Jl. G. Merapi No. 103
Makassar, 90114 Sulawesi Selatan
Indonesia
Jl. G. Merapi No. 103
Makassar, 90114 Sulawesi Selatan
Indonesia
Mengapa Boediono dan mantan presiden JK diperlakukan “beda” di kasus panitia angket Century? JK dipanggil Bapak dan ada rasa hormat dengan beliau, kalaupun ada yang panggil dengan sebutan daerah, pasti tidak bermaksud menghina, walau aneh terdengar di telinga. Sedangkan wapres kita kok sepertinya tidak dihargai? Dan sepertinya dicecar banyak sekali pertanyaan dan rasa bahasa yang terbaca di TV, sepertinya Pak Boediono “dibantai” oleh DPR. Begitu pula perlakuan terhadap Sri Mulyani dan pejabat lainnya.
Tentu, ada banyak definisi kepemimpinan, ada ratusan. Namun salah satu definisi John Maxwell mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh (leaderhsip is influence). Tetapi dari mana datang kekuatan untuk bisa mempengaruhi orang lain? Banyak teori kepemimpinan mengkaji akan hal ini. Saya hanya mengambil salah satu teori, di mana ada lima level pemimpin mendapatkan wibawanya. Maxwell menyebut tentang adanya lima level kepemimpinan (lihat Developing the Leader Within You)
Pertama, wibawa datang dari posisi yang diterimanya (leadership by position). Posisi ini bisa berupa penempatan atau pemberian jabatan dari pimpinan atau terpilih menjadi anggota Dewan, dan seterusnya. Posisi ini juga didapat karena pendidikan yang diterimanya atau keahlian kerja yang telah dimilikinya. Jadi posisi seseorang dapat membuat dia memiliki wibawa. Namun ini baru wibawa awal, karena banyak juga bawahan dan komunitas menentang posisi kita. Mereka tidak bersedia dipimpin kalau tidak kompeten. Jadi wibawa karena posisi masih lemah atau lebih tepatnya baru awal dari wibawa. Contohnya, perilaku anggota DPR menunjukkan bahwa posisi Sri Mulyani dan posisi Boediono, serta berbagai pejabat yang datang ke DPR tidak menakutkan mereka, bahkan kadangkala berlaku, maaf, sangat tidak sopan.
Kedua, wibawa diperoleh karena bawahan atau pengikut dari satu organisasi mau dipimpin atau memilih saudara sebagai pemimpin (leadership by permission). Itu didapat lewat relasi yang baik antara pemimpin dengan rekan-rekannya, karyawannya atau masyarakat yang memilihnya bila dia anggota Dewan. Ketika pengikut merasa bahwa kita adalah orang yang tepat di posisi itu dan mereka mau bekerja untuk kita, maka itulah yang menghasilkan wibawa. Pada level ini pemimpin diharapkan mengembangkan relasi dan kehumasan dengan baik. Bentuk pecitraan diri juga baik, namun kemampuan berelasi jauh akan menambah wibawa pemimpin. Namun ini masih belum cukup hanya karena bawahan mulai menerima kepemimpinan.
Ketiga, wibawa akan meningkat karena ada hasil yang terlihat setelah seseorang memegang posisi yang diberikan (leadership by production). Misalnya kalau ditempatkan menjadi pimpinan dalam penjualan, maka hasil penjualan meningkat, omset bertambah, mutu bertambah baik dan ada hasil lainnya, maka wibawa akan meningkat. Umumnya pemimpin yang sukses memimpin dengan menunjukkan hasilnya akan diundang ke berbagai acara untuk menceritakan keberhasilannya, apalagi disertai dengan liputan media yang besar. “People are driven by success”, begitu kata pepatah. Jadi wibawa didapat ketika seseorang diakui keberhasilan dan pencapaiannya.
Keempat, pemimpin mendapat wibawa dengan orang-orang yang dikembangkannya (leadership by people developpment). Kepemimpinan itu sejalan dengan waktu, dan wibawa akan terus bertambah jika pemimpin berhasil mengembangkan orang lain di bawahnya untuk menjadi pemimpin sesuai dengan bakatnya.
