Oleh Daniel Ronda
Banyak gereja mengeluh kesulitan mendapatkan pemimpin untuk menjadi gembala di gereja mereka. Tamatan sarjana Alkitab atau Teologi banyak, tetapi mendapatkan pemimpin rohani sangat sulit. Tentu mencari akar penyebabnya tidak mudah. Namun banyak yang menunjuk “pabrik”nya yaitu sekolah teologi. Sekolah teologi atau seminari sering dijadikan sasaran atau kambing hitam atas kesulitan mendapatkan pemimpin rohani. Pada satu sisi mungkin saja benar di mana pembinaan di sekolah teologi hanya berfokus kepada persoalan intelektual belaka dan tidak melakukan pendidikan yang sungguh-sungguh mengikuti teladan yang Yesus berikan secara nyata. Masalahnya bagaimana menciptakan pemimpin rohani? Sekolah teologi bukan satu-satunya yang harus ditimpakan kesalahan. Namun semua fihak bertanggung jawab, dalam hal ini diri pribadi pemimpin orang itu, gereja di mana dia menjadi anggota dan mengutusnya, dan juga tentunya sekolah teologi. Bila pemimpin itu sendiri tidak mau dibentuk oleh Kristus dan Firman, maka sulit bagi kita untuk mendapatkan kualitas pemimpin rohani yang diharapkan. Gereja juga bertanggung jawab melakukan pembinaan dan melatih dalam melayani dan tidak memberikan rekomendasi bila calon ini masih diragukan komitmen pelayanannya. Dan akhirnya sekolah teologi bertanggung jawab membentuk calon pemimpin secara menyeluruh dan bukan hanya intelektualnya saja belajar tentang Tuhan.
Namun pemimpin rohani itu sebenarnya seperti apa? Tentu jawabannya kompleks dan banyak. Namun khusus dalam bagian ini penulis akan memaparkan secara singkat lima prinsip pemimpin yang rohani dan yang harus dihidupi pemimpin. Ini ditulis oleh Chris Larson, di mana menurut penulis kelima prinsip pemimpin rohani ini terinspirasidari kehidupan seorang tokoh hamba Tuhan yang sangat dikenal di dunia yaitu Dr. John MacArthur (teolog, pengkotbah dari tradisi Reformed Injili). Kelima prinsip pemimpin rohani itu adalah:*
1. Pemimpin rohani adalah orang yang memimpin dan menuntun kehidupan orang lain dengan Firman Tuhan, yaitu yang menjadikan Alkitab adalah Firman Tuhan. Dia menolak bentuk-bentuk kepemimpinan yang memakai berbagai bentuk tekanan dan pengaruh yang bukan dari Firman Tuhan. Dia tidak memakai cara kasar dan kotor untuk memimpin. Perhatiannya adalah mengajarkan Firman Tuhan secara akurat, dan memperlihatkan kehidupan yang tunduk kepada otoritas Firman Tuhan.
2. Pemimpin rohani menginspirsasikan kasih sayang kepada orang yang dipimpinnya karena mereka belajar Kristus dari sang pemimpin dan melihat Kristus di dalam pemimpinnya. Mereka mengikuti dia karena dia mengikuti Kristus. Dan mereka mengasihi dia karena dia mengasihi mereka di dalam Kristus. Rasul Paulus menyimpulkan roh dari pemimpin yang benar ketika dia menulis, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus (1 Kor 11:1). Versi NKJV mengatakan: “Imitate me, just as I also imitate Christ”. Di sini Paulus sebagai pemimpin minta pengikutnya meniru dia sebagaimana dia meniru Kristus. Dan jangan pernah ragu akan apa yang Firman Tuhan katakan untuk ditiru. Banyak bagian Alkitab menjadikan Kristus sebagai teladan untuk diikuti, di mana penekanannya kepada kerendahan hati.
3. Pemimpin rohani siap menjadi pemimpin yang tidak populer. Dari sejak raja Israel yaitu Ahab yang menuduh Elia dengan mengatakan: "Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?", membuktikan bahwa kesetiaan kepada Firman Tuhan seperti Elia tidak akan membawa popularitas bagi mayoritas pengikut.Dr. MacArthur secara jelas mengatakan, ‘You cannot be faithful and popular, so take your pick (Kamu tidak bisa bersamaan setia dan populer, pilihlah).’ Pencarian terhadap popularitas adalah sesuatu yang bersifat jangka pendek dan tidak berusia lama. Sukses itu bukan kekayaan, kuasa, kemapanan, popularitas, dan semua hal yang dunia sebutkan tentang sukses. Sukses sejati adalah melakukan kehendak Allah walaupun ada harga yang harus dibayar.
4. Pemimpin rohani harus bangkit dan memiliki kesadaran akan adanya bahaya zaman. Tidak semua pemimpin Kristen memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami zaman seperti yang diberikan kepada Bani Isakhar. Firman Tuhan berkata: “Dari bani Isakhar orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik (understanding of the times), sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat orang Israel” (1 Taw 12:32). Ada dalam periode sejarah gereja di mana pemimpin melakukan kesalahan serius dalam bagaimana Kristus diberitakan. Ada juga tanda-tanda zaman yang salah dibaca, sehingga melahirkan pemimpin yang keliru dalam memahami akhir zaman ini. Ada pula pemimpin yang membiarkan pengajarannya menjadi sangat sekuler dan mengikuti prinsip-prinsip dunia dengan alasan mengikuti tren zaman. Pemimpin rohani yang sejati akan bangkit memberikan tuntunan yang Allah berikan.
5. Pemimpin rohani tidak akan menuntun pengikutnya untuk fokus kepada dirinya sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin, dia sendiri secara pribadi berhutang segalanya kepada Kristus. Sebagai seorang berdosa, dia melihat ada suatu kebutuhan untuk hidup dalam roh pertobatan dalam seluruh kehidupannya. Dia menyadari ada jarak dan kontras apa yang ada dalam dirinya dan berita yang dikotbahkannya. Itu sebabnya pemimpin harus menyadari bahwa kalaupun dia berhasil, itu karena Tuhan. Paulus berkata: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami “ (2 Kor 4:7). Terpilihnya seseorang menjadi pemimpin, itu karena Allah memilih kita dan itu semata-mata atas dasar kedaulatan-Nya dalam memilih, sehingga Dialah yang harus menerima hormat dan kemuliaan. Dia memilih kita yang lemah sehingga tidak ada pemimpin yang bisa membanggakan diri, tetapi membanggakan Tuhan, di mana kita adalah hanya alatNya.
Akhirnya, pemimpin rohani yang sejati adalah mereka yang memimpin orang lain dengan satu filosofi dasar dalam kepemimpinannya: “Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” (Maz 115:1). Kiranya lewat lima prinsip ini akan lahir pemimpin rohani sejati yang dapat sangat dirindukan gereja masa kini.
*Bagian ini disadur dari “5 Principles for Evangelical Leadership” oleh Chris Larson diambil di http://www.ligonier.org/blog/5-principles-evangelical-leadership/, diakses tanggal 6 Agustus 2011.
