Thursday, December 1, 2011

QUO VADIS PASTI? CATATAN KRITIS ATAS KONGRES PASTI KE-8 2011

Oleh Daniel Ronda

Baru saja selesai perhelatan “besar” PASTI (Persekutuan Antar Sekolah Theologia Injili di Indonesia) yaitu kongres PASTI ke-8 yang berlangsung tanggl 28-30 November 2011 di Graha Bethel Jakarta. Perhelatan ini dirangkaikan dengan Simposium Teologi dengan tema menarik Multiplikasi dalam Perspektif Teologi Injili. Dalam Kongres ini agenda besar utama adalah pemilihan kepengurusan yang baru dan juga penyusunan program kerja 2011-2015. Dalam kongres ini terpilih kembali Dr. Hendrik J. Ruru sebagai Ketua Umum dan Pdt. Nasokhili Giawa sebagai Sekum. Tentunya kita mengucapkan selamat untuk kepengurusan yang baru, dan kiranya dapat benar-benar bekerja sesuai dengan visi dan misi PASTI.

Namun ada beberapa catatan kritis yang perlu diberikan dalam kongres kali ini:

Pertama, sangat minim sekali kehadiran anggota PASTI yang berjumlah 85 sekolah teologi. Dinyatakan bahwa tidak sampai 50% PTT yang hadir. Bahkan yang ironi, sekolah-sekolah senior dan yang tidak diragukan kualitasnya justru tidak hadir atau tidak mengirim utusan. Nama-nama seperti STTII, STT Baptis, I3, STT Reformed Injili, STT Bandung, dan lainnya justru tidak mengutus sama sekali utusannya. Hanya STT Jaffray baik Makassar dan Jakarta yang mengutus utusan. Bahkan saya sendiri sempat kaget, karena ketika bertemu dengan salah satu pemimpin sekolah teologi besar mengatakan bahwa kongres ini ditunda sampai tanggal 5 Desember. Itu juga menyebabkan ada yang tidak hadir. Yang juga disayangkan, tidak adanya wakil pemerintah yang hadir dalam pembukaan, padahal siangnya (28/11) saat hari pembukaan, saya sendiri sempat rapat dengan pejabat di Bimas Kristen Kemenag RI. Yang aneh adalah tidak ada juga pimpinan PGLII (lembaga Injili) yang hadir, di mana seharusnya PASTI menjadi sayap penting dalam perjuangan gereja-gereja Injili di bawah naungan PGLII. Bahkan yang paling ironi, sebagian besar sekolah-sekolah teologi yang hadir hanya mengutus staf mereka (baik puket maupun dosen biasa) untuk acara akbar 4 tahunan ini. Bisa dibayangkan kualitas sebuah kongres bila pucuk pimpinan pengambil keputusan tidak menghadiri kongres. Ini menjadi semacam kongres asal-asalan saja diadakan. Apalagi ada salah satu pengurus inti PASTI periode 2007-2011, jelas-jelas ada di Jakarta namun tidak menghadirinya. Meskipun demikian, pada satu sisi ego sekolah sekolah teologi yang merasa dirinya “hebat” harus diturunkan dengan mau menghadiri acara ini. Seharusnya kita hadir tanpa harus memiliki pretensi diangkat menjadi pejabat di kepengurusan PASTI. Lembaga ini adalah milik kita dan tanggung jawab bersama untuk membesarkannya. Para pemimpin STT harus mau bersama bersekutu dan jangan sibuk dengan urusan sendiri.

