Saturday, February 27, 2010
Belajar dari Bupati Jayawijaya Menangani Masalah Hukum
Wednesday, January 27, 2010
Haruskah SBY Defensif Terhadap Kritik
Wednesday, January 20, 2010
Jangan Ganggu SBY: Seni Menghadapi Kritik
By Daniel Ronda
Saya sering mendapat info kalau lagi santai duduk dengan teman-teman dan entah dari mana dapat info teman menceritakan tentang kemungkinan adanya pemakzulan SBY dan kemungkinan untuk menggantikannya. Ini akibat skandal Century, katanya. Entah ini benar atau tidak, tetapi saya adalah orang yang tidak setuju dengan pandangan ini. Bagi saya biarkan SBY menyelesaikan tugas kepresidenannya. Itu penting untuk bangsa ini.
Memang masalah kepemimpinan adalah sudah menjadi urusan semua orang (a leadership is a people business). Dari mulai elit politik di Jakarta dan daerah, para pengusaha, pelajar dan mahasiswa, ibu rumah tangga dan sampai buruh serta tukang becak, semuanya kalau lagi santai atau ada kesempatan pasti memberikan penilaian kepada pemimpinnya. Kebanyakan yang dibahas bukan prestasinya, tetapi kelemahannya. Ada juga ada yang memberi opini, walaupun tidak tahu seluruhnya dan mungkin hanya mendengar gosip, atau mendengar sepotong-potong dari media, bahkan ada yang tidak jujur dalam menilai pemimpinnya. Tidak peduli benar atau tidak, yang penting mengkritik enak di telinga. Dan seringkali kebanyakan orang yang suka mengkritik merasa pemimpinnya salah dan dialah yang paling benar dan paling mampu memperbaikinya.
Umumnya yang dikritik dari pemimpin adalah motif dari pemimpin dan menebak apa arti keputusannya. Jadi setiap mengambil keputusan, pasti dikritik motifnya dan juga umumnya menebak-nebak apa makna keputusan itu dengan kecurigaan. Misalnya, apakah motifnya dalam keputusan yang dikeluarkan akan menguntungkan dirinya, keluarganya, atau kelompoknya. Selalu diupayakan ada kaitannya walaupun dipaksakan logikanya. Jadi amat mustahil bagi pemimpin untuk tidak dikritik apapun keputusannya.
Lebih lanjut lagi, pemimpin mulai dikritik secara tidak adil (fair) dan banyak kemudian pengritik mulai memberikan kritik secara keras bahkan merendahkan (abuse) pemimpin dengan kata-katanya. Ini sering terlihat betapa kasarnya omongan seorang pengamat terhadap pemimpinnya dan bahkan belum mendapat data akurat sudah berani memberikan kesimpulan. Urusan resiko dan kebenaran adalah belakangan, yang penting dilempar dulu kritiknya.
Pada sisi lain, banyak kali pemimpin menyerah dengan kritikan ini dan mulai meladeni kritikan itu. Mungkin karena hatinya sudah mulai dikeraskan, maka sikapnya berubah dari lembut menjadi skeptis dan sinis. Masalahnya adalah bila pemimpin mulai fokus kepada meladeni persoalan, maka perhatian masyarakat mulai juga terbawa dengan masalah ini. Akhirnya perhatian ini menyita waktu karena ada saling kirim kritik dan membela diri dan seterusnya. Ketika masyarakat mulai fokus kepada sisi negatif kepemimpinan, maka pemimpin pun mulai kehilangan semangat dan optimisme yang ada pada dirinya. Dan ketika pemimpin mengkritik orang lain dan lawan politiknya, maka pemimpin itu sendiri mulai memberi contoh bagi masyarakat untuk melakukan hal yang sama. Akan ada spirit untuk mengkiritk di masyarakat karena pemimpinnya juga memberi contoh mengkritik. Ingat prinsip praktik kepemimpinan “modeling the way”-nya Kouzes dan Posner. Dan ketika pemimpin mulai kehilangan kepercayaan terhadap elit kepemimpinan di sekitarnya, maka potensi kepemimpinan bangsa akan mengalami stagnasi. Ini kesalahan pemimpin karena terlalu termakan kritik. Itu sebabnya suatu prinsip kepemimpinan adalah untuk tidak terjebak meresponi mereka yang punya semangat mengkiritik saja yaitu mereka yang tidak jujur dengan prinsip kritik itu sendiri. Di mana kritik itu seharusnya diarahkan kepada program pemimpin bukan kepada pemimpin secara personal.
