Saturday, February 27, 2010

Belajar dari Bupati Jayawijaya Menangani Masalah Hukum


Daniel Ronda
Di tengah keriangan menyambut tahun baru 2010, umat Kristiani biasanya merayakan ibadah tahun baru. Di sebuah distrik di Pagimo, ada sekelompok kecil komunitas beribadah memasuki tahun 2010. Di tengah ibadah berlangsung tiba-tiba ada sekelompok masa yang menyerang dan memukuli kelompok kecil yang beribadah ini di sebuah TK Kristen. Tidak peduli perempuan dan remaja pun mereka pukuli beramai-ramai. Bahkan kemudian kelompok yang beringas ini sekitar 50an laki-laki membakar TK tempat mereka beribadah. Bahkan mobil dan motor mereka balik dan rusakkan. Menurut kesaksian, kelompok yang diserang ini hanya berdiam diri ketika penyerangan dan penghancuran terjadi.
Berita ini segera menjadi berita besar di kabupaten yang juga dikenal dengan sebutan Lembah Baliem. Tempat yang dingin dan dikenal dengan pariwisatanya seketika menjadi panas dan tegang dengan berita ini. Kelompok yang diserang tentu tidak menerima perlakukan ini dan melaporkan kepada kelompoknya yang besar.  Peristiwa ini lebih didasari dan dimulai dari perpecahan gereja di tingkat sinode yang berimbas ke gereja-gereja lokal yang lebih kecil.
Dalam suasana tegang polisi berhasil menangkap pelaku sebanyak 19 orang. Ada yang ditahan langsung dan ada yang jadi tahanan kota. Pemerintah cukup tegas dan polisi berusaha menegakkan hukum yang berlaku. Ini suatu keberhasilan dalam menegakkan kebenaran di daerah di mana kesadaran hukum bukan masih belum nampak. Tetapi cerita terus berlanjut, di mana kemudian keluarga pihak penyerang yang keluarganya ditangkap melakukan demo hampir setiap hari di kantor pemerintah untuk meminta pembebasan tahanan. Pemerintah tentu pusing menghadapi situasi seperti ini. Apalagi konsep keadilan masyarakat di sana sangat berbeda dengan konsep hukum yang umum dianut di negeri ini. Masyarakat yang terbiasa dengan penyelesaian perang tentu menganggap hal biasa bila itu terjadi. Mereka tidak mau tahu (atau istilah lokal “malas tahu”) dengan prinsip-prinsip hukum yang berlaku. Baginya keadilan diselesaikan dengan perang atau penyerangan. Anda melawan atau lari, itu saja. Menang kalah diselesaikan lewat perang atau kekerasan!
Di tengah konsep hukum yang masih rendah dan ketika berkas perkara hendak dilimpahkan ke kejaksaan, timbul niat dari Bupati untuk menyelesaikan masalah ini dengan lebih arif dan mengambil nilai-nilai budaya setempat. Pihak korban didekati agar mau berdamai dengan pihak penyerang. Atas fasilitasi ini pihak korban bersedia didamaikan, tetapi tetap menuntut ganti rugi. Pihak penyerang tetap keberatan dengan ide ini, namun tetap minta bahkan menuntut agar tahanan dibebaskan. Lalu Bupati meminta kepada pihak korban, kalau mereka menghapuskan saja tuntutan ganti rugi dan malahan mau memberikan maaf dan pengampunan. Usul itu diterima asalkan pihak korban dapat terus berbakti tanpa diganggu. Akhirnya terjadilah kesepakatan damai di antara kedua belah pihak di mana Bupati menjadi fasilitator yang disaksikan oleh semua unsur Muspida. Dan yang menarik pihak korban tidak menuntut apa-apa selain menunjukkan kasih dan pengampunan serta maaf.
Peristiwa damai ini menyentuh hati banyak orang, karena pendekatan ini justru menghasilkan kepuasan di kedua belah pihak dan kedamaian di masyarakat. Ketika kesadaran hukum sangat rendah, maka harus ada nilai lokal yang perlu dipakai dalam penyelesaian masalah.
Tentu hukum harus disosialisasikan sehingga masyarakat bisa melek hukum. Tetapi dalam masyarakat yang penyelesaiannya lewat perang, maka perdamaian adalah juga nilai luhur yang dianut. Maka kearifan Bupati dapat diacungi jempol. Dia adalah pemimpin yang mengerti bahwa bila penyelesaiannya lewat hukum legal formal semata, maka masalah ini tidak akan pernah selesai dan justru akan mempertajam permusuhan. Dan ketika sikap perdamaian dan kerelaan mengampuni diambil, justru kedamaian lebih abadi. Pak Anes (saya singkat saja), teman saya yang merupakan korban, mengatakan bahwa justru sekarang mereka bisa leluasa beribadah bahkan ada yang telah menyesal melakukan hal tersebut.
Kolam Lupa Ingatan
Lain dengan kasus penyerangan, lain dengan penyelesaian masalah pelik lainnya yaitu miras. Masyarakat Papua termasuk di Wamena dikenal sebagai peminum miras dan kemabukan sudah hal yang lazim terlihat di kota-kota. Mereka bukan hanya mabuk, tetapi kemudian dibarengi dengan berbagai kejahatan lainnya seperti pemalakan, penodongan, pencurian dan tindak kriminal lainnya. Masyarakat mengeluh soal yang satu ini di mana pemerintah sepertinya gagal menyelesaikan masalah ini. Bupati tahu persoalan yang meresahkan ini. Dia mencoba menghubungi pihak kepolisian, namun tentu polisi kewalahan karena jumlah personel yang kurang memadai di samping rumah tahanan juga kecil.