Sunday, August 7, 2011
Monday, May 23, 2011
Kisah Tersisa dari Pemilihan Ketua Umum GKII di Samarinda
Di dalam lingkungan Gereja Kemah Injil Indonesia terjadi pemilihan kepemimpinan untuk periode 2011-2016 pada Konferensi Nasional ke-7 di Samarinda tanggal 16-21 Mei yang lalu. Dan Pdt. Paul Paksoal terpilih kembali sebagai Ketua Umum dengan total suara 271 dari 387 pemilih (ada 2 suara tidak sah).
Yang menarik adalah bahwa ketua umum yang tepilih hanya bergelar master dan 3 kandidat lain bergelar Doktor (S3). Banyak yang bertanya mengapa bisa? Apa indikasi semua ini? Ini membuktikan bahwa dalam kepemimpinan GKII yang diperlukan adalah pemimpin berhati gembala. Pemimpin yang mampu mengayomi, mendengar, menjadi penguat dan menolong mereka yang membutuhkan pertolongan.
Ini tidak lalu dianggap bahwa pemimpin gembala tidak perlu punya pendidikan yang tinggi, punya visi yang jelas dan rencana strategis serta kemampuan menajemen yang kuat. Semuanya harus dimiliki pemimpin. Tetapi semua karakteristik itu harus terangkum dalam kepemimpinan gembala. Artinya, pemimpin yang berhati gembala harus menjadi gaya hidup pemimpin sehingga semua strategi yang disusun ke depan dapat dilaksanakan.
Ini pembelajaran bagi pemimpin gereja masa depan. Kalau mau menjadi pemimpin, mulai kembangkan intelegensi emosi dan spiritualitas kita. Pendidikan tinggi memang penting, tapi bukan segala-galanya. Belajar rendah hati, suka mendengar, rajin menolong, senang memberikan penguatan dan pengharapan, suka memberikan tumpangan (alias tidak kikir), murah hati, tidak sombong (kelewat PD), penuh dengan kasih, tidak takut kritik, setia, dan ada kesetiakawanan di mana mau mengangkat orang lain. Semua kecerdasan ini harus dimiliki pemimpin gereja. Intinya belajar dari Kristus!
Selamat atas tugas yang baru Pdt. Paul. Tuhan menyertai perjalanan kepemimpinan untuk 5 tahun mendatang.
Yang menarik adalah bahwa ketua umum yang tepilih hanya bergelar master dan 3 kandidat lain bergelar Doktor (S3). Banyak yang bertanya mengapa bisa? Apa indikasi semua ini? Ini membuktikan bahwa dalam kepemimpinan GKII yang diperlukan adalah pemimpin berhati gembala. Pemimpin yang mampu mengayomi, mendengar, menjadi penguat dan menolong mereka yang membutuhkan pertolongan.
Ini tidak lalu dianggap bahwa pemimpin gembala tidak perlu punya pendidikan yang tinggi, punya visi yang jelas dan rencana strategis serta kemampuan menajemen yang kuat. Semuanya harus dimiliki pemimpin. Tetapi semua karakteristik itu harus terangkum dalam kepemimpinan gembala. Artinya, pemimpin yang berhati gembala harus menjadi gaya hidup pemimpin sehingga semua strategi yang disusun ke depan dapat dilaksanakan.
Ini pembelajaran bagi pemimpin gereja masa depan. Kalau mau menjadi pemimpin, mulai kembangkan intelegensi emosi dan spiritualitas kita. Pendidikan tinggi memang penting, tapi bukan segala-galanya. Belajar rendah hati, suka mendengar, rajin menolong, senang memberikan penguatan dan pengharapan, suka memberikan tumpangan (alias tidak kikir), murah hati, tidak sombong (kelewat PD), penuh dengan kasih, tidak takut kritik, setia, dan ada kesetiakawanan di mana mau mengangkat orang lain. Semua kecerdasan ini harus dimiliki pemimpin gereja. Intinya belajar dari Kristus!
Selamat atas tugas yang baru Pdt. Paul. Tuhan menyertai perjalanan kepemimpinan untuk 5 tahun mendatang.
Monday, February 28, 2011
Perselingkuhan Emosi: Ketika Persahabatan Melewati Batas Kewajaran
Daniel Ronda
Dengan adanya kesamaan gender, di mana pria dan wanita mendapat peluang yang sama dalam karir dan bidang kepemimpinan, maka ada hal menarik bahwa pria dan perempuan tanpa batas melakukan interaksi yang intens dalam tugas, yang bahkan interaksi itu melebihi interaksi dengan pasangan masing-masing di dalam rumah tangga, terutama waktu dan komunikasi. Laki-laki dan perempuan akhirnya menjadi sahabat. Kita umumnya sepakat persahabatan dengan lawan jenis itu wajar, walaupun masing-masing telah memiliki pasangan. Tetapi batas yang wajar dalam persahabatan itu seperti apa? Karena tidak sedikit pasangan masing-masing mengeluh bahwa sahabatnya lebih mendapat tempat dibandingkan dirinya sebagai pasangan.
Jadi walaupun hubungan persahabatan laki-laki dengan perempuan yang bukan hal aneh, tetapi tetap harus mendapatkan perhatian. Sekalipun pernikahan kita kuat, tapi perlu menjaga hubungan pernikahan dari segala bentuk godaan, cobaan, dan potensi perselingkuhan. Karena bukan tidak mungkin, perselingkuhan emosional berakhir dengan perselingkuhan yang sebenarnya.
Menurut Debbie L. Cherry bahwa perselingkuhan umumnya dimulai dari persahabatan yang tidak ada motif apapun. Artinya dimulai dengan murni persahabatan. Umumnya persahabatan terjalin di tempat kerja, rumah ibadah, sekolah. Bila tidak dibuatkan pagar perlindungan maka biasanya akan terbentuk persahabatan yang lebih akrab, mulai dari jalan bareng, percakapan-percakapan berdua, dilanjutkan dengan chatting lewat internet (email, yahoo messenger, atau facebook), chatting lewat sms atau bbm (blackberry messenger), lalu ada percakapan telepon yang lama. Tanpa disadari hal ini sudah memasuki hubungan yang lebih akrab bahkan memasuki perselingkuhan emosional walaupun belum melibatkan sentuhan fisik.
Kehancuran mulai terjadi ketika kedua insan berlainan jenis ini mulai bertukar informasi, pikiran-pikiran, perasaan-perasaan yang seharusnya informasi dan perasaan itu sebenarnya hanya eksklusif milik suami istri. Dan mulai menjadi buruk ketika tidak ada kegairahan dan menjaga jarak dengan pasangan dan mulai merindukan teman untuk diajak bicara daripada pasangannya sendiri. Puncaknya adalah persahabatan melewati batasnya dan mulai muncul masalah pernikahan yang sebenarnya tidak boleh ada yaitu rahasia dan bohong. Dan ketika kebohongan ini dimulai akan sulit dihentikan. Perselingkuhan fisik tinggal menunggu momen yang tepat dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Karena perselingkuhan emosional tidak melibatkan masalah seks, maka banyak orang menganggap biasa-biasa saja dan mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa mereka hanya berteman biasa, tidak ada sentuhan-sentuhan, walaupun pergi berdua kami tidak melakukan hal yang salah. Mereka menganggap hubungan yang tidak melibatkan seks (platonic) adalah hal yang wajar. Tetapi bila sudah memasuki perselingkuhan umumnya pasangan yang tidak setia sudah mengesampingkan rasa bersalah.
