Friday, April 4, 2008

BISNIS DALAM PANDANGAN ALKITAB

(Pernah dimuat dalam Majalah Kalam Hidup)


Pendahuluan

Bagaimana seorang Kristen menjalankan bisnis yang baik dan berdasarkan Firman Allah adalah sesuatu topik yang penting diketahui para hamba Tuhan, karena mungkin ada jemaatnya yang adalah usahawan. Dalam tulisan ini saya membatasi diri kepada prinsip-prinsip Alkitab tentang bisnis.

Dalam topik tentang bisnis dalam pandangan Alkitab, maka perlu dibahas mengenai apakah dasar pegangan Alkitab dalam melakukan bisnis; apakah yang menjadi isu-isu di sekitar kita yang penting diberikan tanggapan termasuk etika dalam berbisnis. Kesemuanya ini lebih berfokus kepada refleksi teologis dan bagaimana isu yang muncul di sekitar bisnis dilihat dalam terang Firman Allah.

Dasar Pegangan Alkitab dalam Berbisnis

Bahwa kehendak Allah bagi manusia untuk bekerja, baik sebelum kejatuhan (Kejadian 1:28), maupun sesudah kejatuhan manusia (Kejadian 3:17-19). Sebelum kejatuhan, pekerjaan adalah suatu anugerah dan panggilan dari Allah sendiri. Sesudah kejatuhan, pekerjaan tetap merupakan anugerah dan panggilan, namun sekarang akibat dosa maka pekerjaan itu dilakukan dengan penuh persaingan. Di dalam Perjanjian Baru, Paulus menasehatkan jemaat bahwa hendaklah bekerja. Ia juga memperingatkan bahwa, “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (II Tesalonika 3:10b). Jadi bekerja adalah anugerah dan panggilan. Itu sebabnya seorang Kristen haruslah bekerja dan bila perlu bekerja dengan giat dan keras. Hilangkan budaya gengsi dan malu dalam bekerja. Gengsi artinya bagaimana pandangan orang lain tentang diri seseorang dan biasanya diasosiasikan dengan harta dan pekerjaan tertentu. Kekristenan tidak mengenal budaya gengsi. Pengejaran prestasi adalah karena dia adalah makhluk yang berharga di mata Tuhan dan penilaian manusia bukan didasarkan atas orang lain, melainkan hanya Tuhan.

Bagaimana dengan praktek bisnis? Adalah penting bagi orang percaya bahwa Alkitab menjadi satu-satunya penuntun dalam kehidupannya (sola scriptura), dan itu termasuk dalam melakukan kegiatan bisnis. Menurut Larry Burkett, ada beberapa dasar Alkitab dalam melaksanakan bisnis:[1]

Pertama, menjalankan bisnis yang mencerminkan Kristus. Dunia bisnis tidaklah selalu jujur. Oleh karenanya tiap orang Kristen wajib hidup dalam kejujuran. Tuhan sendiri berkat bahwa Ia bergaul erat dengan orang jujur (Amsal 3:32). Setiap pelaku bisnis pasti mencari untung dan semua orang mengetahui hal itu. Tidak mungkin ada sebuah bisnis berjalan bila tidak ada keuntungan. Tetapi hendaklah keuntungan bukan satu-satunya tujuan dalam praktek bisnis, sebab bila demikian seseorang akan berupaya menghalalkan segala cara untuk mencapai untung. Padahal setiap perilaku orang percaya ada di bawah terang Kristus.

Kedua, menjalankan bisnis yang bertanggungjawab. Maksudnya, pelaku bisnis mampu bekerjasama dengan orang lain dan bisa menerima masukan dari beberapa rekannya (termasuk pasangannya); menyediakan produk yang bermutu dengan harga yang sesuai; menghormati orang yang memberi hutang kepada Anda (Amsal 3:27-28); memperlakukan bawahan dan karyawan dengan adil terutama dalam hal upahnya; dan menjadikan pelanggan atau orang yang menikmati produk atau jasa Anda sebagai yang utama. Jangan menipu mereka.

