Tuesday, January 18, 2011

Buku Baru dari Daniel Ronda

Buku baru "Leadership Wisdom" karangan Daniel Ronda terbitan Kalam Hidup Bandung akan terbit akhir Januari 2011.


Berikut komentar rekan dan senior penulis:

“Tulisan pendeta yang disayangi oleh banyak orang yang mengenalnya ini memberikan baik uraian tentang kerangka teoritis kepemimpinan. Lebih dari itu, penulis juga memaparkan bagaimana pemimpin menerapkan kepemimpinan rohani, kepemimpinan hamba dan kepemimpinan transformatifnya di dalam konteks pelayanan yang sedang berubah.” (Dr. Robby I. Chandra -Ketua Komisi Kependetaan Sinode GKI, Ketua Badan Bina Pendeta GKI SW Jabar, Wakil Ketua Badan Pengurus Young Leaders Indonesia, dan dosen MM Ukrida Jakarta jurusan Manajemen Gereja.)

“Buku “Leadership Wisdom” memperingatkan saya untuk mengatakan bahwa “Kepemimpinan bukan segalanya, dan segalanya bukan kepemimpinan. Kepemimpinan memang membutuhkan segalanya, karena tanpa segalanya, kepemimpinan tidak akan ada artinya. Artinya, dengan mempelajari seperangkat ilmu kepemimpinan, tidak akan berarti tanpa dukungan dari ilmu pengetahuan lainnya.  Tetapi pada sisi lain, dapat dikatakan bahwa tanpa kepemimpinan, segala yang lain tidak akan tajam. Karena itu bidang-bidang apa pun membutuhkan ilmu kepemimpinan yang merupakan dinamika bagi ketajaman performansi semua yang lainnya.” Dengan demikian, saya merekomendasikan buku: Leadership Wisdom  karya Dr. Daniel Ronda sebagai bagian dari upaya memperkaya ilmu lain yang kiranya memberikan kemanfaatan besar bagi para pemimpin pembelajar untuk memperkaya diri menjadi lebih berkualitas yang kiranya dapat mewujudkan upaya memimpin yang berhasil dalam dunia yang berubah. Selamat!” (Dr. Yakob Tomatala -CEO YT Leadership Foundation, Jakarta Motivator dan Pakar Pengembangan SDM Kepemimpinan Kristen)

"Penulis berhasil mengangkat berbagai masalah aktual dan cara penanganannya berdasarkan prinsip kepemimpinan Kristen. Wajib dibaca agar para pemimpin dapat terus mengedepankan integritasnya.” (Christono Santoso - Direktur Eksekutif Yayasan Haggai Indonesia)
HADIRILAH KULIAH UMUM...GRATIS
TOPIK : LEADING CHANGE IN CHURCHES (Memimpin Perubahan dalam Gereja)
Pembicara : Dr. Alan McMahan (Ketua Departemen Intercultural Studies Biola University USA) -mantan dosen STT Jaffray
Tempat : Kapel STT Jaffray
Tanggal : 21 Januari 2011
Waktu : Jam 09.00-12.00
Seminar ini cocok bagi hamba-hamba Tuhan, mahasiswa teologi dan aktivitas gereja. Mohon sampaikan dan sebarkan. Terima kasih.

Saturday, November 13, 2010

Artikel "Preaching": Pentingnya Alkitab

Pengkotbah, pertama tama haruslah cinta akan Alkitab. Tanpa itu dia tidak bisa menjadi pengkotbah yang efektif dan diurapi. Prinsip dasar ini dikumandangkan dosen saya, Elsworth Kalas, di mana dia mengartikulasikannya dalam buku “preaching from Soul”. Namun godaan terbesar seorang pengkotbah adalah terbiasa dengan Alkitab dan Alkitab sering menjadi obyek pembelajaran sehingga kitab suci ini bukan suatu kitab di mana kita kagum kepadanya. Ketika kita mempelajari Alkitab, kita jadikan bahan studi belaka. Memperlakukan kitab seperti ini akan membuat Alkitab hanya dijadikan dokumen sejarah dan tradisi belaka. Padahal kita harus mencintai Firman Tuhan karena itulah dokumen tertulis yang adalah firman Allah yang menjadi sumber kehidupan kita, di mana penilaian kita atas hidup sangat bergantung kepada Alkitab.