Memang sebelum pernikahan kita mungkin memiliki teman berbeda jenis banyak sekali, tetapi ketika sudah menikah, maka pasangan kita adalah yang utama dari segala jenis hubungan dan harus dilindungi dari berbagai ancaman. Kata kunci untuk mengatasi masalah ini adalah kejujuran dalam menghadapi perselingkuhan emosional. Coba jujur dengan pertanyaan di bawah ini di mana mungkin Anda sudah melewati batas persahabatan. Bila jawabannya “ya” mulai segera menyadarinya:
1. Apakah percakapan dengan sahabat membahas hal yang seharusnya hanya percakapan dengan pasangan kita?
2. Apakah Anda merindukan sahabat Anda itu siang malam untuk bicara dan bertemu?
3. Apakah Anda mulai menarik diri atau menjauh dari pasangan Anda secara fisik dan emosional?
4. Apakah Anda mencoba mencari-cari alasan untuk bertemu dan berbicara dengan sahabat Anda?
5. Apakah Anda membagikan pikiran-pikiran, perasaan dan problem dengan sahabat Anda dan bukan dengan pasangan?
6. Apakah Anda mulai percaya bahwa teman Anda lebih mengerti Anda daripada pasangan Anda?
7. Apakah ada kata-kata saling menggoda dan minat secara seksual meningkat antara Anda dengan teman Anda?
8. Apakah Anda mencoba mencari cara untuk menyentuh teman Anda secara “benar”, misalnya gandeng tangannya waktu menyeberang, pegang bahunya kalau jalan di pinggir jalan dengan alasan supaya tidak tertabrak kendaraan, dan hal lainnya?
9. Apakah Anda mulai berdandan lebih lama atau memperhatikan penampilan sebelum bertemu sahabat Anda itu?
10. Apakah ada rahasia dalam hubungan pertemanan itu (berapa lama Anda menghabiskan waktu, apa yang Anda lakukan, dan apa yang Anda percakapkan?)
Lindungi Pernikahan Anda: Tidak ada suatu pernikahan yang kebal akan perselingkuhan. Semua kita (termasuk saya) bisa dalam ancaman untuk terjebak ke dalam perselingkuhan emosional. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam melindungi pernikahan pemimpin:
1. Berusaha jujur dengan diri sendiri dan pasangan Anda. Jika Anda tertarik dengan seseorang, akuilah itu kepada diri dan jika memungkinkan kepada pasangan. Kejujuran adalah kata kunci melindungi diri dari perselingkuhan.
2. Bersikap kritis terhadap film, majalah atau bentuk media apapun yang bertoleransi terhadap perselingkuhan.
3. Coba melihat hubungan Anda dalam perspektif pasangan Anda. Apakah pasangan Anda nyaman punya sahabat lawan jenis yang begitu dekat? Apa perasaan pasangan Anda jika mengetahui apa yang Anda lakukan?
4. Jangan menggoda secara seksual. Kebanyakan perselingkuhan dimulai dari godaan yang tidak ada rasa bersalahnya ("innocent flirting"), tetapi prinsip persahabatan itu jelas bahwa persahabatan tidak pernah melibatkan godaan secara seksual.
5. Jadikan pernikahan sebagai prioritas paling utama. Kita mengupayakan untuk memenuhi kebutuhan pasangan kita.
6. Bertumbuh dalam kerohanian secara bersama-sama di mana saling mendoakan dan berdoa bersama-sama dalam keyakinan kita.
7. Cipatakan batas dalam bagaimana kita berinteraksi dengan teman kita yang berbeda jenis kelamin. Misalnya, Anda memutuskan untuk tidak mau berduaan untuk pergi ke suatu tempat dengan lawan jenis, sekalipun itu urusan bisnis.
8. Upayakan berteman dengan pasangan-pasangan bahagia yang tidak melakukan hal-hal aneh dalam pernikahan mereka.
Pemimpin dan siapa saja bisa melindungi pernikahan dari perselingkuhan emosional, tetapi itu melibatkan suatu komunikasi yang jujur dan terbuka dengan pasangan, dan adanya suatu komitmen untuk melindungi pernikahan. Keluarga kita adalah yang paling utama.
(Tulisan ini diambil sebagian besar ide dari Dr. Debbie L. Cherry: tulisan ini pertama kali muncul di “the Couples” Edisi Mei, 2008 issue of Focus on the Family magazine. Copyright © 2008 Dr. Debbie L. Cherry)
Dengan adanya kesamaan gender, di mana pria dan wanita mendapat peluang yang sama dalam karir dan bidang kepemimpinan, maka ada hal menarik bahwa pria dan perempuan tanpa batas melakukan interaksi yang intens dalam tugas, yang bahkan interaksi itu melebihi interaksi dengan pasangan masing-masing di dalam rumah tangga, terutama waktu dan komunikasi. Laki-laki dan perempuan akhirnya menjadi sahabat. Kita umumnya sepakat persahabatan dengan lawan jenis itu wajar, walaupun masing-masing telah memiliki pasangan. Tetapi batas yang wajar dalam persahabatan itu seperti apa? Karena tidak sedikit pasangan masing-masing mengeluh bahwa sahabatnya lebih mendapat tempat dibandingkan dirinya sebagai pasangan.
Jadi walaupun hubungan persahabatan laki-laki dengan perempuan yang bukan hal aneh, tetapi tetap harus mendapatkan perhatian. Sekalipun pernikahan kita kuat, tapi perlu menjaga hubungan pernikahan dari segala bentuk godaan, cobaan, dan potensi perselingkuhan. Karena bukan tidak mungkin, perselingkuhan emosional berakhir dengan perselingkuhan yang sebenarnya.
Menurut Debbie L. Cherry bahwa perselingkuhan umumnya dimulai dari persahabatan yang tidak ada motif apapun. Artinya dimulai dengan murni persahabatan. Umumnya persahabatan terjalin di tempat kerja, rumah ibadah, sekolah. Bila tidak dibuatkan pagar perlindungan maka biasanya akan terbentuk persahabatan yang lebih akrab, mulai dari jalan bareng, percakapan-percakapan berdua, dilanjutkan dengan chatting lewat internet (email, yahoo messenger, atau facebook), chatting lewat sms atau bbm (blackberry messenger), lalu ada percakapan telepon yang lama. Tanpa disadari hal ini sudah memasuki hubungan yang lebih akrab bahkan memasuki perselingkuhan emosional walaupun belum melibatkan sentuhan fisik.