Hal yang penting bagi para pelaku bisnis Kristen adalah (1) hendaklah setiap pelaku bisnis memiliki hati nurani; (2) kemudian hendaknya ia peka terhadap masalah-masalah sosial yang ditimbulkan dalam bisnisnya; (3) hendaknya ia melayani sesamanya.[2] Tantangannya adalah apakah para pelaku bisnis yang notabene orang Kristen mampu memiliki wawasan sosial sehingga pengejaran akan keuntungan hanya merupakan salah satu tujuan di samping menolong sesama dan memelihara lingkungannya.[3]

Isu-Isu Dalam Dunia Bisnis

Dunia bisnis di Indonesia penuh dengan lika-liku yang tidak gampang. Seorang yang mau terjun dalam dunia bisnis menghadapi setidaknya permasalahan yang cukup kompleks dan berat. Pada kesempatan ini saya mengangkat beberapa isu yang penting yang perlu dibahas dalam dunia bisnis di Indonesia:

(1) Masalah Upah/Gaji

Di Indonesia ada yang disebut ketentuan upah minimum untuk para karyawan atau buruh. Masalahnya mungkin adalah seringkali gaji masih di bawah upah minimum. Di sinilah kepentingannya kita melihat manusia bukan sebagai alat produksi tetapi sebagai manusia, makhluk ciptaan Allah. Firman Tuhan berkata, “Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya kepadanya” (Yeremia 22:13). Pada bagian lain Alkitab berkata, “Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu” (Yakobus 5:4). Ada beberapa pedoman tentang cara mengupah karyawan atau buruh dari ayat-ayat di atas: “1) Tuhan tidak menghendaki semua orang dibayar dalam jumlah yang sama; 2) Mereka yang melakukan pekerjaan lebih baik harus dibayar lebih besar; 3) Tuhan sangat menuntut keadilan di dalam membayar upah para karyawan; 4) Majikan Kristen bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan minimal para karyawannya.”[4]

(2) Masalah Suap

Bagaimana menyelesaikan suap yang begitu merajalela di Indonesia? Tidak mudah berbicara soal suap, karena sepertinya korupsi, uang pelicin, suap sudah merupakan “budaya” Indonesia. Tetapi benarkah demikian? Bagaimanakah kita mengatasinya? Bernard T. Adeney di dalam bukunya memberikan suatu saran bahwa suap (bribes) adalah dosa dan salah, namun kita bisa melakukan pemberian.[5] Pemberian (gifts) itu harus bersifat tulus dan tidak membelokkan kebenaran, serta tidak mendominasi, tidak mengontrol, dan tidak membelokkan hukum (Amsal 17:23).[6]

Penutup

Dalam mengakhiri tulisan ini, maka penting untuk menghubungkan bisnis dan pelayanan. Ide yang baik misalnya perlu mengadakan ibadah di kantor Anda. Ini untuk menolong karyawan bertumbuh secara rohani.[7] Juga perlu dipikirkan menolong pemuda-pemuda Kristen di gereja yang memerlukan pekerjaan (walaupun bukan tanpa masalah). Ini untuk bertolong-tolongan menanggung beban sesama (Galatia 6:10). Ada banyak ide yang bisa dibuat oleh orang percaya untuk dapat menjadi saksi Kristus, dan bukan semata-mata mengejar keuntungan.



[1] Larry Burkett, Kunci Sukses Bisnis Menurut Alkitab, terj. T.B. Herlim (Yogyakarta: Andi, 1997), 18-37. Larry menyebut ada enam dasar minimum Alkitab dalam bisnis, dan saya meringkasnya menjadi dua saja.

[2] E. G. Singgih, Reformasi dan Transformasi Pelayanan Gereja Menyongsong Abad ke-21 (Yogyakarta: Kanisius, 1997), 90.