Memang tantangan pengkotbah abad ke 21 ini beda dengan tantangan teolog abad ke 16 di mana Calvin, Luther, dan tokoh reformasi lainnya hidup. Hari-hari ini Alkitab menghadapi kritik dari berbagai arah. Ada kritik yang internal dan ada kritik yang eksternal. Ada berbagai kritik Alkitab (biblical criticsm), di mana ada yang baik, namun tidak sedikit yang meragukan teks Alkitab. Bahkan ada teolog yang berani mengklaim ada kubur Yesus, seperti dilakukan oknum teolog di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Kritik yang meragukan keabsahan Alkitab tentunya dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pengkotbah yang mencintai Firman Tuhan tertulis ini. Belum lagi tantangan eksternal dari kaum pluralis yang menantang keeksklusifan kebenaran Firman Tuhan. Semua kebenaran Firman Tuhan, menurut kaum liberal, tidak bisa diklaim sebagai kebenaran, dan hanya sebagai salah satu kebenaran dari berbagai macam kebenaran. Ini tantangan terbesar bagi pengkotbah. Dapat dikatakan ini menjadi trauma bagi pengkotbah modern karena para teolog masa kini telah memandang Alkitab tanpa respek dan cinta, dan ini membuat Alkitab diperlakukan sewenang-wenang.

Bagi saya, pengkotbah harus memiliki keyakinan khusus akan Alkitab. Alkitab harus diyakini sebagai Firman Allah yang diwahyukan Allah, tidak ada kesalahan dalam naskah aslinya, memiliki ororitas dan menjadi norma bagi kehidupan manusia. Itu sebabnya ketika pengkotbah naik mimbar, dia memiliki otoritas dalam berbicara dan menyampaikannya dengan keyakinan yang kokoh. Mungkin pandangan saya ini dianggap terlalu keras bagi teman-teman teolog lainnya, di mana mereka berpandangan menghormati Alkitab sebagai dokumen dan tradisi. Tetapi saya tentunya harus memiliki keyakinan seperti ini, karena otoritas hanya bisa ada bila kita mempercayai Alkitab sebagai Firman Allah.

Namun ada juga yang mendekati Alkitab bukan sebagai buku yang didekati dengan memakai pendekatan eksegesis dan hermeneutika biblika yang baik, tetapi mendekati dan menyampaikan Firman Tuhan hanya dengan menggunakan pengalaman hidupnya dan apa arti firman dalam hidupnya. Pengalaman bahkan kemudian menjadi ajaran gerejanya, sehingga tidak heran banyak ajaran aneh muncul karena mendasari diri dalam pengalaman semata. Meskipun saya juga melakukan hal yang sama yaitu menghargai pengalaman bertemu Tuhan, tetapi setidaknya saya melakukan studi mendalam dan meditasi Firman yang membuat saya mampu menggalinya, menjelaskannya dengan kejelasan dan menyajikannya dengan aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menjelaskan kecintaan kepada Alkitab yang seharusnya dimiliki oleh seorang pengkotbah, maka dosen kotbah saya Elsworth Kalas memberikan beberapa pengertian, bagaimana seharusnya seseorang memelihara Alkitab secara serius dan penuh cinta. Saya mencoba untuk menyadur dan memberikan intisari dari pemikirannya (J. Elsworth Kalas, Preaching from Soul (Nashville: Abingdon, 2003), 10-14).

1. Percaya bahwa Alkitab untuk setiap pembaca sampai saat ini. Kita mengakui bahwa setiap orang percaya adalah imamat yang rajani dan memiliki kesamaan kedudukan dalam mempelajari Firman Tuhan. Tetapi, sengaja atau tidak, para teolog pengkotbah seringkali memberi kesan dalam tulisan maupun kotbahnya bahwa jemaat biasa tidak akan bisa mengerti Firman Tuhan sebagaimana yang mereka fahami. Memang benar bahwa teolog pengkotbah memiliki keahlian studi biblika, namun dalam penerapan Alkitab ke dalam kehidupan sehari-hari belum tentu mereka kalah, malahan mungkin mereka lebih baik. Profesionalitas kita tentu tidak salah, di mana kita tetap menggunakan bahasa Ibrani, bahasa Yunani dan semua latar belakang sejarah dan geografi Timur Tengah dan budaya Yunani. Tetapi kita tidak bisa memberi kesan kepada jemaat bahwa tanpa studi eksegesis jemaat tidak dianggap benar dalam membaca Alkitab. Kotbah kita harus mendorong jemaat membaca Alkitab secara meditatif dan studi sederhana sehingga jemaat punya keyakinan bahwa Alkitab adalah untuk seluruh umat manusia dan memberikan pedoman bagi manusia.