Kehancuran mulai terjadi ketika kedua insan berlainan jenis ini mulai bertukar informasi, pikiran-pikiran, perasaan-perasaan yang seharusnya informasi dan perasaan itu sebenarnya hanya eksklusif milik suami istri. Dan mulai menjadi buruk ketika tidak ada kegairahan dan menjaga jarak dengan pasangan dan mulai merindukan teman untuk diajak bicara daripada pasangannya sendiri. Puncaknya adalah persahabatan melewati batasnya dan mulai muncul masalah pernikahan yang sebenarnya tidak boleh ada yaitu rahasia dan bohong. Dan ketika kebohongan ini dimulai akan sulit dihentikan. Perselingkuhan fisik tinggal menunggu momen yang tepat dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Karena perselingkuhan emosional tidak melibatkan masalah seks, maka banyak orang menganggap biasa-biasa saja dan mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa mereka hanya berteman biasa, tidak ada sentuhan-sentuhan, walaupun pergi berdua kami tidak melakukan hal yang salah. Mereka menganggap hubungan yang tidak melibatkan seks (platonic) adalah hal yang wajar. Tetapi bila sudah memasuki perselingkuhan umumnya pasangan yang tidak setia sudah mengesampingkan rasa bersalah.
Memang sebelum pernikahan kita mungkin memiliki teman berbeda jenis banyak sekali, tetapi ketika sudah menikah, maka pasangan kita adalah yang utama dari segala jenis hubungan dan harus dilindungi dari berbagai ancaman. Kata kunci untuk mengatasi masalah ini adalah kejujuran dalam menghadapi perselingkuhan emosional. Coba jujur dengan pertanyaan di bawah ini di mana mungkin Anda sudah melewati batas persahabatan. Bila jawabannya “ya” mulai segera menyadarinya:
1. Apakah percakapan dengan sahabat membahas hal yang seharusnya hanya percakapan dengan pasangan kita?
2. Apakah Anda merindukan sahabat Anda itu siang malam untuk bicara dan bertemu?
3. Apakah Anda mulai menarik diri atau menjauh dari pasangan Anda secara fisik dan emosional?
4. Apakah Anda mencoba mencari-cari alasan untuk bertemu dan berbicara dengan sahabat Anda?
5. Apakah Anda membagikan pikiran-pikiran, perasaan dan problem dengan sahabat Anda dan bukan dengan pasangan?
6. Apakah Anda mulai percaya bahwa teman Anda lebih mengerti Anda daripada pasangan Anda?
7. Apakah ada kata-kata saling menggoda dan minat secara seksual meningkat antara Anda dengan teman Anda?
8. Apakah Anda mencoba mencari cara untuk menyentuh teman Anda secara “benar”, misalnya gandeng tangannya waktu menyeberang, pegang bahunya kalau jalan di pinggir jalan dengan alasan supaya tidak tertabrak kendaraan, dan hal lainnya?
9. Apakah Anda mulai berdandan lebih lama atau memperhatikan penampilan sebelum bertemu sahabat Anda itu?
10. Apakah ada rahasia dalam hubungan pertemanan itu (berapa lama Anda menghabiskan waktu, apa yang Anda lakukan, dan apa yang Anda percakapkan?)
Lindungi Pernikahan Anda: Tidak ada suatu pernikahan yang kebal akan perselingkuhan. Semua kita (termasuk saya) bisa dalam ancaman untuk terjebak ke dalam perselingkuhan emosional. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam melindungi pernikahan pemimpin:
1. Berusaha jujur dengan diri sendiri dan pasangan Anda. Jika Anda tertarik dengan seseorang, akuilah itu kepada diri dan jika memungkinkan kepada pasangan. Kejujuran adalah kata kunci melindungi diri dari perselingkuhan.
2. Bersikap kritis terhadap film, majalah atau bentuk media apapun yang bertoleransi terhadap perselingkuhan.
3. Coba melihat hubungan Anda dalam perspektif pasangan Anda. Apakah pasangan Anda nyaman punya sahabat lawan jenis yang begitu dekat? Apa perasaan pasangan Anda jika mengetahui apa yang Anda lakukan?
4. Jangan menggoda secara seksual. Kebanyakan perselingkuhan dimulai dari godaan yang tidak ada rasa bersalahnya ("innocent flirting"), tetapi prinsip persahabatan itu jelas bahwa persahabatan tidak pernah melibatkan godaan secara seksual.
5. Jadikan pernikahan sebagai prioritas paling utama. Kita mengupayakan untuk memenuhi kebutuhan pasangan kita.
6. Bertumbuh dalam kerohanian secara bersama-sama di mana saling mendoakan dan berdoa bersama-sama dalam keyakinan kita.
7. Cipatakan batas dalam bagaimana kita berinteraksi dengan teman kita yang berbeda jenis kelamin. Misalnya, Anda memutuskan untuk tidak mau berduaan untuk pergi ke suatu tempat dengan lawan jenis, sekalipun itu urusan bisnis.
8. Upayakan berteman dengan pasangan-pasangan bahagia yang tidak melakukan hal-hal aneh dalam pernikahan mereka.
Pemimpin dan siapa saja bisa melindungi pernikahan dari perselingkuhan emosional, tetapi itu melibatkan suatu komunikasi yang jujur dan terbuka dengan pasangan, dan adanya suatu komitmen untuk melindungi pernikahan. Keluarga kita adalah yang paling utama.
(Tulisan ini diambil sebagian besar ide dari Dr. Debbie L. Cherry: tulisan ini pertama kali muncul di “the Couples” Edisi Mei, 2008 issue of Focus on the Family magazine. Copyright © 2008 Dr. Debbie L. Cherry)
Friday, February 18, 2011
Humor dalam Kotbah
Daniel Ronda
Bulan Desember ini saya ditelepon seorang panitia Natal untuk berkotbah di gerejanya. Setelah saya menyetujui karena memang belum ada jadwal, maka panitia menitip pesan kepada saya agar dalam kotbah agar banyak diberikan humor. Berkali-kali dalam telepon itu dia menekankan agar saya melucu. Saya mengiyakan, namun hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah dia memerlukan pengkotbah atau pelawak? Bagaimana sebenarnya kedudukan humor dalam kotbah?
Humor adalah bagian penting yang patut dipertimbangkan dalam menyampaikan kotbah. Menjadi humoris tentu tidak mudah, namun kemampuan tertawa dan menertawai diri adalah hal yang perlu dilatih dan itu adalah sebuah pilihan. Umumnya pengkotbah terkenal memiliki selera humor (sense of humor) yang baik. Sebut saja misalnya, Charles Spurgeon. Ia dikenal menggunakan humor. Cuma harus diingat bahwa humor bukan sebuah keharusan di dalam sebuah kotbah, karena humor harus dipergunakan dengan hati-hati. Tidak sedikit pengkotbah menggunakan humor yang tidak ada hubungan sama sekali dengan isi kotbahnya. Bahkan ada pengkotbah yang tidak lagi humoris tapi sudah seperti pelawak. Harus diingat, panggilan pengkotbah tidak sama dengan profesi pelawak, dan tujuannya bukan untuk menjadi penghibur yang kerjanya hanya membuat jemaat tertawa terpingkal-pingkal. Jemaat pun umumnya senang kalau pengkotbah itu banyak humornya. Walaupun ada penyalahgunaan humor dalam kotbah, tetapi tetap humor itu sah dalam kotbah, seperti yang dikatakan John Stott, “Humour is legitimate.”