[3] Ibid., 89-106. Singgih dalam hal ini menantang pelaku bisnis untuk memiliki wawasan sosial yang merupakan panggilan Allah baginya.

[4] Burkett, Kunci Sukses Bisnis Menurut Alkitab, 254.

[5] Alkitab Perjanjian Lama agaknya memiliki pandangan yang ambiguitas tentang pemberian ini. Lihat Amsal 15:27; 17:8; 17:23; 18:16;21:24; 22:16.

[6] Baca sepenuhnya tulisan Bernard T. Adeney, Strange Virtues:Ethics in a Multicultural World (Leicester, England: Apollos, 1995), 142-62. Menurut Adeney masalah suap harus dilihat dengan pendekatan holistik yaitu melalui Alkitab dan juga sosial atau budaya setempat.

[7] Burkett, Kunci Sukses Bisnis Menurut Alkitab, 402.

Monday, December 24, 2007

Selamat Natal dan Tahun Baru 2008

Kami sekeluarga mengucapkan: Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2008.
Doa kami senantiasa untuk pelayanan dan usaha Bapak/Ibu. Terima kasih telah menjadi partner bagi pelayanan kami dan STT Jaffray dalam doa dan dana. Kiranya Tuhan Yesus senantiasa melimpahkan segala yang baik dalam kehidupan kita sekalian dalam memasuki tahun 2008.
Salam,
Pdt. Daniel Ronda
Jl. G. Merapi No. 103; P.O. Box 1054
Makassar, 90010 Sulsel

Friday, November 2, 2007

AGENDA PELAYANAN KOTBAH NATAL

JADWAL PELAYANAN KOTBAH NATAL SAYA PADA BULAN DESEMBER:

9 DES – NATAL GKKA TANJUNG BUNGA

11 DES – KKR KOMISI PRIA GKKA KENDARI

12 DES – NATAL GSJA MAKASSAR

15-16 DES - NATAL DI GKII TIMIKA< PAPUA

19 DES – NATAL JEMAAT GKKA PALU

25 DES - NATAL GEREJA RHEMA

MOHON DUKUNGAN DOA.

JADWAL PELAYANAN LUAR KOTA NOVEMBER

Ada beberapa pelayanan kami ke luar kota sepanjang November ini:

7-8 Nov – Konsultasi Pimpinan STT dengan Depag RI tentang program S2 di Cisarua Bogor

9-11 Nov – Mengikuti Marriage Enrichment di GII Hok Im Tong Bandung

14 Nov – Pembicara dan promosi Magister Konseling pada National Counselling Workshop di Jakarta

18 Nov – Kotbah di GBI Surabaya

23 – 28 Nov – Presentasi Misi dan Kunjungan ke Gereja Alliance Church Hongkong

Mohon didukung dalam doa.

Tuesday, September 25, 2007

PEMIMPIN DAN PERUBAHAN

Pendahuluan:

Hari ini adalah hari yang istimewa bagi wisudawan karena mereka secara resmi telah menyandang gelar dan telah disebut sebagai pemimpin. Pada kesempatan ini saya pribadi mengucapkan selamat atas prestasi semua mahasiswa. Tahun ini juga sangat istimewa, karena kita merayakan 75 tahun STT Jaffray. Untuk itu kami mengucapkan selamat ulang tahun ke 75 untuk Sekolah Tinggi Theologia Jaffray.

Dalam rangka inilah, saya mencoba memberikan suatu renungan tentang bagaimana pemimpin dalam menghadapi perubahan baik dalam dirinya maupun dunia di sekitar mereka. Renungan ini merupakan refleksi singkat dari kitab Yosua 1 dan implikasinya dalam menghadapi prubahan dewasa ini.

Teks Firman Tuhan Yosua 1:1-11:

Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: "Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu. Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." Lalu Yosua memberi perintah kepada pengatur-pengatur pasukan bangsa itu, katanya: "Jalanilah seluruh perkemahan dan perintahkanlah kepada bangsa itu, demikian: Sediakanlah bekalmu, sebab dalam tiga hari kamu akan menyeberangi sungai Yordan ini untuk pergi menduduki negeri yang akan diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diduduki."