Maka Bupati tidak habis akal. Dia membentuk satpol dan memerintahkan menangkap setiap pemabuk yang berkeliaran di kota. Mereka yang ditangkap tidak dibawa ke sel tahanan atau diproses hukum, tetapi dibawa ke kolam dekat kantor bupati. Di sana para satpol memasukkan mereka ke dalam kolam yang dingin sekali bila malam. Siapapun pemabuk tidak akan tahan direndam di air dengan baju terbuka selama beberapa jam. Mereka rata-rata mengaduh dan minta ampun agar dikeluarkan. Tujuannya membuat para pemabuk jera. Maka kolam itu dikenal dengan julukan “kolam lupa ingatan” untuk membuat pemabok kapok.

Sejak razia itu pemabuk yang berkeliaran sudah sangat jauh berkurang. Pemilik toko dan masyarakat senang karena ada rasa aman yang terjadi. Memang belum tuntas, namun Bupati telah mengerti teknik mengatasi tipe permasalahan kemabukan ini. Tidak bisa hanya pendekatan hukum, tetapi membuat jera tanpa harus melanggar HAM.

Kepemimpinan model inilah yang diperlukan bangsa ini yang begitu beragam dari masyarakat yang sudah sangat maju sampai belum sama sekali memahami hukum yang berlaku di negeri ini. Pendekatan kontekstual setempat telah berhasil menyelesaikan begitu banyak masalah, yang tentunya penyosialisasian konsep hukum nasional juga harus terus dijalankan. Bila banyak pemimpin yang seperti ini, tentu akan terselesaikan kasus bangsa ini tanpa harus bertumpu kepada kepemimpinan seseorang di Pusat yang sudah begitu sarat juga dengan masalah.
(Cerita ini saya dapat dari rekan-rekan saya ketika saya di Wamena, 20-22 Februari 2010).

Wednesday, January 27, 2010

Haruskah SBY Defensif Terhadap Kritik


By Daniel Ronda

Boleh dikatakan hampir setiap hari di media kita membaca dan menonton bagaimana presiden SBY dikritik dan dijadikan bulan-bulanan kritik. Tidak ada satupun ucapan dan tindakan presiden yang lolos dari kritikan pengamat, ahli, mahasiswa, dan elemen lainnya. Apapun yang dilakukan presiden tidak akan luput dari kritik. Tidak ada hari tanpa demo. Istilah kasarnya, "Tolol betul presiden kami". Ibu saya pun sempat berkata, “Apa tidak capek ya itu mahasiswa?, Kapan dia belajar?” Sampai-sampai sopir dan tukang becak pun jenuh melihat demo dan kritikan di jalan-jalan yang membuat mereka semakin susah cari hidup.

