang masih hidup. Lewat pengaruh dari ketiga hamba Tuhan ini, saya kembali ke Indonesia pada bulan Januari 1948 dengan istri dan keluarga sebagai utusan misi C&MA. Seseorang yang mengikuti Tuhan dengan begitu dekat dan penuh dedikasi, sebagaimana yang Jaffray lakukan, adalah seorang yang layak diikuti (1 Kor 11:1).

Mengenal Penulis:
Tahun 1947, F. Randall Whetzel ditugaskan oleh misi C&MA ke Indonesia, di mana dia menjadi Direktur Misi Indonesia dari tahun 1957–1963. Setelah memegang beberapa jabatan dalam bidang bisnis, dia menjadi pengarah aktivitas World Relief di Asia dari tahun 1985–1991 dan kemudian menjadi konsultan dari tahun 1991 sampai pensiun tahun lalu (2008). Dia tinggal di Vancouver, Wash.Kanada

Saturday, May 2, 2009

Gembala dan Tantangan Globalisasi

Oleh Pdt. Dr. Daniel Ronda
(disampaikan pada Retreat Gembala GKII se-Indonesia tanggal 28 April 2009))

Pendahuluan
Globalisasi bukan istilah baru dan semua orang rata-rata sudah memahami maknanya. Seperti diketahui bahwa globalisasi ditandai dengan terjadinya perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Adanya perkembangan barang-barang seperti HP, televisi kabel, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sehingga memungkinkan kita mengetahui dan menikmati banyak hal dari budaya yang berbeda dalam waktu yang singkat tanpa harus pergi ke tempat itu. Hal lainnya dalam globalisasi adalah berkembangnya pasar global dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari perdagangan internasional. Berikutnya adalah akibat dari perkembangan media massa secara mengglobal (terutama televisi, film, musik, berita dan olah raga), saat ini kita menjadi orang yang mengonsumsi dan merasakan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi batas-batas negara dan kebudayaan, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan. Akhirnya, dalam globalisasi memunculkan perasaan dan emosi bersama bersama, serta tanggung jawab bersama atas masalah-masalah sosial misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis bangsa-bangsa, dan bencana alam (bdk. Wikipedia Online s.v. “Globalisasi”).
Dalam konteks gereja, kita sangat cepat mendapatkan informasi tentang pengalaman berbagai gereja di seluruh dunia tanpa harus berkunjung ke daerah itu. Misalnya, munculnya gereja fenomenal yaitu Saddleback Church yang dipimpin oleh Gembala Rick Warren. Gerejanya dengan cepat terkenal dan bukunya yang terkenal yaitu “Purpose Driven Church” dan buku devosi “Purpose Driven Life” telah menjadi best-seller dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Semua orang rindu mengalami yang sama dan mencoba mempelajari buku, serta bahan-bahan lainnya.
Globalisasi pada dasarnya menguntungkan, namun juga meninggalkan banyak tekanan. Tekanan terutama terjadi pada gembala dan pemimpin-pemimpin gereja. Akibat dari arus informasi itu, kita mendapat banyak tekanan. Itu sebabnya dalam makalah ini, saya akan mencoba melihat tantangan sebagai seorang gembala dan bagaimana menghadapi tantangan-tantangan globalisasi.

Tanda Masyarakat Global
Howard A. Snyder dan Daniel V. Runyon mengatakan setidaknya empat tanda masayarakat global (143-153):
1. Teknologi wireless dan digital
Komputerisasi sudah menjadi era yang bukan baru lagi. Namun perkembangan teknologi digital dan wireless sudah begitu mengglobal saat ini, sehingga berdampak pada budaya kuantitas, di mana budaya angka atau jumlah jauh lebih berharga daripada kualitas dan kita mulai tanpa sadar mengevaluasi sesuatu berdasarkan jumlah (kuantitas).
2. Semua kehidupan untuk “Sale”
Dampak dahsyat dari globalisasi adalah semua kehidupan dan budaya sudah diperdagangkan. Perdagangan telah berpindah dari barang-barang industri ke gaya dan budaya. Sebagai contoh, kita mengintip kehidupan pribadi seseorang atau reality show (contoh Termehek-Mehek, Infotaimen, dst.) dengan membayar baik langsung maupun tidak langsung lewat TV. Hal lainnya, pertemanan sudah harus pakai klub, adanya membership fee untuk bersahabat.
3. Kesadaran global dan interkoneksi
Semua mulai menyadari bahwa dirinya sudah bagian dari warga dunia dan tidak lagi hidup dalam isolasi. Ini menguntungkan bagi perkembangan kekristenan sehingga bisa saling membantu.
4. Simbol dan “image” global
Ciri dari masyarakat global adalah berfokus kepada simbol dan “image”, di mana pentingnya nilai dari merek dari apa yang dipakai dan dikendarai. Identitas dan harga diri mulai ditaruh atas simbol yang bernama merek. Budaya kemudaan juga menjadi ciri khas globalisasi, di mana ada kebutuhan untuk terus menjadi muda. Akhirnya berpengaruh pada budaya yang menekankan gaya dengan mengorbankan substansi (Strinati, 257).
Tanda-tanda di atas membawa tekanan yang tidak sedikit kepada seorang gembala di era globalisasi ini.