Dasar Pemilihan Firman Tuhan:

Kitab Yosua dipilih pada hari ini karena kitab ini menggambarkan perubahan dan peralihan, penyertaan, kesuksesan dan bahkan termasuk juga kegagalan suatu bangsa pilihan Allah yaitu Israel. Disebut kitab perubahan, karena pemimpin berubah dari Musa ke Yosua, dari masa berputar-putar hampir selama 40 tahun dan sekarang siap memasuki tanah perjanjian yang penuh madu dan susunya. Suatu tanah yang dijanjikan kepada bangsa Israel.

Pemilihan nats pada pagi ini sangat relevan untuk acara wisuda ini karena waktu mahasiswa masuk, mereka dinobatkan sebagai mahasiswa, dan sekarang disebut pemimpin; dulu masih calon hamba Tuhan, namun sekarang hamba Tuhan; dulu calon guru sekarang akan menjadi seorang guru, dan seterusnya. Dalam hal yang demikian, maka posisi mereka sudah berubah dari seorang mahasiswa menjadi seorang pemimpin. Bukan hanya diri mereka yang berubah, namun dunia yang akan dilayani juga mengalami perubahan. Bahkan dapat dikatakan bahwa perubahan itu sangat dahsyat dan belum pernah ada dalam era sebelumnya. Beberapa perubahan dahsyat itu antara lain: sekulerisme, materialisme, hedonisme, degradasi moral telah menjadi masalah yang sangat besar baik dalam masyarakat perkotaan maupun pedesaan dan ada dalam semua level. Sekulerisme adalah di mana gereja sudah mengikuti pola hidup dunia dan semuanya serba permisif, sehingga tidak jelas lagi mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Materialisme adalah di mana hamba-hamba Tuhan tergoda untuk mengejar materi sebagai tujuan hidup dan pemujaan terhadap materi. Hedonisme adalah mengejar kesenangan dunia sehingga sudah tidak tahu lagi identitasnya sebagai hamba Tuhan. Semua ini menyebabkan degradasi moral atau kehancuran moral, sehingga banyak hamba Tuhan mulai mengejar hal-hal yang menghasilkan uang semata. Tidak mengherankan banyak hamba Tuhan terjun ke politik, bukan karena panggilan Tuhan tetapi karena uang, ketenaran, dan semangat mementingkan diri sendiri.

Akibat dari perubahan dewasa ini, persoalan lain yang sering dihadapi oleh para pemimpin gereja dewasa ini ada beberapa hal.[1] Pertama, godaan untuk merasa cukup (self-sufficient). Godaan ini adalah para pemimpin merasa dirinya tidak memerlukan orang lain, padahal dia perlu. Dia tidak perlu lagi belajar, tidak perlu bekerjasama dengan orang lain, karena sudah merasa diri cukup dengan gelar kesarjanaan yang diperolehnya. Padahal di dunia sekarang ini saling ketergantungan, kerjasama, jaringan kerja (networking) sangat penting untuk mencapai keberhasilan. Apalagi kita tidak merasa perlu bergantung kepada sang pencipta, yaitu Allah. Padahal secara jelas Yesus berkata bahwa tanpa Aku, kamu tidak akan dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).

Godaan yang kedua adalah ingin menjadi spektakuler yang biasa disebut dengan mental selebritis (celebrity mentality). Yang dimaksud di sini ingin cepat menjadi terkenal dengan segera, dan bukannya bergantung pada Tuhan tetapi kepada kharisma dan pengaruh diri dan bakatnya. Kecenderungan untuk menjadi cepat terkenal dan berhasil menyebabkan banyak pemimpin muda terjebak ke dalam frustasi, karena ketidakseimbangan antara keinginan dan karakternya yang belum matang di pelayanan.