Secara emosional orang yang sehat secara mental pun tidak akan menikmati serangan berupa kritik. Dan harus jujur dikatakan bahwa kata-kata kritik saat ini jauh lebih menyengat dan pedas, dibandingkan pada waktu kepemimpinan dulu era Suharto. Jika dulu di zaman Orba masih memakai sindiran dan karikatur, maka sekarang sudah langsung menyerang dan menyebut kesalahannya secara menyengat. Saya percaya dengan ucapan mentor saya yang mengatakan semakin besar dan tinggi tanggung jawab yang diberikan, maka semakin besar pula kita akan menjadi target serangan. Bahkan ada pepatah Melayu yang mengatakan, “semakin tinggi seekor monyet naik ke pohon, semakin kelihatan pantatnya yang jelek.” Artinya, memang pemimpin sudah ditakdirkan untuk dikritik dan kelemahan-kelemahan pemimpin semakin tampak bila dia di atas. Dan pada saat seperti ini, kita membutuhkan nasehat-nasehat.

Seorang bijak mengingatkan, bila dikaji kritik lebih dalam lagi maka sebenarnya jauh di dalam kritik itu selalu ada mutiara kebenaran di dalamnya. Jadi daripada fokuskan energi kepada bagaimana menghadapi kritikan dan bagaimana memberikan perlawanan atau serangan balik terhadap kritik, sebaiknya pemimpin memfokuskan energi kepada apa mutiara yang ada di balik kritik itu. Orang bijak ini mengingatkan bahwa kita akan bisa bertumbuh di dalam kritik dan tidak ada gunanya bersikap defensif terhadap kritik. Apalagi kemudian bila pengkritik itu ditanggapi, malahan menarik orang untuk terus melakukan serangan yang tiada henti.

Prinsip yang penting adalah terus bertahan untuk mempelajari apa mutiara kebenaran dari kritikan itu.  Dan kritik itu akan semakin berkurang bila kita terus belajar untuk hidup lurus, lebih reflektif dalam menerima kritik, mampu menahan diri, dan mempertunjukkan kebijakan sebagai pemimpin.
Teknik mencari mutiara dalam kritik ini adalah pelajaran yang paling berat dalam kepemimpinan, karena adanya masalah memori masa lalu, ego, kecurigaan motif dan kompleksitas lainnya yang ada pada diri pemimpin dan konteksnya. Ini pelajaran yang paling sukar bagi “pelajaran kepemimpinan”. Tetapi ini adalah disiplin ilmu yang biasa dipelajari dan dikuasai oleh seorang pemimpin.

Contoh praktis, setiap pagi di koran dan TV pasti saja ada berita dan kritik yang muncul. Dan selalu saja dimasukkan kritik-kritik yang tajam, pedas,  dan menyengat bagi telinga pemimpin.  Di sini pemimpin pertama-tama harus belajar menahan diri untuk tidak menelpon pemimpin perusahaan koran atau pemilik stasiun TV yang mengkritik dengan pedas. Tahan diri secara emosional. Lalu belajar untuk merenungkan mutiara apa yang ada di balik kritik itu! Ini perlu latihan.

Kemudian, bila kritik itu terus dan tiada ada jedanya, maka pemimpin yang baik akan mengudang orang-orang kunci dalam kepemimpinannya untuk mendiskusikan kritik yang bermunculan di media. Kita harus tegas mengatakan bahwa seringkali media bias dan kerap kali tidak menunggu keseimbangan berita. Yang penting luncurkan berita dulu, entah benar atau tidak, sehingga terjadi kontroversi, dan setelah itu baru dibuatkan hak jawab. Jadi seperti drama sinetron berkelanjutan di mana ada perang pernyataan. Media pasti sangat senang dengan hal ini.  Memang inilah keanehan media era baru yang perlu dicermati pemimpin. Siapapun bisa jadi korban kontroversi ini.  Walaupun media tidak terlalu benar, setidaknya dalam diskusi antar pemimpin kunci itu kritik selalu dibahas, yaitu pelajaran  apa yang bisa diambil dari kritik ini.  Mungkin dalam diskusi itu kita akan berkata, berita ini tidak benar, tetapi ada porsi di mana berita itu ada benarnya. Inilah tugas pemimpin untuk menemukan dan mendiskusikannya. Diskusi seperti ini akan menyembuhkan secara emosional hati pemimpin dan kepemimpinan secara kolektif. Dan bila terus ini dilakukan maka bangsa ini akan menikmati ketenangan, rasa aman dan bangkit maju karena ada energi kata-kata yang membangun dari pemimpinnya.