Apa sebenarnya kegunaan humor dalam kotbah? Dalam tulisannya, John Beukema menuliskan beberapa keuntungan dalam menggunakan kotbah. Pertama, humor mengatasi kekerasan hati manusia (humor overcomes defenses). Manusia umumnya susah ditegur dan dikritik secara langsung. Maka cara yang lain yang bisa meredakan sikap defensif dalam mendengar teguran Tuhan yaitu dengan humor. Bila dibandingkan dengan budaya di Jawa, maka para raja Jawa sendiri sering dikritik bawahannya lewat humor, maka muncullah punakawan (Bagong, Gareng, Petruk, Semar) yang kerjanya mengkritik dengan humor. Dalam pengalaman pelayanan pun, pengkotbah merasa nyaman mengkritik keras lewat humor dan jemaat pun bisa menertawai kelemahan dan dosanya.
Kedua, humor melepaskan ketegangan (humor relieves tension). Dalam kotbah, kita berhadapan dengan kenyataan bahwa argumen-argumen, data, statistik, kalimat retorika dan cerita bisa membuat tegang pendengar. Maka dengan memasukkan humor kita akan melepaskan ketegangan jemaat dalam mendengar kebenaran yang berat di telinga kita. Logika dan argumen telah memberatkan kotbah dan konsep-konsep menjadi suatu yang tidak menarik, apalagi itu berhubungan dengan masa lalu yaitu sejarah Israel. Humor akan membantu membawa kepada lepasnya ketegangan itu.
Ketiga, humor meningkatkan minat mendengar kotbah (Humor Heightens Interest). Bila konsep membosankan, apalagi pernyataan itu sudah sering atau berkali-kali didengar maka humor meningkatkan minat mendengar kalimat-kalimat yang disajikan berikutnya.
Keempat, humor menunjukkan kemanusiaan kita (Humor Shows Our Humanity). Humor juga menyatakan bahwa kita adalah manusia. Dengan mempertunjukkan sisi kelemahan manusia, justru membuat orang menyadari kekurangannya dan mencoba berubah menurut tuntunan Tuhan.
Kelima, humor mengekspresikan sukacita Tuhan (Humor Expresses the Joy of the Lord). Tidak ada kata sukacita kalau tidak ada ekspresi dalam wajah dan tubuh. Itu sebabnya Tuhan mau kita tertawa karena tertawa adalah cara mengekspresikan sukacita yang dari Tuhan.
Keenam, humor menciptakan hubungan antara pembicara dengan pendengarnya (Humor Establishes a Connection Between the Speaker and the Audience). Hubungan yang dimaksud adalah perhatian dari pendengar sehingga tercipta suatu relasi sebelum isi kotbah disampaikan. Humor bisa juga membuat kedekatan pengalaman antara pengkotbah dan jemaat.
Ketujuh, humor mendorong rasa kebersamaan (Humor Encourages a Sense of Community). Jemaat dan pengkotbah ada jarak saat dia berdiri di depan mimbar dan jemaat send iri juga terasing di tempat duduknya. Maka dengan humor di awal kotbah bisa menjadi pemecah kedinginan dalam suasana sehingga menjadi cair dan saat yang sama jemaat merasakan kebersamaan ketika tertawa.
Kedelapan, humor menuntun perhatian jemaat kepada kebenaran (Humor Draws Attention to the Truth). Bila dalam budaya Jawa khususnya dalam pewayangan dan sendratari, humor para punakawan (Bagong, Semar, dan lainnya) adalah sebenarnya cara untuk mengkritik pemimpin mereka (baca Raja), karena dalam humor ada kebenaran. Begitu pula dalam kotbah. Ketika seorang menyampaikan kebenaran lewat humor, maka jemaat akan tertawa lalu menyadari dosa dan kesalahan mereka dan menuntun mereka kepada kebenaran.
Kesembilan, humor adalah bahasa universal dari budaya kita (Humor Is One Language of Our Culture). Bila setiap budaya memiliki keunikan masing-masing, maka senyum dan tertawa adalah bahasa universal manusia.
Bila demikian, apa kriteria humor yang baik? Ada beberapa humor yang tidak diperbolehkan dalam kotbah. Pertama, ada humor yang merendahkan orang lain, menertawai kelemahan fisik seseorang, suku dan ras, kecacatan fisik seseorang. Kedua, ada juga humor yang mengarah kepada percakapan seks kotor atau istilah populernya bicara porno atau yang menyerempet ke arah itu. Ini dilarang oleh Firman Tuhan untuk berbicara hal-hal yang cabul (Ef 5:4). Ketiga, sangat tidak pantas menertawakan hal-hal yang suci seperti soal perjamuan kudus, baptisan, atau doktrin tentang Tritunggal, termasuk keilahian Kristus. Prinsipnya adalah jangan mempermainkan sesuatu yang dianggap suci dan serius oleh Tuhan.
Kriteria humor yang baik adalah spontan, menjadi diri sendiri di mana tidak meniru orang lain, akui bila humor itu agak berlebihan, buat kejutan dalam humor. Jangan paksakan humor. Lebih baik tidak pakai humor daripada memakai humor yang tidak lucu dan tidak bisa membuat orang tertawa. Humor berhasil bila selesai diceritakan jemaat tertawa.
Darimana mendapatkan bahan humor untuk kotbah? Jawaban yang paling klasik yang diberikan oleh dosen saya adalah membeli buku-buku ilustrasi dan humor. Untuk itu setiap kali menggunakan buku, harap disebutkan sumber darimana dia mendapatkannya. Tetapi kehidupan sehari-hari bisa dijadikan bahan humor. Ada banyak kejadian dalam hidup ini yang bisa ditertawakan. Begitu pula cerita sahabat dan berbagai sumber bisa didapatkan humor. Asalkan selalu diingat bahwa humor itu hanya alat penunjang kotbah dan bukan tujuan dari kotbah itu sendiri.
Bulan Desember ini saya ditelepon seorang panitia Natal untuk berkotbah di gerejanya. Setelah saya menyetujui karena memang belum ada jadwal, maka panitia menitip pesan kepada saya agar dalam kotbah agar banyak diberikan humor. Berkali-kali dalam telepon itu dia menekankan agar saya melucu. Saya mengiyakan, namun hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah dia memerlukan pengkotbah atau pelawak? Bagaimana sebenarnya kedudukan humor dalam kotbah?