Itu sebabnya seorang pengkotbah harus menyadari soal waktu “saat ini”, karena banyak pengkotbah merasa seperti sejarawan, ahli sosiologi, politikus, pembawa acara berita TV dalam menyampaikan kotbah. Apalagi sibuk menggali masa lalu, di mana merasa sangat nikmat rasanya mendapat hal baru dari penggalian sejarah Alkitab. Kita lalu merasa berkewajiban menjelaskannya tanpa menyadari bahwa jemaat tidak tertarik kepada masa lalu. Jemaat memerlukan pengkotbah yang sadar waktu “saat ini” dalam menyampaikan Firman Allah.

2. Mengenal dan menguasai Alkitab secara keseluruhan, tetapi membaca seperti Anda belum pernah melihat sebelumnya. Ini mungkin bicara berlebihan dan menuntut kesempurnaan, namun itulah tanda seorang yang mencintai sesuatu. Saya sudah membaca Alkitab secara keseluruhan berkali-kali, tetapi saya tetap berkomitmen membacanya lagi dan lagi. Agar tidak merasa sebagai rutinitas, maka perlu membaca dari berbagai terjemahan dan beberapa Alkitab studi terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) atau juga Alkitab..., terbitan Gandum Mas, Alkitab terbitan Yaperin Jangan berfokus kepada perbedaan teologi, tetapi bagaimana berbagai ahli memahami Alkitab yang dapat memperkaya kehidupan rohani kita.

3. Pengkotbah harus skeptis terhadap diri sendiri. Maksudnya adalah setiap pengkotbah harus mengakui bahwa ia mendekati Alkitab dengan penilaian yang sudah ada pada dirinya (prejudice). Kita biasanya serius menafsir Alkitab, tetapi kita tidak pernah memberi perhatian secara seriuss bagaimana sebenarnya kita memahami sebuah teks dan bagaimana kita menafsir sebuah teks. Kita perlu punya hati dalam berkotbah, tetapi kita mudah tergoda untuk menafsir Alkitab berdasarkan tujuan gereja, pergumulan pribadi dan sasaran yang ingin kita capai. Karenanya kita memerlukan kontrol lewat pengajaran gereja yang ada, leksonaris gereja, tuntunan buku-buku tafsiran bermutu yang akan secara obyektif mengontrol tafsiran atas teks yang kita pelajari.

4. Jangan takut bergumul dengan Alkitab. Pengkotbah biasanya sangat profesional dengan penggalian Alkitab dengan memakai berbagai teknik penafsiran, tetapi sedikit sekali waktu menggumuli masalah diri dan jemaat dengan Alkitab. Pengkotbah sepatutnya diam sejenak dalam penyampaian Firman, terutama ada jeda dalam setiap poin yang disampaikan, di mana kita mengizinkan jemaat menggumuli firman dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu tentunya pada waktu pengkotbah menyiapkan diri menyampaikan firman, ada waktu dia menggumuli makna teks ke dalam pergumulan pribadinya. Bahkan menggumuli apa yang terjadi pada jemaatnya, karena pengkotbah adalah wakil Allah bagi jemaatnya. Di sini akan terlihat orisinalitas kotbah yang hidup dan bukan hanya sebuah studi teks belaka. Ini akan membuat sebuah kotbah memiliki jiwa. Pengkotbah telah memiliki hati gembala karena menggumuli teks dengan kehidupan jemaat.

5. Mempraktikkan eksegesis psikologis. Teks tentu harus dipelajari sebagai teks tertulis, tetapi teks seharusnya juga bisa difahami dengan menghidupkan karakternya lewat imajinasi dan emosi kita. Itulah yang dimaksud Dr. Kalas sebagai eksegesis psikologis. Artinya, dalam membaca Alkitab kita belajar masuk ke dalam karakter tokoh atau situasi itu dan membayangkan emosi dan perasaan dan suasana pada waktu itu.