Sudah bukan waktunya menanggapi dan melawan kritik, tetapi menjadikan kritik sebagai bahan diskusi dan mengolahnya  untuk menemukan kebenaran yang akan memperbaiki keadaan bangsa ini.
Ini merupakan seri kedua: Seni Pemimpin Menghadapi Kritik (2)

Wednesday, January 20, 2010

Jangan Ganggu SBY: Seni Menghadapi Kritik

By Daniel Ronda

Saya sering mendapat info kalau lagi santai duduk dengan teman-teman dan entah dari mana dapat info teman menceritakan tentang kemungkinan adanya pemakzulan SBY dan kemungkinan untuk menggantikannya. Ini akibat skandal Century, katanya. Entah ini benar atau tidak, tetapi saya adalah orang yang tidak setuju dengan pandangan ini. Bagi saya biarkan SBY menyelesaikan tugas kepresidenannya. Itu penting untuk bangsa ini.

Memang masalah kepemimpinan adalah sudah menjadi urusan semua orang (a leadership is a people business). Dari mulai elit politik di Jakarta dan daerah, para pengusaha, pelajar dan mahasiswa, ibu rumah tangga dan sampai buruh serta tukang becak, semuanya kalau lagi santai atau ada kesempatan pasti memberikan penilaian kepada pemimpinnya. Kebanyakan yang dibahas bukan prestasinya, tetapi kelemahannya. Ada juga ada yang memberi opini, walaupun tidak tahu seluruhnya dan mungkin hanya mendengar gosip, atau mendengar sepotong-potong dari media, bahkan ada yang tidak jujur dalam menilai pemimpinnya. Tidak peduli benar atau tidak, yang penting mengkritik enak di telinga. Dan seringkali kebanyakan orang yang suka mengkritik merasa pemimpinnya salah dan dialah yang paling benar dan paling mampu memperbaikinya.

Umumnya yang dikritik dari pemimpin adalah motif dari pemimpin dan menebak apa arti keputusannya. Jadi setiap mengambil keputusan, pasti dikritik motifnya dan juga umumnya menebak-nebak apa makna keputusan itu dengan kecurigaan. Misalnya, apakah motifnya dalam keputusan yang dikeluarkan akan menguntungkan dirinya, keluarganya, atau kelompoknya. Selalu diupayakan ada kaitannya walaupun dipaksakan logikanya. Jadi amat mustahil bagi pemimpin untuk tidak dikritik apapun keputusannya.

Lebih lanjut lagi, pemimpin mulai dikritik secara tidak adil (fair) dan banyak kemudian pengritik mulai memberikan kritik secara keras bahkan merendahkan (abuse) pemimpin dengan kata-katanya. Ini sering terlihat betapa kasarnya omongan seorang pengamat terhadap pemimpinnya dan bahkan belum mendapat data akurat sudah berani memberikan kesimpulan. Urusan resiko dan kebenaran adalah belakangan, yang penting dilempar dulu kritiknya.

Pada sisi lain, banyak kali pemimpin menyerah dengan kritikan ini dan mulai meladeni kritikan itu. Mungkin karena hatinya sudah mulai dikeraskan, maka sikapnya berubah dari lembut menjadi skeptis dan sinis. Masalahnya adalah bila pemimpin mulai fokus kepada meladeni persoalan, maka perhatian masyarakat mulai juga terbawa dengan masalah ini. Akhirnya perhatian ini menyita waktu karena ada saling kirim kritik dan membela diri dan seterusnya. Ketika masyarakat mulai fokus kepada sisi negatif kepemimpinan, maka pemimpin pun mulai kehilangan semangat dan optimisme yang ada pada dirinya. Dan ketika pemimpin mengkritik orang lain dan lawan politiknya, maka pemimpin itu sendiri mulai memberi contoh bagi masyarakat untuk melakukan hal yang sama. Akan ada spirit untuk mengkiritk di masyarakat karena pemimpinnya juga memberi contoh mengkritik. Ingat prinsip praktik kepemimpinan “modeling the way”-nya Kouzes dan Posner. Dan ketika pemimpin mulai kehilangan kepercayaan terhadap elit kepemimpinan di sekitarnya, maka potensi kepemimpinan bangsa akan mengalami stagnasi. Ini kesalahan pemimpin karena terlalu termakan kritik. Itu sebabnya suatu prinsip kepemimpinan adalah untuk tidak terjebak meresponi mereka yang punya semangat mengkiritik saja yaitu mereka yang tidak jujur dengan prinsip kritik itu sendiri. Di mana kritik itu seharusnya diarahkan kepada program pemimpin bukan kepada pemimpin secara personal.