Humor adalah bagian penting yang patut dipertimbangkan dalam menyampaikan kotbah. Menjadi humoris tentu tidak mudah, namun kemampuan tertawa dan menertawai diri adalah hal yang perlu dilatih dan itu adalah sebuah pilihan. Umumnya pengkotbah terkenal memiliki selera humor (sense of humor) yang baik. Sebut saja misalnya, Charles Spurgeon. Ia dikenal menggunakan humor. Cuma harus diingat bahwa humor bukan sebuah keharusan di dalam sebuah kotbah, karena humor harus dipergunakan dengan hati-hati. Tidak sedikit pengkotbah menggunakan humor yang tidak ada hubungan sama sekali dengan isi kotbahnya. Bahkan ada pengkotbah yang tidak lagi humoris tapi sudah seperti pelawak. Harus diingat, panggilan pengkotbah tidak sama dengan profesi pelawak, dan tujuannya bukan untuk menjadi penghibur yang kerjanya hanya membuat jemaat tertawa terpingkal-pingkal. Jemaat pun umumnya senang kalau pengkotbah itu banyak humornya. Walaupun ada penyalahgunaan humor dalam kotbah, tetapi tetap humor itu sah dalam kotbah, seperti yang dikatakan John Stott, “Humour is legitimate.”
Apa sebenarnya kegunaan humor dalam kotbah? Dalam tulisannya, John Beukema menuliskan beberapa keuntungan dalam menggunakan kotbah. Pertama, humor mengatasi kekerasan hati manusia (humor overcomes defenses). Manusia umumnya susah ditegur dan dikritik secara langsung. Maka cara yang lain yang bisa meredakan sikap defensif dalam mendengar teguran Tuhan yaitu dengan humor. Bila dibandingkan dengan budaya di Jawa, maka para raja Jawa sendiri sering dikritik bawahannya lewat humor, maka muncullah punakawan (Bagong, Gareng, Petruk, Semar) yang kerjanya mengkritik dengan humor. Dalam pengalaman pelayanan pun, pengkotbah merasa nyaman mengkritik keras lewat humor dan jemaat pun bisa menertawai kelemahan dan dosanya.
Kedua, humor melepaskan ketegangan (humor relieves tension). Dalam kotbah, kita berhadapan dengan kenyataan bahwa argumen-argumen, data, statistik, kalimat retorika dan cerita bisa membuat tegang pendengar. Maka dengan memasukkan humor kita akan melepaskan ketegangan jemaat dalam mendengar kebenaran yang berat di telinga kita. Logika dan argumen telah memberatkan kotbah dan konsep-konsep menjadi suatu yang tidak menarik, apalagi itu berhubungan dengan masa lalu yaitu sejarah Israel. Humor akan membantu membawa kepada lepasnya ketegangan itu.
Ketiga, humor meningkatkan minat mendengar kotbah (Humor Heightens Interest). Bila konsep membosankan, apalagi pernyataan itu sudah sering atau berkali-kali didengar maka humor meningkatkan minat mendengar kalimat-kalimat yang disajikan berikutnya.
Keempat, humor menunjukkan kemanusiaan kita (Humor Shows Our Humanity). Humor juga menyatakan bahwa kita adalah manusia. Dengan mempertunjukkan sisi kelemahan manusia, justru membuat orang menyadari kekurangannya dan mencoba berubah menurut tuntunan Tuhan.
Kelima, humor mengekspresikan sukacita Tuhan (Humor Expresses the Joy of the Lord). Tidak ada kata sukacita kalau tidak ada ekspresi dalam wajah dan tubuh. Itu sebabnya Tuhan mau kita tertawa karena tertawa adalah cara mengekspresikan sukacita yang dari Tuhan.
Keenam, humor menciptakan hubungan antara pembicara dengan pendengarnya (Humor Establishes a Connection Between the Speaker and the Audience). Hubungan yang dimaksud adalah perhatian dari pendengar sehingga tercipta suatu relasi sebelum isi kotbah disampaikan. Humor bisa juga membuat kedekatan pengalaman antara pengkotbah dan jemaat.
Ketujuh, humor mendorong rasa kebersamaan (Humor Encourages a Sense of Community). Jemaat dan pengkotbah ada jarak saat dia berdiri di depan mimbar dan jemaat send iri juga terasing di tempat duduknya. Maka dengan humor di awal kotbah bisa menjadi pemecah kedinginan dalam suasana sehingga menjadi cair dan saat yang sama jemaat merasakan kebersamaan ketika tertawa.
Kedelapan, humor menuntun perhatian jemaat kepada kebenaran (Humor Draws Attention to the Truth). Bila dalam budaya Jawa khususnya dalam pewayangan dan sendratari, humor para punakawan (Bagong, Semar, dan lainnya) adalah sebenarnya cara untuk mengkritik pemimpin mereka (baca Raja), karena dalam humor ada kebenaran. Begitu pula dalam kotbah. Ketika seorang menyampaikan kebenaran lewat humor, maka jemaat akan tertawa lalu menyadari dosa dan kesalahan mereka dan menuntun mereka kepada kebenaran.
Kesembilan, humor adalah bahasa universal dari budaya kita (Humor Is One Language of Our Culture). Bila setiap budaya memiliki keunikan masing-masing, maka senyum dan tertawa adalah bahasa universal manusia.
Bila demikian, apa kriteria humor yang baik? Ada beberapa humor yang tidak diperbolehkan dalam kotbah. Pertama, ada humor yang merendahkan orang lain, menertawai kelemahan fisik seseorang, suku dan ras, kecacatan fisik seseorang. Kedua, ada juga humor yang mengarah kepada percakapan seks kotor atau istilah populernya bicara porno atau yang menyerempet ke arah itu. Ini dilarang oleh Firman Tuhan untuk berbicara hal-hal yang cabul (Ef 5:4). Ketiga, sangat tidak pantas menertawakan hal-hal yang suci seperti soal perjamuan kudus, baptisan, atau doktrin tentang Tritunggal, termasuk keilahian Kristus. Prinsipnya adalah jangan mempermainkan sesuatu yang dianggap suci dan serius oleh Tuhan.
Kriteria humor yang baik adalah spontan, menjadi diri sendiri di mana tidak meniru orang lain, akui bila humor itu agak berlebihan, buat kejutan dalam humor. Jangan paksakan humor. Lebih baik tidak pakai humor daripada memakai humor yang tidak lucu dan tidak bisa membuat orang tertawa. Humor berhasil bila selesai diceritakan jemaat tertawa.
Darimana mendapatkan bahan humor untuk kotbah? Jawaban yang paling klasik yang diberikan oleh dosen saya adalah membeli buku-buku ilustrasi dan humor. Untuk itu setiap kali menggunakan buku, harap disebutkan sumber darimana dia mendapatkannya. Tetapi kehidupan sehari-hari bisa dijadikan bahan humor. Ada banyak kejadian dalam hidup ini yang bisa ditertawakan. Begitu pula cerita sahabat dan berbagai sumber bisa didapatkan humor. Asalkan selalu diingat bahwa humor itu hanya alat penunjang kotbah dan bukan tujuan dari kotbah itu sendiri.
Wednesday, February 16, 2011
Kotbah Ekspositori atau Kotbah Eksposisi?