Pemimpin besar seharusnya berfokus kepada hal-hal positif dari bangsa dan memberikan harapan kepada bangsa ini yang sedang mengalami banyak masalah, terutama kemiskinan dan ketidakadilan. Pemimpin tidak boleh berfokus kepada hal-hal negatif. Yang ditakutkan bila pemimpin menyerah kepada kritikan, pemimpin akan mulai melihat masa depan kepemimpinannya menjadi gelap. Dan pemimpin sendiri mulai sinis apakah saya bisa selesaikan masa kepemimpinannya. Apalagi kemudian terjadi “pengkhianatan-pengkhianatan” dari koalisi yang sudah dibentuknya, maka pemimpin mulai meragukan integritas dan kejujurannya orang-orang di sekitarnya. Ketika ada serangan bertubi-tubi di sektor moneter misalnya, seperti yang terjadi saat ini, maka pemimpin yang termakan kritik akan tidak berani mengambil keputusan lagi bila ada krisis global lagi. Ini yang menakutkan bagi saya, bila pemimpin mulai termakan kritik yang tiada henti. Yang ditakutkan lagi, ungkapan bahasa Indonesia “guru adalah pengalaman terbaik” justru pengalaman pahit dikritik menghasilkan pemimpin sinis.
Itu sebabnya pemimpin harus segera mengoreksi sikap dalam meladeni kritik. Daripada terjebak membalas dengan sikap defensif dan membela diri, maka fokus kepada hal-hal yang harus segera dikerjakan. Jangan sampai pemimpin teracuni sehingga menjadi tidak efektif memimpin bahkan menghadapi masalah kesehatan seperti insomnia dan penyakit lainnya. Pemimpin besar mesti menjaga sikapnya terhadap berbagai terpaan kritik. Terlalu banyak alasan bagi pemimpin bangsa ini untuk terus bersikap positif dan membagikan harapan yang optimis bagi masa depan bangsa Indonesia. Pemimpin sudah dipilih oleh rakyat selalu ingat juga prinsip “vox populi vox dei” dan jangan diplesetkan dalam sebuah T-Shirt menjadi “fox populi, fox idiotum”, di mana rakyat dianggap sebagai sekumpulan orang idiot! Maju terus bung!
Tuesday, January 19, 2010
PENGUMUMAN
Jl. G. Merapi No. 103
Makassar, 90114 Sulawesi Selatan
Indonesia
Monday, January 18, 2010
Membangun Wibawa Kepemimpinan
Catatan: Artikel ini saya pernah bawakan dalam bentuk kuliah di Radio RRI Makassar, tanggal 18 Januari 2010, pukul 10.00-11.00. Kuliah ini diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah IX Sulawesi.
Mengapa Boediono dan mantan presiden JK diperlakukan “beda” di kasus panitia angket Century? JK dipanggil Bapak dan ada rasa hormat dengan beliau, kalaupun ada yang panggil dengan sebutan daerah, pasti tidak bermaksud menghina, walau aneh terdengar di telinga. Sedangkan wapres kita kok sepertinya tidak dihargai? Dan sepertinya dicecar banyak sekali pertanyaan dan rasa bahasa yang terbaca di TV, sepertinya Pak Boediono “dibantai” oleh DPR. Begitu pula perlakuan terhadap Sri Mulyani dan pejabat lainnya.