Pemimpin besar seharusnya berfokus kepada hal-hal positif dari bangsa dan memberikan harapan kepada bangsa ini yang sedang mengalami banyak masalah, terutama kemiskinan dan ketidakadilan. Pemimpin tidak boleh berfokus kepada hal-hal negatif. Yang ditakutkan bila pemimpin menyerah kepada kritikan, pemimpin akan mulai melihat masa depan kepemimpinannya menjadi gelap. Dan pemimpin sendiri mulai sinis apakah saya bisa selesaikan masa kepemimpinannya. Apalagi kemudian terjadi “pengkhianatan-pengkhianatan” dari koalisi yang sudah dibentuknya, maka pemimpin mulai meragukan integritas dan kejujurannya orang-orang di sekitarnya. Ketika ada serangan bertubi-tubi di sektor moneter misalnya, seperti yang terjadi saat ini, maka pemimpin yang termakan kritik akan tidak berani mengambil keputusan lagi bila ada krisis global lagi. Ini yang menakutkan bagi saya, bila pemimpin mulai termakan kritik yang tiada henti. Yang ditakutkan lagi, ungkapan bahasa Indonesia “guru adalah pengalaman terbaik” justru pengalaman pahit dikritik menghasilkan pemimpin sinis.

Itu sebabnya pemimpin harus segera mengoreksi sikap dalam meladeni kritik. Daripada terjebak membalas dengan sikap defensif dan membela diri, maka fokus kepada hal-hal yang harus segera dikerjakan. Jangan sampai pemimpin teracuni sehingga menjadi tidak efektif memimpin bahkan menghadapi masalah kesehatan seperti insomnia dan penyakit lainnya. Pemimpin besar mesti menjaga sikapnya terhadap berbagai terpaan kritik. Terlalu banyak alasan bagi pemimpin bangsa ini untuk terus bersikap positif dan membagikan harapan yang optimis bagi masa depan bangsa Indonesia. Pemimpin sudah dipilih oleh rakyat selalu ingat juga prinsip “vox populi vox dei” dan jangan diplesetkan dalam sebuah T-Shirt menjadi “fox populi, fox idiotum”, di mana rakyat dianggap sebagai sekumpulan orang idiot! Maju terus bung!

Tuesday, January 19, 2010

PENGUMUMAN

Ada perubahan sedikit alamat STT Jaffray. STT Jaffray tidak akan memakai alamat P.O. Box 1054 lagi. Alamat yang lengkap dari STT Jaffray tetap, tetapi tanpa PO Box:


Jl. G. Merapi No. 103

Makassar, 90114 Sulawesi Selatan

Indonesia

Terima kasih atas perhatiannya.

Monday, January 18, 2010

Membangun Wibawa Kepemimpinan

By Daniel Ronda

Catatan: Artikel ini saya pernah bawakan dalam bentuk kuliah di Radio RRI Makassar, tanggal 18 Januari 2010, pukul 10.00-11.00. Kuliah ini diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah IX Sulawesi.

Mengapa Boediono dan mantan presiden JK diperlakukan “beda” di kasus panitia angket Century? JK dipanggil Bapak dan ada rasa hormat dengan beliau, kalaupun ada yang panggil dengan sebutan daerah, pasti tidak bermaksud menghina, walau aneh terdengar di telinga. Sedangkan wapres kita kok sepertinya tidak dihargai? Dan sepertinya dicecar banyak sekali pertanyaan dan rasa bahasa yang terbaca di TV, sepertinya Pak Boediono “dibantai” oleh DPR. Begitu pula perlakuan terhadap Sri Mulyani dan pejabat lainnya.

Pertanyaan ini saya tidak jawab secara politik, karena memang bukan bidang saya. Saya hanya memfokuskan kepada wibawa. Refleksi kepemimpinan yang muncul waktu melihat tayangan Pansus Century DPR adalah darimana pemimpin mendapat wibawa? Banyak juga yang menyebutkan wibawa dengan istilah lain seperti kharisma, pengaruh, dan otoritas.