Kedua, terpilihnya Dr. Hendrik J. Ruru kembali menyisakan banyak pertanyaan dan keraguan apakah PASTI akan bisa jalan lebih baik atau jalan di tempat atau tidak tahu akan dibawa ke mana? Beliau adalah orang baik, kaum profesional, dan seorang yang memegang jabatan penting di perusahaan multinasional. Apalagi saat ini beliau lebih banyak tinggal di luar negeri dan mengajar hanya bersifat “block teaching”. Tentu kita tidak meragukan kapasitas profesi beliau. Tapi bukankah lebih baik kalau Dr. Arnold Tindas (dari STT Harvest) yang menjadi Ketua Umum dan bukan menjadi Wakil Ketua. Dapatkah seorang yang bergerak di bidang non pendidikan teologi menahkodai sebuah lembaga pendidikan teologi Injili yang pernah sangat diperhitungkan di Asia? Mengapa beliau diminta terus naik, padahal secara tertulis beliau sudah menyatakan tidak bersedia dan akhirnya beliau meralat atas desakan peserta? Inilah kesalahan besar dalam strategi kepemimpinan PASTI. Apalagi periode 2007-2011, kepengurusan PASTI hampir tidak melakukan apa-apa yang signifikan. Hal itu diakui oleh beberapa pengurus yang lalu di mana mereka mengaku jarang sekali rapat kecuali ketemu waktu simposium.

Ketiga, materi simposium teologi pun dibuat asal-asalan di mana pembicara sendiri tidak memiliki keahlian di bidangnya. Tema multiplikasi menjadi suatu hal yang tidak lebih dari kajian minim sumber terbaru, minim pemikiran original dan hampir miskin sumbangan ilmu, karena ada pembicara tidak memiliki keahlian di bidangnya sesuai tema. Jadi acara simposium tidak lebih dari ajang “menggurui” dan peserta pun malas berinteraksi dalam sesi tanya jawab. Ke depannya, diharapkan bahwa simposium harus mengundang orang sesuai keahlian dan jika tidak ada ahli maka bisa diadakan dialog di mana ada saling “curhat” tentang pergumulan-pergumulan sekolah teologi saat ini.

Keempat, PASTI tidak melibatkan mahasiswa dalam acara ini. Padahal sepatutnya diundang mahasiswa-mahasiswa untuk dapat belajar bagaimana berorganisasi dan bersekutu bersama. Perhatian terhadap teolog muda tidak diberikan peran semestinya dalam pertemuan PASTI ini.

Kelima, tidak adanya pernyataan-peryataan yang bersifat kritis tentang berbagai hal dalam penyelenggaraan PTT (Perguruan Tinggi Teologi) seperti: 1) maraknya pendidikan teologi yang dijalankan asal-asalan; 2) tidak adanya kritik dan pengingatan kepada pemerintah (dalam hal ini Kemenag RI Bimas Kristen) agar tidak mengeluarkan izin penyelenggaraan sekolah secara mudah dan sembarangan hanya karena mampu membayar; 3) Disinyalir bahwa mendapat gelar sarjana sangat mudah, bahkan ada sarjana yang bisa didapat dalam tempo 3 bulan sampai 1 tahun. Ini tidak beda dengan kursus-kursus. Kok bisa disejajarkan dengan S1? Praktik koruptif sekolah teologi dan bisnis terselubung seperti ini perlu diingatkan agar PTT tidak sembarangan dalam memberikan gelar dan diberikan hanya dengan membayar. Penerimaan keanggotaan seharusnya diseleksi dengan ketat dan bertujuan membina. Bagaimana disebut sekolah Injili dengan semangat kekudusan, pekabaran Injil dan Alkitab sebagai firman Allah, namun dalam praktik penyelenggaraan pendidikan teologi memakai praktik koruptif dalam pelaksanaannya?

Lebih dari itu, sudah lama PASTI disindir sebagai ajang “pelegalan” dan perlindungan sekolah-sekolah teologi abal-abal (tidak jelas). PASTI seharusnya tidak menerima dengan sembarangan PTT menjadi anggota, karena sulit rasanya membina PTT bila standar minimal perguruan tinggi tidak terpenuhi seperti ketersediaan gedung, dosen dan perangkat administrasi pendidikan dan akademik. Bila ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin PASTI akan ditinggalkan anggotanya yang merasa tidak nyaman karena PASTI dipakai alat kepentingan dan bukan persekutuan yang memajukan pendidikan teologi Injili di Indonesia.