By Daniel Ronda
Ketika saya mulai masuk sekolah teologi, saya selalu diberitahu baik teman-teman, kakak tingkat, bahkan dosen Homiletika saya bahwa kotbah yang Alkitabiah itu adalah kotbah Ekspositori. Saya sendiri awalnya tidak mengerti apa itu ekspositori, namun setelah belajar sedikit lalu saya fahami sebagai bentuk kotbah, dari antara bentuk kotbah lain seperti kotbah tekstual, kotbah topikal, dan kotbah naratif. Akibatnya saya mulai menganggap kotbah selain kotbah ekspositori itu salah. Itu karena saya terfokus kepada bentuk, di mana seorang pengkotbah fokus kepada satu paragraf teks dan kemudian mengeksposnya keluar dalam bentuk poin-poin kotbah.
Tetapi benarkah bentuk kotbah yang lain salah? Ternyata pandangan saya keliru. Sekarang saya menyadari bahwa apapun bentuk kotbah, entah itu topikal, tekstual, doktrin, naratif adalah tidak salah sepanjang menunjukkan kesetiaan dalam mengekspos firman Tuhan dan bukan hanya meminjam ayat-ayat Alkitab lalu memasukkan pikiran kita dalam berkotbah. Teks firman Tuhan lalu hanya stempel. Jadi kaidah eksposisi yang lebih penting daripada hanya mempertahankan istilah ekspositori sebagai bentuk kotbah. Bisa saja seseorang berkotbah dengan topik persembahan, tapi dia setia dengan firman Tuhan yang disajikan dengan mengekspos teks firman Tuhan yang dipilihnya. Seseorang bisa berkotbah secara naratif dan tetap setia mengekspos firman Tuhan.
Walaupun ada perdebatan panjang soal ekspositori atau eksposisi, maka banyak orang merujuk kepada Haddon Robinson yang mengatakan bahwa: “The type of preaching that best carries the force of divine authority is expository preaching.” (Tipe kotbah terbaik yang membawa kekuatan otoritas ilahi adalah kotbah ekspositori). Robinson jelas menunjuk kepada kotbah ekspositori dan meyakini bahwa otoritas Allah hanya terwujud jika kita setia kepada firman Tuhan yang kita ekspos dalam bentuk kotbah ekspositori. Saya setuju sekali dengan beliau. Cuma saya tidak sepakat di soal bentuknya. Bagi saya bentuknya bisa berbagai model kotbah. Sedangkan kata kunci yang saya sepakati adalah menjelaskan firman Tuhan.
Kata Ekspositori itu berasal dari akar kata “expository” yang diambil dari kata “expose”, yang berasal dari kata Latin “exponere”. Jadi kata Ekspositori dalam Latin (A.D. 180-600) atau exponere berarti “menafsirkan, membuat jelas atau menerangkan.” Jadi kotbah yang ekspositori secara etimologis berarti suatu prokalamasi di mana suatu subyek/teks dibuka dengan cara menjelaskan. Jadi katanya sendiri menunjuk kepada pembukaan dengan menjelaskan. Tetapi tidak berarti dikungkung dalam bentuk kotbah ekspositori yang dikenal selama ini di mana harus dua ayat lebih sampai satu paragraf, harus ada presuposisi teologis yang keluar dari teks. Dengan kata lain, bentuk kotbah ekspositori didasarkan kepada teks lebih dari dua ayat. Pembagian garis besar dan tema muncul dari teks itu. Pikiran dikembangan dari teks itu tanpa mengimpornya dari bagian Firman yang lain.
Namun bentuk kotbah ekspositori yang kita kenal di atas adalah hanya salah satu bentuk kotbah yang kita gunakan. Jangan salah faham, kotbah ekspositori itu sendiri hal yang sangat baik tetapi bukan satu-satunya bentuk kotbah.
Misalnya, Haddon Robinson mendefinikan “kotbah ekspositori adalah komunikasi konsep Alkitab, berdasarkan studi historis, gramatika, literatur teks dalam konteksnya, di mana Roh Kudus pertama-tama membentuk si pengkotbah, dan kemudian kepada jemaat.” Hal ini didukung oleh J. Osborn yang mengatakan “Selanjutnya kotbah ekspositori pertama-tama mempelajari apa yang Alkitab sesungguhnya katakan (says) lewat eksegesis. Lalu mempelajari apa sesungguhnya makna (means) lewat hermeneutika. Itu diikuti dengan penjelasan apa yang dikatakan dan apa makna kepada jemaat dengan menunjukkan bahwa ini relevan dalam kehidupan saat ini. Begitu juga definisi George Wood yang mengatakan bahwa kotbah Ekspositori: “berarti mengambil teks dari Alkitab, bisa panjang atau pendek, yang menjawab dua pertanyaan: “Apa yang telah dikatakan?” dan “Apa yang dikatakan saat ini?” Teks mengontrol semua isi kotbah.” Baumann, juga menyatakan bahwa kotbah ekspositori disatukan dalam satu tujuan dan subyek, dan berusaha menampilkan berita masa lalu dan sekarang. Tidak boleh dibingungkan oleh berbagai tafsiran, dan berbagai pandangan. Dia memiliki satu tema yang dikembangkan dari teks atau satu tema sebagai dasar memilih bagian teks Firman Tuhan. Jadi jelas bahwa kotbah ekspositori adalah baik, tetapi dalam kotbah tekstual pun bisa dilakukan eksposisi, dalam kotbah topikal bisa dilakukan eksposisi, dalam kotbah doktrin bisa dilakukan eksposisi, dan kotbah naratif dilakukan eksposisi. Bagi saya ekposisi firman Tuhan itulah kunci kotbah efektif dan baik.
Dapat kita simpulkan bahwa kotbah yang baik dan efektif adalah kotbah yang teks Firman Tuhan dieksposisi atau memiliki kaidah eksposisi. Kita dapat menguraikannya sebagai berikut: pertama, kotbah yang mengikuti kaidah ekposisi menguraikan bagian teks Firman Tuhan dengan kesetiaan dan tidak pergi ke sana kemari memakai teks yang hanya disebutkan secara sepintas, apalagi ayat firman Tuhan hanya tempelan belaka.
Kedua, kotbah yang mengikuti kaidah eksposisi memiliki integritas hermeneutik di mana teks diuraikan dengan menggali lewat studi historis, gramatika dan literatur teks penunjang di sekitar budaya teks baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Ketiga, kotbah yang mengikuti kaidah eksposisi memiliki kesinambungan nilai-nilai universal yang berlaku sampai saat ini. Benny Solihin menyebut adanya amanat kotbah sebagai kesinambungan dari amanat teks. Itu sebabnya tugas pengkotbah menemukan apa amanat teks lalu mengangkatnya menjadi amanat kotbah yang memiliki kebenaran abadi.
Keempat, kotbah yang mengikuti kaidah eksposisi memiliki aplikasi yang dapat dibawa jemaat ke dalam kehidupan jemaat saat ini. Aplikasi adalah suatu hal yang penting yang tidak bisa diabaikan. Tanpa penerapan yang memadai maka kotbah akan kehilangan maknanya.
Jadi kotbah ekspositori jangan dibatasi kepada bentuk, yang penting semua pengkotbah harus mengembangkan kotbah yang ekposisi.