Godaan yang ketiga adalah keinginan yang berpusat pada diri (self-centered desire) untuk berkuasa. Keinginan ini muncul dalam bentuk ingin menguasai orang-orang, gereja, keuangan. Padahal dalam pelayanan jemaat adalah milik Kristus.

Prinsip Menjadi Pemimpin Tangguh dalam Perubahan yang Pesat

Pertanyaannya adalah bagaimana menjadikan diri kita berhasil di tengah perubahan. Ada beberapa prinsip yang Tuhan taruh dalam menghadapi perubahan baik diri maupun perubahan eksternal.

Pertama, meninggalkan masa lalu dan menatap ke depan (1-5). Prinsip ini terambil dari catatan ayat 1-2 di mana Musa sudah mati dan ada proklamasi Tuhan tentang kematian Musa. Kematian Musa bisa saja menyebabkan bangsa Isreal akan menoleh terus ke belakang. Allah menyatakan kematian Musa, agar bangsa Israel meninggalkan masa lalu dan Allah meminta mereka untuk menatap ke depan. Masa lalu bisa menghalangi kemajuan pemimpin. Masa lalu bisa menyebabkan ketakutan, trauma dan ketakutan menghadapi masa depan. Kita perlu melupakan yang lalu dan menatap janji Allah. Pemimpin yang baik selalu mengingat janji penyertaan Tuhan. Kegagalan bisa saja terjadi, namun tidak terpaku kepada kegagalan. Kita menatap kepada Tuhan yang sudah menang.

Kedua, pentingnya memiliki karakter yang baik (ayat 7-8). Di dalam menggenapi janji Tuhan dan menuju ke perubahan yang berhasil, maka karakter menjadi sangat penting. Tuhan meminta agar Yosua dan para pemimpin dan seluruh bangsa agar bertindak hati-hati. Hati-hati terhadap kesenangan yang menggiurkan. Ada juga perintah untuk jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri. Pada waktu itu, “di kanan dan kiri” ada penyembahan berhala, ada kenikmatan dosa. Dan Tuhan meminta kita hidup lurus di hadapanNya agar bangsa itu diberkati. Semua itu hanya bisa dijaga lewat merenungkan Firman Tuhan senantiasa. Ayat-ayat di atas saya simpulkan dengan kata “Integritas seorang hamba Tuhan”.

Di dalam sebuah survey di Amerika yang ditujukan kepada kurang lebih 1300 para pimpinan perusahaan dan pejabat di pemerintahan, mereka ditanya kualitas apakah yang paling penting dimiliki untuk dapat sukses menjadi pemimpin. Jawabannya menarik karena secara mayoritas (71%) mereka memilih jawaban sebagai yang terpenting: integritas.[2]

Arti kata integritas adalah keadaan yang sempurna, di mana perkataan dan perbuatan menyatu dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki integritas tidak meniru orang lain, tidak berpura-pura, tidak ada yang disembunyikan, dan tidak ada yang perlu ditakuti. Kehidupan seorang pemimpin adalah seperti surat Kristus yang terbuka (II Kor 3:2).

Beberapa ciri dari intergritas seorang pemimpin Kristen: pertama, hidup sesuai dengan apa yang diajarkan; kedua, melakukan sesuai dengan apa yang dikatakan; ketiga, jujur dengan orang lain; keempat, memberikan yang terbaik bagi kepentingan orang lain atau organisasi daripada diri sendiri; kelima, akan hidup secara transparan.[3] Integritas sebagai karakter bukan dilahirkan, tetapi dikembangkan secara satu lepas satu di dalam kehidupan kita melalui kehidupan yang mau belajar, keberanian untuk dibentuk Roh Kudus. Itu sebabnya seorang pemimpin terkenal berani berkesimpulan, bahwa karakter yang baik akan jauh lebih berharga dan dipuji manusia dibandingkan dengan bakat atau karunia yang terhebat sekalipun. Kegagalan sebagai pemimpin bukan terletak kepada strategi dan kemampuannya dalam memimpin, tetapi kepada tidak adanya integritas pada diri pemimpin.[4]

Pepatah Melayu berkata, “Semakin tinggi monyet naik ke atas pohon, semakin kelihatan pantatnya yang jelek.” Memang kepemimpinan selalu menjadi sorotan dan ketika seseorang menjadi pemimpin, mulai kelihatan kelemahannya. Tetapi mengembangkan integritas akan menolong kita menghadapi hal ini.