Keenam, dalam membangun jejaring nasional dan internasional, PASTI masih sangat lemah. Minat mendaftar di ATA (Asia Theological Association) pun sangat kurang, sehingga kita tidak memiliki informasi dan jejaring yang kuat. Malahan masing-masing lembaga pendidikan teologi yang membangun jejaring sendiri. Sebagai contoh, tidak adanya “follow up” pembicaraan soal konferensi Injili sedunia terbesar yaitu Lausanne Conference. Bisa dibayangkan Lausanne Conference III yang diselenggarakan di Cape Town Afrika setahun yang lalu tidak ada dampaknya dalam konteks PASTI karena hampir tidak ada yang mengikutinya. Bahkan isu-isu Injili tahun 80-an masih dibahas. Di sini jelas PASTI masih kelihatan “jadul” dalam menghadapi era baru kaum Injili.

Dari berbagai catatan ini, kiranya pengurus PASTI dapat memicu diri untuk berbuat sesuatu untuk periode 2011-2015. Sayang sekali bila kepengurusan baru ini hanya berupa “display” nama (alias pameran nama) tanpa ada aksi dan kerja nyata. Saya secara pribadi khawatir bahwa PASTI akan tidak dapat berbuat apa-apa dan makin dijauhkan oleh sekolah-sekolah anggotanya. Quo Vadis PASTI? Pertanyaan ini seharusnya menjadi tantangan bagi pengurus baru untuk menetapkan arah perjuangan kaum Injili lewat pendidikan teologi dan menjadikan wadah PASTI bergengsi dan dihargai. Jangan sampai jadi tunggangan kepentingan sesaat. Semoga terwujud!

Monday, November 21, 2011

Ancaman Terhadap Makna Pelayanan

Pada masa kini kata “pelayanan” sudah menjadi istilah populer, tetapi banyak yang tidak memahami arti pelayanan yang sebenarnya. Ada hal positif ketika jemaat mulai terlibat aktif dalam pelayanan di mana tadinya hanya rohaniwan (kaum klergi) yang melakukannya. Namun muncul keprihatinan karena pelayanan kadangkala sudah dicampurbaurkan dengan bisnis, cinta akan uang telah masuk ke gereja, sinkretisme dengan budaya populer (pop culture) yang berujung kepada materialisme dan pola hidup konsumeristik. Pengaruh budaya populer saat ini menghasilkan begitu banyak godaan dalam pelayanan seperti haus kekuasaan, mengincar jabatan sebagai identitas diri, berbagai penyimpangan dan dosa seks dan gaya hidup hedonistik. Tidak sedikit pernikahan dan keluarga Kristen berantakan karena pengaruh ini dan yang menyedihkan adanya pembiaran terhadap berbagai ancaman ini.