Ketika saya mulai masuk sekolah teologi, saya selalu diberitahu baik teman-teman, kakak tingkat, bahkan dosen Homiletika saya bahwa kotbah yang Alkitabiah itu adalah kotbah Ekspositori. Saya sendiri awalnya tidak mengerti apa itu ekspositori, namun setelah belajar sedikit lalu saya fahami sebagai bentuk kotbah, dari antara bentuk kotbah lain seperti kotbah tekstual, kotbah topikal, dan kotbah naratif. Akibatnya saya mulai menganggap kotbah selain kotbah ekspositori itu salah. Itu karena saya terfokus kepada bentuk, di mana seorang pengkotbah fokus kepada satu paragraf teks dan kemudian mengeksposnya keluar dalam bentuk poin-poin kotbah.
Tetapi benarkah bentuk kotbah yang lain salah? Ternyata pandangan saya keliru. Sekarang saya menyadari bahwa apapun bentuk kotbah, entah itu topikal, tekstual, doktrin, naratif adalah tidak salah sepanjang menunjukkan kesetiaan dalam mengekspos firman Tuhan dan bukan hanya meminjam ayat-ayat Alkitab lalu memasukkan pikiran kita dalam berkotbah. Teks firman Tuhan lalu hanya stempel. Jadi kaidah eksposisi yang lebih penting daripada hanya mempertahankan istilah ekspositori sebagai bentuk kotbah. Bisa saja seseorang berkotbah dengan topik persembahan, tapi dia setia dengan firman Tuhan yang disajikan dengan mengekspos teks firman Tuhan yang dipilihnya. Seseorang bisa berkotbah secara naratif dan tetap setia mengekspos firman Tuhan.
Walaupun ada perdebatan panjang soal ekspositori atau eksposisi, maka banyak orang merujuk kepada Haddon Robinson yang mengatakan bahwa: “The type of preaching that best carries the force of divine authority is expository preaching.” (Tipe kotbah terbaik yang membawa kekuatan otoritas ilahi adalah kotbah ekspositori). Robinson jelas menunjuk kepada kotbah ekspositori dan meyakini bahwa otoritas Allah hanya terwujud jika kita setia kepada firman Tuhan yang kita ekspos dalam bentuk kotbah ekspositori. Saya setuju sekali dengan beliau. Cuma saya tidak sepakat di soal bentuknya. Bagi saya bentuknya bisa berbagai model kotbah. Sedangkan kata kunci yang saya sepakati adalah menjelaskan firman Tuhan.
Kata Ekspositori itu berasal dari akar kata “expository” yang diambil dari kata “expose”, yang berasal dari kata Latin “exponere”. Jadi kata Ekspositori dalam Latin (A.D. 180-600) atau exponere berarti “menafsirkan, membuat jelas atau menerangkan.” Jadi kotbah yang ekspositori secara etimologis berarti suatu prokalamasi di mana suatu subyek/teks dibuka dengan cara menjelaskan. Jadi katanya sendiri menunjuk kepada pembukaan dengan menjelaskan. Tetapi tidak berarti dikungkung dalam bentuk kotbah ekspositori yang dikenal selama ini di mana harus dua ayat lebih sampai satu paragraf, harus ada presuposisi teologis yang keluar dari teks. Dengan kata lain, bentuk kotbah ekspositori didasarkan kepada teks lebih dari dua ayat. Pembagian garis besar dan tema muncul dari teks itu. Pikiran dikembangan dari teks itu tanpa mengimpornya dari bagian Firman yang lain.
Namun bentuk kotbah ekspositori yang kita kenal di atas adalah hanya salah satu bentuk kotbah yang kita gunakan. Jangan salah faham, kotbah ekspositori itu sendiri hal yang sangat baik tetapi bukan satu-satunya bentuk kotbah.
Misalnya, Haddon Robinson mendefinikan “kotbah ekspositori adalah komunikasi konsep Alkitab, berdasarkan studi historis, gramatika, literatur teks dalam konteksnya, di mana Roh Kudus pertama-tama membentuk si pengkotbah, dan kemudian kepada jemaat.” Hal ini didukung oleh J. Osborn yang mengatakan “Selanjutnya kotbah ekspositori pertama-tama mempelajari apa yang Alkitab sesungguhnya katakan (says) lewat eksegesis. Lalu mempelajari apa sesungguhnya makna (means) lewat hermeneutika. Itu diikuti dengan penjelasan apa yang dikatakan dan apa makna kepada jemaat dengan menunjukkan bahwa ini relevan dalam kehidupan saat ini. Begitu juga definisi George Wood yang mengatakan bahwa kotbah Ekspositori: “berarti mengambil teks dari Alkitab, bisa panjang atau pendek, yang menjawab dua pertanyaan: “Apa yang telah dikatakan?” dan “Apa yang dikatakan saat ini?” Teks mengontrol semua isi kotbah.” Baumann, juga menyatakan bahwa kotbah ekspositori disatukan dalam satu tujuan dan subyek, dan berusaha menampilkan berita masa lalu dan sekarang. Tidak boleh dibingungkan oleh berbagai tafsiran, dan berbagai pandangan. Dia memiliki satu tema yang dikembangkan dari teks atau satu tema sebagai dasar memilih bagian teks Firman Tuhan. Jadi jelas bahwa kotbah ekspositori adalah baik, tetapi dalam kotbah tekstual pun bisa dilakukan eksposisi, dalam kotbah topikal bisa dilakukan eksposisi, dalam kotbah doktrin bisa dilakukan eksposisi, dan kotbah naratif dilakukan eksposisi. Bagi saya ekposisi firman Tuhan itulah kunci kotbah efektif dan baik.
Dapat kita simpulkan bahwa kotbah yang baik dan efektif adalah kotbah yang teks Firman Tuhan dieksposisi atau memiliki kaidah eksposisi. Kita dapat menguraikannya sebagai berikut: pertama, kotbah yang mengikuti kaidah ekposisi menguraikan bagian teks Firman Tuhan dengan kesetiaan dan tidak pergi ke sana kemari memakai teks yang hanya disebutkan secara sepintas, apalagi ayat firman Tuhan hanya tempelan belaka.
Kedua, kotbah yang mengikuti kaidah eksposisi memiliki integritas hermeneutik di mana teks diuraikan dengan menggali lewat studi historis, gramatika dan literatur teks penunjang di sekitar budaya teks baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Ketiga, kotbah yang mengikuti kaidah eksposisi memiliki kesinambungan nilai-nilai universal yang berlaku sampai saat ini. Benny Solihin menyebut adanya amanat kotbah sebagai kesinambungan dari amanat teks. Itu sebabnya tugas pengkotbah menemukan apa amanat teks lalu mengangkatnya menjadi amanat kotbah yang memiliki kebenaran abadi.
Keempat, kotbah yang mengikuti kaidah eksposisi memiliki aplikasi yang dapat dibawa jemaat ke dalam kehidupan jemaat saat ini. Aplikasi adalah suatu hal yang penting yang tidak bisa diabaikan. Tanpa penerapan yang memadai maka kotbah akan kehilangan maknanya.
Jadi kotbah ekspositori jangan dibatasi kepada bentuk, yang penting semua pengkotbah harus mengembangkan kotbah yang ekposisi.
Subscribe to:
Posts (Atom)