Ketiga, pentingnya melangkah dengan mulai dari langkah-langkah kecil (9-18). Yosua memerintahkan pemimpin pasukannya untuk mulai berjalan. Ada perintah “jalanilah!” Lalu mereka mulai bergerak dan adanya komitmen. Kepemimpinan yang berhasil adalah dimulai dengan mimpi besar, yang dilanjutkan dengan langkah-langkah kecil. Tanpa langkah-langkah kecil, maka mimpi tinggal mimpi. Visi hanya sebuah tulisan di atas kertas, bahkan janji Allah pun menjadi sebuah hal yang tidak akan pernah terwujud tanpa langkah-langkah kecil.

Kesalahan terbesar dalam kehidupan para pemimpin muda adalah selalu melihat kesuksesan sebagai tujuan dan tidak pernah belajar bagaimana sebuah proses menjadi berhasil. Kata kunci di sini adalah “PROSES”. Bila diteliti semua pemimpin gereja yang besar selalu memulainya dengan hal-hal kecil dan mereka semua membayar harganya. Itu sebabnya benar sebuah perkataan ini: “To receive Christ cost you nothing, to follow Christ cost you something, but to serve Christ cost you everything.”

Langkah-langkah kecil itu harus diikuti dengan komitmen untuk mendukung pemimpin yang ada. Ada kata mutiara: a great leader is a great follower. Pemimpin yang baik selalu menjadi bawahan yang baik. Belajar menghargai pemimpin akan menjadikan seseorang akan menjadi besar. Komitmen untuk “menyertai” Dia atau mengikut Dia, harus ditunjukkan dengan kerelaan untuk dipimpin.

Kesimpulan:

Ada beberapa hal yang perlu menjadi rekomendasi bagi para pemimpin dalam menghadapi derasnya perubahan:

  1. Penting bagi setiap pemimpin untuk menatap ke depan. Tidak terfokus kepada kegagalan, masalah yang lalu. Tetap memelihara optimisme terhadap segala janji Tuhan dalam kehidupan kita. Dunia memang berubah dengan pesat, namun Tuhan tidak berubah.
  2. Agar hamba Tuhan sebagai pemimpin mempertahankan integritasnya. Kunci berkat terletak dalam karakter yang serupa Kristus.
  3. Pemimpin harus berjalan dari bawah. Mimpilah besar, namun jangan hanya bermimpi. Ada prinsip melayani yaitu mulai dari menjalani hal-hal kecil. Belajar melayani dari orang-orang besar. Albert Schweitzer (misionari, musisi, dan humanis agama) pernah berkata tentang arti pelayanan, “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada pada masa depan Anda, tetapi saya hanya tahu satu hal: di antara kalian yang akan memiliki kebahagiaan adalah mereka yang sungguh mencari dan mendapatkan prinsip bagaimana melayani.”[5]

Selamat melayani di ladang Tuhan. Tantangan besar, tetapi tetap maju. Jangan pernah mundur. Tuhan menyertai kita semua. Amin.



[1] Maxwell, “How to be a Christlike Servant Leader”, 42-3.

[2] John C. Maxwell, Developing the Leaders Within You (Nasville: Thomas Nelson, 1993), 173.

[3] Ibid, 173-5.

[4] Ibid, 178.

[5] Maxwell, “How to be a Christlike Servant Leader”, 50.