Untuk itu kami merasa perlu menyusun suatu makna pelayanan yang sesungguhnya yang Tuhan kehendaki. Namun terlebih dahulu kami perlu mengangkat terlebih dahulu isu-isu soal ancaman pelayanan yang muncul saat ini dan bagaimana harus menyikapinya:
1. Adanya pengajaran teologi kemakmuran yang berfokus kepada kekayaan materi, di mana beranggapan bahwa orang percaya pasti akan menjadi kaya secara materi. Pengajaran ini menarik begitu banyak orang yang beranggapan bahwa berkat materi merupakan tujuan dari kekristenan. Harus disadari bahwa pengajaran ini menyesatkan karena tidak bisa membedakan kemakmuran (prosperity) secara menyeluruh dan hanya berfokus kepada kemakmuran materi.
2. Gereja telah disinyalir menjadi ajang bisnis, di mana ada fihak yang mendirikan gereja dengan tujuan mendapatkan keuntungan materi. Cara yang teridentifikasi seperti membuat gereja baru dengan menyiapkan berbagai fasilitas lalu mengundang pemain musik dan pengkotbah tamu yang diberikan imbalan materi. Sedangkan dirinya tidak perlu berkotbah ataupun melayani, tapi cukup menjadi “manajer” bagi gereja itu. Uang telah menjadi tujuan pelayanan, di mana pelayanan telah menjadi profesi. Jiwa-jiwa dilihat dari potensi materinya belaka.
3. Juga adanya praktik korupsi atau penyalahgunaan hal keuangan dalam gereja, di mana tidak bisa membuat akuntablitas, menjalankan proposal dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan berbagai tindakan korup lainnya.
4. Ada hamba Tuhan mulai meninggalkan pelayanan dan tergoda menjadi politikus dan pekerjaan lain yang dianggap dapat memberikan kesejahteraan materi. Pekerjaan sebagai hamba Tuhan dianggap sebagai karir saja, sehingga panggilan itu berubah ketika ada hal lain yang bisa lebih menjanjikan.
5. Ketika budaya populer sudah memasuki begitu dalam, maka muncul godaan-godaan yag begitu banyak, termasuk soal pecitraan penampilan. Penampilan fisik telah begitu dipuja dan mengambil alih panggilan kepada pelayanan, karena ada yang beranggapan bahwa penampilan fisik adalah penentu bagi orang mau mendengar Injil dan kotbah. Penampilan itu disertai dengan penggunaan gadget, kendaraan, serta pakaian yang mewah dan dijadikan fondasi harga diri seorang hamba Tuhan. Ada yang beranggapan bahwa penampilan yang mewah (luxury) akan menambah wibawa pelayanan karena orang tertarik kepada Injil kalau hamba Tuhannya diberkati (secara materi dan penampilan).
6. Ada lagi godaan yang terbesar yaitu, godaan itu di sekitar area seksualitas, yang meliputi humor-humor kotor, pornografi, perselingkuhan, homoseksualitas dan berbagai penyimpangan seks lainnya. Seringkali hal ini banyak dibicarakan, namun tidak ada upaya dan tindakan jelas tentang bagaimana memelihara kesucian hidup.

Maka dalam suasana ancaman pelayanan yang demikian, perlu diingatkan kembali akan arti pelayanan dan juga bagaimana menghadapi tantangan pelayanan di era yang baru ini:
1. Menegakkan arti pelayanan itu penting bagi setiap mereka yang akan melayani. Melayani artinya melakukan pelayanan seperti Yesus Kristus kepada Bapa di surga dengan perantaraan Roh Kudus untuk gereja dan dunia. Yesus Kristus adalah teladan dan menjadi pusat pelayanan kita.
2. Pelayanan membutuhkan uang, tetapi bukan tujuan dari pelayanan itu sendiri. Jadi, materi merupakan sarana penunjang pelayanan, namun pelayanan tidak bergantung pada materi. Gereja harus mendapatkan keuangan dengan cara yang benar dan Alkitabiah.
3. Gereja harus menolak pengajaran teologi kemakmuran yang berfokus kepada kemakmuran materi (uang) semata, sebaliknya gereja patut mengajarkan kemakmuran yang menyeluruh dan seimbang yang berpusat pada pengajaran Yesus.
4. Penting bagi setiap hamba Tuhan memelihara integritas hidupnya. Integritas dalam pelayanan merupakan kunci kemenangan terhadap godaan-godaan. Maka pengajaran tentang integritas, kesucian hidup, dan penerapan disiplin dalam pelayanan perlu mendapat perhatian khusus bagi pemimpin gereja.
5. Hamba-hamba Tuhan agar terus waspada terhadap berhala-berhala modern yang memasuki cara pandang kita, serta tidak melacurkan panggilan untuk mendapatkan keuntungan materi. Hamba Tuhan bukan karir dan pekerjaan yang dinilai dengan uang dan prestise, tapi panggilan Allah yang mulia.
6. Panggilan pelayanan adalah untuk menjadi berkat bagi sesama dan dunia. Memercayai janji dan penyertaan Tuhan adalah kunci pelayanan yang diberkati (Mat 28:20)

(Didiskusikan dan disusun bersama dalam kelas Falsafah Pelayanan (Theology of Ministry) program Pascasarjana STT Jaffray, semester ganjil tahun 2011. Dosen: Pdt. Dr. Daniel Ronda; Mahasiswa: dr. Simon Tarigan, Yohanes Tulungallo, Jhon Manalu, Ezra Tari, Nonik Yemni, Ronald Sumigar, Johnny Sumarauw, Yofsan Tolanda, Yunus Laukapitang, Hengi Wijaya, Wahyudi Binti Sylvester).