Sebagai contoh, ketika saya berkotbah secara naratif dalam Lukas 17:11-19 tentang 10 orang kusta yang hanya satu orang bersyukur ketika disembuhkan Tuhan. Dengan melakukan penelitian yang mendalam dari teks Perjanjian Lama dalam kitab Imamat dan Ulangan soal orang sakit kusta, maka saya bisa membayangkan jeritan hati seorang kusta yang berteriak, “Yesus, guru, kasihanilah kami!” Ada perasaan haru karena orang kusta harus tinggal terpisah, bahkan harus berteriak najis ketika melewati seseorang dan berhak diludahi sebagai seorang najis.

Atau waktu membaca kisah Yesus mengusir roh jahat dari seorang anak (Lukas 9:37-43), apakah kita bisa membayangkan betapa pedih hati seorang bapak yang mengadu kepada Yesus tentang anaknya yang diserang kuasa setan dan sampai mulutnya berbusa-busa. Memang ini tidak ada dalam catatan sejarah dan berbagai tafsiran, tetapi membiarkan hati bapa hidup dalam cerita ini membuat kita masuk dan merasakan hidupnya kisah ini, sehingga kita menyuskuri lebih dalam lagi akan maksud teks tentang kuasa Yesus. Kita akan melihat dimensi baru akan kuasa penyembuhan yang Yesus lakukan.

Alkitab secara ajaib berbicara juga soal karakter dari tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Di dalam Alkitab kita melihat ada sukacita, kegembiraan, ketakutan, frustrasi dan bahkan ada pribadi yang tidak menyenangkan. Contoh yang nyata adalah kitab Mazmur, di mana pujian syukur dan pengagungan berisi ungkapan emosi dari penulisnya tentang kegembiraan, kesedihan, dan berbagai emosi lainnya. Tulisan Rasul Paulus juga penuh dengan doktrin yang diselipi dengan emosi dan ungkapan hati seorang Paulus, di mana ada syukur, ada sukacita, ada penguatan, ada kesedihan, termasuk kemarahan dan teguran. Semuanya terjalin dalam doktrin yang ditulisnya. Ini membuktikan pentingnya kita memasuki karakter seseorang.

Cara ini bukan hal baru yang dilakukan, di abad ke-4 seorang pengkotbah Chrysostom telah menafsir Paulus bukan hanya dari sudut teks saja tetapi bercakap-cakap dengan dia. Dikatakan bahwa dia menafsir Paulus bukan “a depersonalized, neutral endeavor in which a person (the reader) meets an object (a written text), but rather [as] a conversation among friends.” Ini yang membuat dia sangat dikenal sebagai pengkotbah yang sangat ahli soal Paulus.

Ini bukan berarti membiarkan pengkotbah menjadi malas dalam melakukan studi teks. Eksegesis psikologis bukan pengganti dari studi tentan teks. Ini dimaksudkan sebagai penunjang mengingat teks bukan sesuatu yang dingin pada waktu ditulis, tetapi cerita dan kepercayaan yang lahir dari sebuah pengalaman rohani bersama Tuhan.

Dari kelima poin di atas, kita dibawa untuk melihat Alkitab secara serius dan penuh dengan cinta dalam menghidupi dan menyajikannya. Dalam pengalaman saya bergaul dengan teolog dari berbagai aliran dan mendengarkan kotbah mereka, saya merasakan atmosfer yang berbeda. Pada satu sisi ada kelompok teolog yang sebenarnya tidak mencintai Firman Tuhan. Mereka merasa malu punya Alkitab daripada merasa terinspirasi oleh Alkitab. Itu sebabnya dalam tulisan maupun kotbahnya dia melontarkan berbagai kritik tajam dan bukannya menjadi ekspositor yang menjelaskan Alkitab dengan penuh antusias. Pada sisi lain ada juga teman-teman pengkotbah yang menggebu-gebu cinta akan Alkitab, tetapi dalam penyajiannya mereka mengandalkan pengalaman pribadi, kesaksian, buku ilustrasi dan tidak menguraikan Firman Tuhan dengan sebenarnya. Firman Tuhan diuraikan sangat sedikit dan lebih banyak cerita ilustrasi yang kadangkala tidak berhubungan dengan teks yang dibahas. Itu sebabnya muncul istilah “entertainer preacher” atau pengkotbah penghibur seperti yang dikatakan John Piper.