Tentu, ada banyak definisi kepemimpinan, ada ratusan. Namun salah satu definisi John Maxwell mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh (leaderhsip is influence). Tetapi dari mana datang kekuatan untuk bisa mempengaruhi orang lain? Banyak teori kepemimpinan mengkaji akan hal ini. Saya hanya mengambil salah satu teori, di mana ada lima level pemimpin mendapatkan wibawanya. Maxwell menyebut tentang adanya lima level kepemimpinan (lihat Developing the Leader Within You)

Pertama, wibawa datang dari posisi yang diterimanya (leadership by position). Posisi ini bisa berupa penempatan atau pemberian jabatan dari pimpinan atau terpilih menjadi anggota Dewan, dan seterusnya. Posisi ini juga didapat karena pendidikan yang diterimanya atau keahlian kerja yang telah dimilikinya. Jadi posisi seseorang dapat membuat dia memiliki wibawa. Namun ini baru wibawa awal, karena banyak juga bawahan dan komunitas menentang posisi kita. Mereka tidak bersedia dipimpin kalau tidak kompeten. Jadi wibawa karena posisi masih lemah atau lebih tepatnya baru awal dari wibawa. Contohnya, perilaku anggota DPR menunjukkan bahwa posisi Sri Mulyani dan posisi Boediono, serta berbagai pejabat yang datang ke DPR tidak menakutkan mereka, bahkan kadangkala berlaku, maaf, sangat tidak sopan.

Kedua, wibawa diperoleh karena bawahan atau pengikut dari satu organisasi mau dipimpin atau memilih saudara sebagai pemimpin (leadership by permission). Itu didapat lewat relasi yang baik antara pemimpin dengan rekan-rekannya, karyawannya atau masyarakat yang memilihnya bila dia anggota Dewan. Ketika pengikut merasa bahwa kita adalah orang yang tepat di posisi itu dan mereka mau bekerja untuk kita, maka itulah yang menghasilkan wibawa. Pada level ini pemimpin diharapkan mengembangkan relasi dan kehumasan dengan baik. Bentuk pecitraan diri juga baik, namun kemampuan berelasi jauh akan menambah wibawa pemimpin. Namun ini masih belum cukup hanya karena bawahan mulai menerima kepemimpinan.

Ketiga, wibawa akan meningkat karena ada hasil yang terlihat setelah seseorang memegang posisi yang diberikan (leadership by production). Misalnya kalau ditempatkan menjadi pimpinan dalam penjualan, maka hasil penjualan meningkat, omset bertambah, mutu bertambah baik dan ada hasil lainnya, maka wibawa akan meningkat. Umumnya pemimpin yang sukses memimpin dengan menunjukkan hasilnya akan diundang ke berbagai acara untuk menceritakan keberhasilannya, apalagi disertai dengan liputan media yang besar. People are driven by success, begitu kata pepatah. Jadi wibawa didapat ketika seseorang diakui keberhasilan dan pencapaiannya.

Keempat, pemimpin mendapat wibawa dengan orang-orang yang dikembangkannya (leadership by people developpment). Kepemimpinan itu sejalan dengan waktu, dan wibawa akan terus bertambah jika pemimpin berhasil mengembangkan orang lain di bawahnya untuk menjadi pemimpin sesuai dengan bakatnya.

Kelima, wibawa pemimpin didapat karena pengembangan dirinya lewat integritasnya (leadership by personhood). Sejalan dengan waktu maka pemimpin harus terus memelihara karakternya, relasinya, dan integritasnya. Pada awalnya mungkin semua prinsip etika dan moral masih dalam bentuk pencarian, namun akhirnya semua itu akan nampak lewat kepribadiannya sendiri yang otentik, bukan dalam bentuk slogan lagi. Dan ini membuat orang memiliki kharismanya dan akan terus bersinar. Proses ini adalah proses yang panjang dalam kehidupan pemimpin dan tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Robert Clinton menyebut sebagai proses seumur hidup di dalam “university of life”.

Bila kita telah memahami lima level kepemimpinan ini, maka setiap kita harus memberikan refleksi pribadi. Pertama, kita harus memaksimalkan potensi yang ada pada kita sehingga menjadi kompetensi. Kedua, kita harus memiliki kemampuan menjalin relasi dengan sesama karena kepemimpinan adalah relasi. Ketiga, kita harus memiliki karakter yang baik, budi pekerti luhur dalam kata dan perbuatan.

Apakah ada sumbangan blogger lainnya soal wibawa kepemimpinan? Mohon sumbang saran. Thanks in advance!