Thursday, November 17, 2011

PELANTIKAN DAN PENEGUHAN KEPEMIMPINAN STT JAFFRAY:

Pada tanggal 8 November telah dilantik Ketua STT Jaffray yang baru untuk periode kedua (2011-2016) oleh ketua Umum GKII Pdt. Paul Paksoal, M.Div. dan didampingi Sekretaris Umum Pdt. Sebinus Luther, M.Th. Selanjutnya pada saat yang sama dilantik Badan Pengurus Yayasan Jaffray periode 2011-2016). Pada tanggal 10 November dilantik pula tim unsur pimpinan STT Jaffray oleh Ketua dan Yayasan Pendidikan Jaffray. Adapun susunan pengurus dan kepemimpinan sebagai berikut:

YAYASAN PENDIDIKAN JAFFRAY PERIODE 2011-2016
Penasehat : Drs. Anton Obey
Ketua : A.M. Tjandra, M.Si.
Sekretaris : Dr. Simon Tarigan, Sp.THT, STh.
Bendahara : Ir. Samuel Arnold Saputra
Anggota : 1) Ketua Umum GKII (ex officio)
2) Pdt. Hoki Paulus Santosa, S.Th.
3) Drs. Patampa
4) Ade Widagdo
5) Meily Lunanta, MA

KEPEMIMPINAN STT JAFFRAY PERIODE 2011-2016
Ketua : Pdt. Dr. Daniel Ronda, Th.M,
Puket I Bidang Akademik : Pdt. Dr. Peniel Maiaweng
Puket II Bidang Adm/Keu. : Pdt. Zeth Tuhumury, S.Th.
Puket III Bidang Kemahasiswaan : Pdt. Robi Panggarra, M.Th.
Dir. Pascasarjana : Pdt. Made Astika, Ph.D.
Ketua Program Ekstensi : Pdt. Dr. Jermia Djadi
Ketua Lembaga Penjaminan Mutu : Pdt. Dr. Ivan Weismann, S.Th.

Sunday, August 7, 2011

LIMA PRINSIP PEMIMPIN ROHANI

Oleh Daniel Ronda

Banyak gereja mengeluh kesulitan mendapatkan pemimpin untuk menjadi gembala di gereja mereka. Tamatan sarjana Alkitab atau Teologi banyak, tetapi mendapatkan pemimpin rohani sangat sulit. Tentu mencari akar penyebabnya tidak mudah. Namun banyak yang menunjuk “pabrik”nya yaitu sekolah teologi. Sekolah teologi atau seminari sering dijadikan sasaran atau kambing hitam atas kesulitan mendapatkan pemimpin rohani. Pada satu sisi mungkin saja benar di mana pembinaan di sekolah teologi hanya berfokus kepada persoalan intelektual belaka dan tidak melakukan pendidikan yang sungguh-sungguh mengikuti teladan yang Yesus berikan secara nyata. Masalahnya bagaimana menciptakan pemimpin rohani? Sekolah teologi bukan satu-satunya yang harus ditimpakan kesalahan. Namun semua fihak bertanggung jawab, dalam hal ini diri pribadi pemimpin orang itu, gereja di mana dia menjadi anggota dan mengutusnya, dan juga tentunya sekolah teologi. Bila pemimpin itu sendiri tidak mau dibentuk oleh Kristus dan Firman, maka sulit bagi kita untuk mendapatkan kualitas pemimpin rohani yang diharapkan. Gereja juga bertanggung jawab melakukan pembinaan dan melatih dalam melayani dan tidak memberikan rekomendasi bila calon ini masih diragukan komitmen pelayanannya. Dan akhirnya sekolah teologi bertanggung jawab membentuk calon pemimpin secara menyeluruh dan bukan hanya intelektualnya saja belajar tentang Tuhan.
Namun pemimpin rohani itu sebenarnya seperti apa? Tentu jawabannya kompleks dan banyak. Namun khusus dalam bagian ini penulis akan memaparkan secara singkat lima prinsip pemimpin yang rohani dan yang harus dihidupi pemimpin. Ini ditulis oleh Chris Larson, di mana menurut penulis kelima prinsip pemimpin rohani ini terinspirasidari kehidupan seorang tokoh hamba Tuhan yang sangat dikenal di dunia yaitu Dr. John MacArthur (teolog, pengkotbah dari tradisi Reformed Injili). Kelima prinsip pemimpin rohani itu adalah:*