Sunday, October 10, 2010

Perbedaaan Komunikasi dan Kotbah

Great Preachers are good communicators, but good communicators are not necessarily great preachers – Pengkotbah besar adalah komunikator yang baik, tetapi komunikator yang baik belum tentu pengkotbah besar (Crawford Lorrits)

Apakah penting belajar komunikasi dalam kotbah? Seberapa beda antara komunikasi dan kotbah? Harus dicatat bahwa bagi pengkotbah perlu belajar komunikasi dengan lebih intens, karena kajian ilmiah komunikasi terbukti sangat menolong seseorang menjadi efektif dalam berbicara, baik secara hubungan antar pribadi (interpersonal relatinship) dan berbicara di depan publik. Teori komunikasi sendiri merupakan keahlian yang harus dipelajari dan diperdalam dalam kehidupan intelektual seorang pengkotbah.

Tetapi menjadi pengkotbah tentu berbeda dengan menjadi orator, berpidato di depan massa. Walaupun kelihatannya harus memiliki teknis keterampilan yang sama yaitu sama-sama berbicara di depan publik, secara hakikat berkotbah sangat berbeda dengan berkomunikasi. Kotbah lebih dari sekadar berkomunikasi, dan bukan sekadar cara membuat pendengar terkesan. Kotbah adalah sebuah percakapan rohani di mana dia mewakili Allah menyampaikan maksud hati Allah kepada umat-Nya. Kotbah adalah sebuah tugas suci menyampaikan maksud hati Allah dari amanat teks yang Tuhan sudah maksudkan dari firmanNya.

Itu sebabnya kotbah berbeda dengan komunikasi. Crawford Lorrits menuliskan hakikat kotbah, yang membuat kotbah berbeda dari komunikasi pada umumnya. Prinsip komunikasi kotbah adalah (The Art and Craft of Biblical Preaching, hal. 36-38):
1. Jangan pernah berdiri di depan jemaat untuk berkotbah, di mana Alkitab sudah di tangan, tetapi tidak mengharapkan perubahan. Alkitab sebagai buku suci yang kita pegang adalah buku yang mengubahkan, maka kita harus punya suatu keyakinan bahwa Tuhan akan mengubahkan umatNya ketika Firman Tuhan disampaikan. Tanpa keyakinan seperti itu, kita tidak layak disebut seorang pengkotbah. Maka setiap pengkotbah patut bergumul tentang perubahan apa yang Tuhan harapkan untuk disampaikan kepada jemaat.

2. Selalu mengingat prinsip bahwa tujuan dari pelayanan adalah transformasi (perubahan). Misi ini harus diemban seorang pengkotbah, yaitu misi transformasi. Dia tidak hanya berkotbah dengan tujuan agar diterima oleh majelis dan jemaatnya. Kebanyakan pengkotbah, terutama yang bekerja menetap dalam gereja, memiliki kecenderungan berhati-hati dalam berkotbah. Ada semacam tindakan refleks untuk tidak menyinggung masalah bila berhubungan dengan masalah yang ada dalam pemimpin dan kepemimpinan dalam gereja. Pengkotbah merasa perlu untuk tidak menciptakan masalah dengan berusaha “menyenangkan” majelis (baca kepemimpinan gereja). Tujuannya agar dapat diterima.

3. Prinsip utama yang tak kalah penting adalah bahwa kotbah haruslah lahir dari kehidupan suci dari sebuah pribadi yang utuh. Berbeda dengan orator yang tidak terlalu dipedulikan kehidupan pribadinya, maka seorang pengkotbah harus menghidupi apa yang dikatakannya. Tidak ada pengkotbah sempurna, tetapi kehidupannya menunjukkan komitmen suci dan nampak dari kepribadian yang bertumbuh dewasa dan tidak kekanak-kanakan. Pribadi kekanak-kanakan seperti tidak mampu mengontrol diri, emosial, temperamental sehingga dikenal sebagai cepat marah, tersinggung dan wawasan yang sempit. Sulit bagi seseorang menerima bila dia mengetahui kehidupan pribadi yang tidak mencerminkan apa yang telah disampaikannya.