Tentu, ada banyak definisi kepemimpinan, ada ratusan. Namun salah satu definisi John Maxwell mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh (leaderhsip is influence). Tetapi dari mana datang kekuatan untuk bisa mempengaruhi orang lain? Banyak teori kepemimpinan mengkaji akan hal ini. Saya hanya mengambil salah satu teori, di mana ada lima level pemimpin mendapatkan wibawanya. Maxwell menyebut tentang adanya lima level kepemimpinan (lihat Developing the Leader Within You)
Pertama, wibawa datang dari posisi yang diterimanya (leadership by position). Posisi ini bisa berupa penempatan atau pemberian jabatan dari pimpinan atau terpilih menjadi anggota Dewan, dan seterusnya. Posisi ini juga didapat karena pendidikan yang diterimanya atau keahlian kerja yang telah dimilikinya. Jadi posisi seseorang dapat membuat dia memiliki wibawa. Namun ini baru wibawa awal, karena banyak juga bawahan dan komunitas menentang posisi kita. Mereka tidak bersedia dipimpin kalau tidak kompeten. Jadi wibawa karena posisi masih lemah atau lebih tepatnya baru awal dari wibawa. Contohnya, perilaku anggota DPR menunjukkan bahwa posisi Sri Mulyani dan posisi Boediono, serta berbagai pejabat yang datang ke DPR tidak menakutkan mereka, bahkan kadangkala berlaku, maaf, sangat tidak sopan.
Kedua, wibawa diperoleh karena bawahan atau pengikut dari satu organisasi mau dipimpin atau memilih saudara sebagai pemimpin (leadership by permission). Itu didapat lewat relasi yang baik antara pemimpin dengan rekan-rekannya, karyawannya atau masyarakat yang memilihnya bila dia anggota Dewan. Ketika pengikut merasa bahwa kita adalah orang yang tepat di posisi itu dan mereka mau bekerja untuk kita, maka itulah yang menghasilkan wibawa. Pada level ini pemimpin diharapkan mengembangkan relasi dan kehumasan dengan baik. Bentuk pecitraan diri juga baik, namun kemampuan berelasi jauh akan menambah wibawa pemimpin. Namun ini masih belum cukup hanya karena bawahan mulai menerima kepemimpinan.
Ketiga, wibawa akan meningkat karena ada hasil yang terlihat setelah seseorang memegang posisi yang diberikan (leadership by production). Misalnya kalau ditempatkan menjadi pimpinan dalam penjualan, maka hasil penjualan meningkat, omset bertambah, mutu bertambah baik dan ada hasil lainnya, maka wibawa akan meningkat. Umumnya pemimpin yang sukses memimpin dengan menunjukkan hasilnya akan diundang ke berbagai acara untuk menceritakan keberhasilannya, apalagi disertai dengan liputan media yang besar. “People are driven by success”, begitu kata pepatah. Jadi wibawa didapat ketika seseorang diakui keberhasilan dan pencapaiannya.
Keempat, pemimpin mendapat wibawa dengan orang-orang yang dikembangkannya (leadership by people developpment). Kepemimpinan itu sejalan dengan waktu, dan wibawa akan terus bertambah jika pemimpin berhasil mengembangkan orang lain di bawahnya untuk menjadi pemimpin sesuai dengan bakatnya.
Kelima, wibawa pemimpin didapat karena pengembangan dirinya lewat integritasnya (leadership by personhood). Sejalan dengan waktu maka pemimpin harus terus memelihara karakternya, relasinya, dan integritasnya. Pada awalnya mungkin semua prinsip etika dan moral masih dalam bentuk pencarian, namun akhirnya semua itu akan nampak lewat kepribadiannya sendiri yang otentik, bukan dalam bentuk slogan lagi. Dan ini membuat orang memiliki kharismanya dan akan terus bersinar. Proses ini adalah proses yang panjang dalam kehidupan pemimpin dan tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Robert Clinton menyebut sebagai proses seumur hidup di dalam “university of life”.
Bila kita telah memahami lima level kepemimpinan ini, maka setiap kita harus memberikan refleksi pribadi. Pertama, kita harus memaksimalkan potensi yang ada pada kita sehingga menjadi kompetensi. Kedua, kita harus memiliki kemampuan menjalin relasi dengan sesama karena kepemimpinan adalah relasi. Ketiga, kita harus memiliki karakter yang baik, budi pekerti luhur dalam kata dan perbuatan.
Apakah ada sumbangan blogger lainnya soal wibawa kepemimpinan? Mohon sumbang saran. Thanks in advance!