1. Pemimpin rohani adalah orang yang memimpin dan menuntun kehidupan orang lain dengan Firman Tuhan, yaitu yang menjadikan Alkitab adalah Firman Tuhan. Dia menolak bentuk-bentuk kepemimpinan yang memakai berbagai bentuk tekanan dan pengaruh yang bukan dari Firman Tuhan. Dia tidak memakai cara kasar dan kotor untuk memimpin. Perhatiannya adalah mengajarkan Firman Tuhan secara akurat, dan memperlihatkan kehidupan yang tunduk kepada otoritas Firman Tuhan.

2. Pemimpin rohani menginspirsasikan kasih sayang kepada orang yang dipimpinnya karena mereka belajar Kristus dari sang pemimpin dan melihat Kristus di dalam pemimpinnya. Mereka mengikuti dia karena dia mengikuti Kristus. Dan mereka mengasihi dia karena dia mengasihi mereka di dalam Kristus. Rasul Paulus menyimpulkan roh dari pemimpin yang benar ketika dia menulis, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus (1 Kor 11:1). Versi NKJV mengatakan: “Imitate me, just as I also imitate Christ”. Di sini Paulus sebagai pemimpin minta pengikutnya meniru dia sebagaimana dia meniru Kristus. Dan jangan pernah ragu akan apa yang Firman Tuhan katakan untuk ditiru. Banyak bagian Alkitab menjadikan Kristus sebagai teladan untuk diikuti, di mana penekanannya kepada kerendahan hati.

3. Pemimpin rohani siap menjadi pemimpin yang tidak populer. Dari sejak raja Israel yaitu Ahab yang menuduh Elia dengan mengatakan: "Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?", membuktikan bahwa kesetiaan kepada Firman Tuhan seperti Elia tidak akan membawa popularitas bagi mayoritas pengikut.Dr. MacArthur secara jelas mengatakan, ‘You cannot be faithful and popular, so take your pick (Kamu tidak bisa bersamaan setia dan populer, pilihlah).’ Pencarian terhadap popularitas adalah sesuatu yang bersifat jangka pendek dan tidak berusia lama. Sukses itu bukan kekayaan, kuasa, kemapanan, popularitas, dan semua hal yang dunia sebutkan tentang sukses. Sukses sejati adalah melakukan kehendak Allah walaupun ada harga yang harus dibayar.

4. Pemimpin rohani harus bangkit dan memiliki kesadaran akan adanya bahaya zaman. Tidak semua pemimpin Kristen memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami zaman seperti yang diberikan kepada Bani Isakhar. Firman Tuhan berkata: “Dari bani Isakhar orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik (understanding of the times), sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat orang Israel” (1 Taw 12:32). Ada dalam periode sejarah gereja di mana pemimpin melakukan kesalahan serius dalam bagaimana Kristus diberitakan. Ada juga tanda-tanda zaman yang salah dibaca, sehingga melahirkan pemimpin yang keliru dalam memahami akhir zaman ini. Ada pula pemimpin yang membiarkan pengajarannya menjadi sangat sekuler dan mengikuti prinsip-prinsip dunia dengan alasan mengikuti tren zaman. Pemimpin rohani yang sejati akan bangkit memberikan tuntunan yang Allah berikan.