Tetapi apa yang benar-benar membedakan antara kotbah dan komunikasi pada umumnya? Bila komunikasi, motif hati bisa apa saja dan tidak perlu dinilai, tetapi motif kotbah hanya satu dan harus murni yaitu menyampaikan hati Allah, dan bukan mencari keuntungan. 2 Korintus 2:17, berkata, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.”

Bila menyampaikan kotbah, maka kita bukan aktor yang berbicara dengan mimik dan emosi yang meyakinkan, tetapi motif hati tidak dipertanyakan. Bisa saja seorang orator menangis atau tertawa, tetapi belum tentu tangisan itu keluar dari hati atau tertawa sukacita palsu. Itu terjadi karena kita sedang berperan sebagai aktor. Sedangkan kotbah keluar dari prinsip integritas hati dan bukan “akting”. Ketika seseorang berakting, maka mimik, kata-kata dan gerak tubuhnya sangat meyakinkan. Namun semua itu tidak bisa mengubahkan, karena tidak lahir dari hati yang terdalam.

Itu sebabnya seorang pengkotbah tidak berfokus kepada upaya membuat jemaatnya tertawa, walaupun humor penting. Humor yang baik lahir dari sebuah pergumulan pengkotbah untuk membuat amanat teks lebih jelas lewat kemampuan menertawakan kebodohan diri dan kemauan untuk berubah. Tetapi membuat jemaat tertawa agar disenangi jemaat menjadikan kotbah tidak lebih dari hiburan lawak yang tidak memiliki kuasa rohani. Jangan salah mengerti, humor penting. Saya akan bahas secara khusus nantinya mengapa humor penting dalam sebuah percakapan.

Orator biasanya berharap mendapatkan tepuk tangan dan pujian berdiri (standing ovation) dari pendengarnya. Karena bila tidak feedback seperti itu, maka seorang orator akan kehilangan daya tariknya. Sedangkan seorang pengkotbah tidak memfokuskan diri mendapatkan tepuk tangan, tetapi adanya perubahan sikap dari jemaat. Kita tidak sedang berkotbah dengan tujuan untuk mendapatkan pujian dan senyuman atas kalimat-kalimat yang disampaikan.

Lebih lanjut, dalam berkotbah kita tidak sedang bersinetron dalam berkotbah. Kotbah sedang berbicara tentang kebenaran kekal dengan cara yang penuh integritas dan transparan. Ketika disampaikan dengan penuh integritas, maka prinsip komunikasi memperkaya kotbah seseorang dan bukan kemampuan komunikasi yang menggantikan kotbah seseorang.

Kesimpulannya, komunikasi penting dan harus didalami. Tapi jauh lebih penting kotbah yang bukan mendasari dalam prinsip komunikasi, tetapi kepada menyenangkan hati Allah. Komunikasi sebagai alat pendukung yang didasari pada prinsip Allah dalam berkomunikasi.

Sunday, September 12, 2010

Skandal "Gay Sex" Pemimpin

Di tahun 2006, publik Amerika dikejutkan oleh skandal seks yang dilakukan tokoh terkenal Pendeta Ted Haggard, seorang tokoh yang memiliki umat 14.000an dan juga dikenal dekat dengan mantan Presiden George W. Bush yang sekaligus menjadi penasehat presiden negara adidaya itu. Dikatakan menghebohkan, karena di samping Ted Haggard sudah punya istri, anak dan cucu, dia terlibat skandal di mana dia ketahuan menyewa PSK pria dan membelikan narkoba kepada PSK yang sekaligus pemijatnya. Perselingkuhan ini ketahuan setelah Ted sibuk berkampanye anti pernikahan sesama jenis di media, termasuk televisi. Pria PSK yang kebetulan menyaksikan hal ini di TV, yang kemudian dikenal bernama Mike Jones, kemudian menghubungi fihak media dan menyatakan bahwa Ted adalah teman kencannya. Kontan saja ini menghebohkan semua fihak, baik dari kaum agamawan dan orang yang beragama tentunya. Apalagi kaum yang menentang agama (baca: ateis) menjadikan skandal ini sebagai bahan lelucon dan olok-olok di berbagai media. Intinya mereka menertawakan dan membuktikan betapa munafiknya kaum rohaniwan dan agama sebetulnya tak lebih dari sebuah kemunafikan.