Tekanan Seorang Gembala Dalam Era Globalisasi
Berdasarkan tanda-tanda masyarakat global di atas, maka pada bagian ini akan dibahas tekanan apakah yang dihadapi seseorang dalam penggembalaan di era yang berubah sangat cepat ini?
1. Gembala tertekan supaya menjadi relevan dalam zaman yang cepat berubah ini, sehingga banyak berita mimbar dikompromikan dan diupayakan tidak berbahaya bagi kehidupan jemaat. Pesan moral menjadi sangat lemah karena tekanan dari masyakarat agar gereja tetap relevan.
2. Ada banyak gereja fenomenal bertumbuh di sekitar kita seperti munculnya pertumbuhan gereja super megah (mega-church), sehingga gembala gereja tertekan dan bertanya “Mengapa gerejaku tidak bertumbuh?”. Dalam tekanan itu, gembala, staf gembala, dan pengurus pergi mengadakan studi banding dan belajar ke gereja yang raksasa itu. Lalu ketika kembali, mereka membawa “visi baru” ke gereja masing-masing. Majelis mulai memakai target kuantitas untuk menekan agar gembala menjadi gembala yang sukses.
3. Munculnya fenomena baru dalam pertumbuhan gereja. Dalam tekanan itu, maka gembala mencoba resep-resep sukses mereka. Mereka mengubah musik gerejanya, model pemuridan, dan pemilihan kurikulum. Jemaat dilatih (mungkin “dipaksa”) untuk mengikuti pelatihan-pelatihan itu.
4. Munculnya banyak organisasi baru yang menawarkan banyak penekanan kegiatan yang membuat gereja merasa “harus” mengikutinya, seperti gerakan Pria Sejati, Wanita Bijak, Marriage Enrichment, Alfa Course, EE, Jaringan Doa Nasional, Haggai Leadership, Perkantas dan banyak organisasi lainnya.
5. Kita dibanjiri literatur berupa buku, CD, DVD, siaran tv Kristen mancanegara dengan munculnya fenomena pengkotbah-pengkotbah TV di mana kita ditekan untuk tidak mengecek latar belakangnya dengan baik. Yang penting kebutuhan dasar terjawab yaitu kesejahteraan materi, kesehatan, nama baik telah menjadi ukuran kekristenan sejati.
6. Pada sisi lain, muncul problem kemiskinan dan ketidakadilan di mana jemaat juga tertekan secara ekonomi akibat dari ketergantungan pasar global dan itu juga merupakan ekses dari globalisasi di samping masalah lingkungan dan masalah keadilan sosial.
Pada akhirnya anggota gereja sudah mulai bergeser dalam memandang gereja. Haddon Robinson berkata: “Sekarang ini terlalu sering orang-orang bersikap bak pelanggan ketika bergabung dengan sebuah gereja. Apabila mereka menyukai produk yang ditawarkan, mereka menetap. Bila tidak, mereka pergi... Di dalam gereja-gereja kita terdapat mentalitas pelanggan” (Di dalam Sider, 178).

Gembala Menghadapi Globalisasi
Tantangan globalisasi seharusnya tidak membuat kita tertekan. Tugas kita adalah kembali kepada zaman apostolik. Ada beberapa ciri zaman apostolik (Kisah Para Rasul) yang harus terus dikembangkan di dalam gereja kita saat ini (Hunter, 29-34):
1. Pendekatan utama pemuridan dan berita sentral gereja adalah dengan Alkitab. Pengajaran Alkitab yang mengajar akan menolong gereja bertumbuh.
2. Memiliki disiplin dan semangat doa dan ada suatu kerinduan akan menanti kuasa Tuhan bekerja.
3. Gereja harus memiliki suatu kerinduan akan jiwa yang terhilang, orang tidak bergereja, dan keluarga yang dekat dengan kita.
4. Fokus kepada Amanat Agung sebagai sesuatu yang istimewa dan kehormatan, dan bukan hanya semacam tugas belaka.
5. Gereja punya visi yang memotivasi jemaat ke mana orang percaya akan dibawa dan jadi apa mereka.
6. Gereja yang tanpa kehilangan substansinya belajar mengadaptasi: bahasa, musik, dan gaya dari budaya modern yang ada.
7. Gereja menyadari betapa pentingnya suatu kelompok kecil (contoh rayon, kelompok, sektor, komsel,dsb.) di terapkan sehingga jemaat terjaga.
8. Gereja melibatkan kaum awam dalam pelayanan gereja di mana mereka bisa melaksanakan pelayanan berdasarkan karunia yang dimilikinya.
9. Adanya perkunjungan pastoral (pastoral care) yang mantap di dalam gereja. Selalu ada percakapan rohani antara jemaat dengan mereka yang Tuhan berikan karunia penggembalaan.
10. Gereja memiliki kontak dengan berbagai cara untuk bertemu dengan orang-orang yang tidak percaya.

Kesimpulan
Gereja tidak terjebak kepada tekanan dari globalisasi, tetapi justru untuk memanfaatkannya untuk kejayaanNya. Kita perlu mengembangkan gereja yang simpel di mana berakar kepada Firman Tuhan adalah kata kunci yang penting. Ketahanan menghadapi globalisasi bukan terjebak kepada peniruan, namun kepada kesetiaan kepada prinsip-prinsip biblika yang sudah diberikan sejak zaman apostolik.

Bibliografi:
George G. Hunter III. Church for the Unchurched. Nashville, USA: Abingdon Press, 1996.
Ronald J. Sider. The Scandal of the Evangelical Conscience (terjemahan). Jawa Timur:
Perkantas, 2007
Howard A. Snyder & Daniel V. Runyon. Decoding the Church. Grand Rapids, Mich.: Baker
Books, 2002.
Dominic Srinati. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Bandung:
Nuansa Cendekia, 2007.