5. Pemimpin rohani tidak akan menuntun pengikutnya untuk fokus kepada dirinya sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin, dia sendiri secara pribadi berhutang segalanya kepada Kristus. Sebagai seorang berdosa, dia melihat ada suatu kebutuhan untuk hidup dalam roh pertobatan dalam seluruh kehidupannya. Dia menyadari ada jarak dan kontras apa yang ada dalam dirinya dan berita yang dikotbahkannya. Itu sebabnya pemimpin harus menyadari bahwa kalaupun dia berhasil, itu karena Tuhan. Paulus berkata: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami “ (2 Kor 4:7). Terpilihnya seseorang menjadi pemimpin, itu karena Allah memilih kita dan itu semata-mata atas dasar kedaulatan-Nya dalam memilih, sehingga Dialah yang harus menerima hormat dan kemuliaan. Dia memilih kita yang lemah sehingga tidak ada pemimpin yang bisa membanggakan diri, tetapi membanggakan Tuhan, di mana kita adalah hanya alatNya.

Akhirnya, pemimpin rohani yang sejati adalah mereka yang memimpin orang lain dengan satu filosofi dasar dalam kepemimpinannya: “Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” (Maz 115:1). Kiranya lewat lima prinsip ini akan lahir pemimpin rohani sejati yang dapat sangat dirindukan gereja masa kini.

*Bagian ini disadur dari “5 Principles for Evangelical Leadership” oleh Chris Larson diambil di http://www.ligonier.org/blog/5-principles-evangelical-leadership/, diakses tanggal 6 Agustus 2011.

Monday, May 23, 2011

Kisah Tersisa dari Pemilihan Ketua Umum GKII di Samarinda

Di dalam lingkungan Gereja Kemah Injil Indonesia terjadi pemilihan kepemimpinan untuk periode 2011-2016 pada Konferensi Nasional ke-7 di Samarinda tanggal 16-21 Mei yang lalu. Dan Pdt. Paul Paksoal terpilih kembali sebagai Ketua Umum dengan total suara 271 dari 387 pemilih (ada 2 suara tidak sah).

Yang menarik adalah bahwa ketua umum yang tepilih hanya bergelar master dan 3 kandidat lain bergelar Doktor (S3). Banyak yang bertanya mengapa bisa? Apa indikasi semua ini? Ini membuktikan bahwa dalam kepemimpinan GKII yang diperlukan adalah pemimpin berhati gembala. Pemimpin yang mampu mengayomi, mendengar, menjadi penguat dan menolong mereka yang membutuhkan pertolongan.

Ini tidak lalu dianggap bahwa pemimpin gembala tidak perlu punya pendidikan yang tinggi, punya visi yang jelas dan rencana strategis serta kemampuan menajemen yang kuat. Semuanya harus dimiliki pemimpin. Tetapi semua karakteristik itu harus terangkum dalam kepemimpinan gembala. Artinya, pemimpin yang berhati gembala harus menjadi gaya hidup pemimpin sehingga semua strategi yang disusun ke depan dapat dilaksanakan.

Ini pembelajaran bagi pemimpin gereja masa depan. Kalau mau menjadi pemimpin, mulai kembangkan intelegensi emosi dan spiritualitas kita. Pendidikan tinggi memang penting, tapi bukan segala-galanya. Belajar rendah hati, suka mendengar, rajin menolong, senang memberikan penguatan dan pengharapan, suka memberikan tumpangan (alias tidak kikir), murah hati, tidak sombong (kelewat PD), penuh dengan kasih, tidak takut kritik, setia, dan ada kesetiakawanan di mana mau mengangkat orang lain. Semua kecerdasan ini harus dimiliki pemimpin gereja. Intinya belajar dari Kristus!

Selamat atas tugas yang baru Pdt. Paul. Tuhan menyertai perjalanan kepemimpinan untuk 5 tahun mendatang.