Ted kemudian berhenti dari kepemimpinan di gerejanya dan berbagai kepemimpinan lainnya. Dia mengikuti program konseling dan juga mengikuti beberapa mata kuliah di universitas yang berhubungan dengan konseling selama kurang lebih dua tahun.

Setelah lama tidak terdengar kabarnya, maka pertengahan tahun ini (2010), Ted Haggard kembali ke publik dengan melakukan tur pertobatan (repentance tour), mengumumkan pendirian gereja baru dan istrinya Gayle menerbitkan buku baru yaitu “Why I Stayed: The Choices I Made In My Darkest Hour” di mana istrinya ternyata mengampuni perselingkuhan suaminya dan tetap mempertahankan pernikahan. Ia pun mengklaim bahwa suaminya sudah sembuh dari sisi “gay” yang ada pada suaminya. Hal ini menarik publik Amerika yang ingin tahu mengapa Gayle rela kembali kepada suami yang mengkhianatinya. Ia pun diundang di berbagai TV nasional termasuk Oprah Winfrey’s Show, Larry King, Good Morning America, termasuk dibuatkan film dokumenter di HBO tentang kisah Ted Haggard.

Mengapa Gayle bisa megampuni? Walaupun saya belum membaca bukunya, ada beberapa petikan pelajaran yang bisa diambil dari kisah yang dituliskannya. Ini saya ambil dari beberapa wawancara yang ada di berbagai media:

Pertama, Gayle mengakui ternyata di awal pernikahannya, bahwa suaminya pernah mengaku punya hubungan homoseksual sebelumnya. Namun Gayle menganggap enteng masalah ini dan membuat hal ini seolah tidak ada. Ini mungkin pelajaran berharga bagi setiap pasangan untuk mengecek latar belakang masing-masing dan memperbaikinya sebelum sesuatunya terlambat dan akhirnya bisa menghancurkan pernikahan. Kebanyakan pasangan, terutama wanita, tidak percaya bila suaminya selingkuh dan malah menutupinya. Lebih baik diselesaikan dengan baik dan jika perlu mencari konselor untuk menyelesaikan masalah ini.

Kedua, Gayle bersedia mengampuni suaminya. Dalam bukunya tentu ia menggambarkan betapa sakitnya mendengar cerita-cerita skandal yang kemudian ternyata ada kebenarannya. Tetapi dalam kepedihannya ia mengampuni dan sejak skandal muncul, dia tidak pernah pisah ranjang. Ini tentu pelajaran berharga bahwa pengampunan penting dalam kehidupan rumah tangga. asalkan ada pengakuan dan penyesalan dari fihak yang berselingkuh. Memilih mengampuni memang langka dalam masyarakat independen seperti Amerika, tetapi nilai ini masih ada dan perlu dilakukan. Tidak ada orang yang sempurna dan semua orang punya kesalahan, termasuk di area seksual. Inilah merupakan kesimpulan yang diambil oleh Gayle dalam masa-masa sulitnya. Maka kalau kita lihat dan bandingkan dengan kasus Cut Tari, seharusnya kita belajar bagaimana suaminya bisa juga mengampuninya. Publik menganggap aneh, tetapi bagi saya itu nilai yang harus dihidupkan.

Ketiga, Gayle memutuskan untuk tetap mencintai suaminya (choosing to love). Memilih untuk tetap menaruh cinta kepada suaminya walaupun dia sudah berbohong memang bukan hal mudah. Sejak awal dia sudah memilih tetap mencintai suaminya, memilih untuk berjuang (fight) untuk mempertahankan pernikahan dan keluarganya. Kita bisa belajar ternyata cinta bukan melulu perasaan, tetapi komitmen dan penggunaan akal budi untuk memilih bertahan di dalam kelebihan dan kekurangan pasangan. Tanpa pilihan yang jelas, maka kita akan terus hidup dalam kegelapan dan sakit hati yang berkepanjangan.

Yang terpenting tentunya bagaimana sang suami sendiri yang bersedia mengakui kesalahan dan komitmen untuk memperbaikinya.