Kelima, wibawa pemimpin didapat karena pengembangan dirinya lewat integritasnya (leadership by personhood). Sejalan dengan waktu maka pemimpin harus terus memelihara karakternya, relasinya, dan integritasnya. Pada awalnya mungkin semua prinsip etika dan moral masih dalam bentuk pencarian, namun akhirnya semua itu akan nampak lewat kepribadiannya sendiri yang otentik, bukan dalam bentuk slogan lagi. Dan ini membuat orang memiliki kharismanya dan akan terus bersinar. Proses ini adalah proses yang panjang dalam kehidupan pemimpin dan tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Robert Clinton menyebut sebagai proses seumur hidup di dalam “university of life”.
Bila kita telah memahami lima level kepemimpinan ini, maka setiap kita harus memberikan refleksi pribadi. Pertama, kita harus memaksimalkan potensi yang ada pada kita sehingga menjadi kompetensi. Kedua, kita harus memiliki kemampuan menjalin relasi dengan sesama karena kepemimpinan adalah relasi. Ketiga, kita harus memiliki karakter yang baik, budi pekerti luhur dalam kata dan perbuatan.
Apakah ada sumbangan blogger lainnya soal wibawa kepemimpinan? Mohon sumbang saran. Thanks in advance!
Salah satu disiplin yang perlu dimiliki pemimpin adalah memiliki falsafah hidup sederhana (simplicity). Hari-hari ini kita begitu mudahnya tergoda untuk menilai hidup kita dengan harta, gelar, dan semua status sosial, termasuk mimpi-mimpi yang ada di masyarakat. Dunia kita sudah memasuki era materialitistis dan konsumeristis, di mana pemujaan terhadap materi sudah masuk ke tahap pendewaan atau pemberhalaan. Dunia ini juga sudah menjadi begitu sensual, di mana semua acara TV, iklan, termasuk mayoritas musik menjual sensualitas tubuh perempuan. Belum pernah kita memasuki suatu era di mana sensualitas begitu menyeruak ke mana-mana sampai ke kamar-kamar pribadi, tentu asalkan kita punya internet.
Tetapi bertolak belakang sekali bila kita pergi ke desa atau kampung. Kita akan kagum betapa mereka memiliki kehidupan yang sangat “slow down” dan tidak “hurry up”, tidak ada ketergesa-gesaan. Hidup dengan simpel dan ada kebahagiaan tersirat di wajah mereka. Tiap hari adalah anugerah dan hidup dalam kesederhaan. Tidak ada kompleksitas kehidupan. Bila ke desa, saya selalu kagum dan rasanya harus belajar di mana pemimpin ditantang untuk menjadi simpel sebagaimana mereka yang hidup secara sederhana.
Namun itu tidak mudah, karena salah satu penyakit baru dari sebagian pemimpin adalah “celebrity mentality ” atau mental selebritis. Semua kesuksesan dan cepat menjadi terkenal telah menjadi tujuan hidup, dan cara apa saja dipakai untuk mencapainya. Tidak heran, mereka bekerja dengan keras, berani mengorbankan segalanya dengan harapan mencapai sukses secara instan. Hidup kemudian menjadi sangat kompleks dan penuh ketergesa-gesaan. Tidak heran banyak pemimpin hidup dalam kekosongan, kekeringan, “burn out”.
Ada contoh yang menarik yang perlu para pemimpin baru patut teladani yaitu Francis de Assisi (atau Fransiskus dari Assisi). Dia adalah seorang pemimpin agama Katolik yang merayakan hidup sederhana dan kemiskinan sebagai filosofisnya. Walaupun saya bukan orang Katolik, namun kepemimpinannya menginspirasikan bahwa pemimpin yang baik harus memiliki filosofi hidup sederhana (simplicity).
Dia adalah salah satu contoh paling yang terbaik bagaimana pemimpin memiliki filosofi yaitu memilih hidup sederhana. Ayahnya bernama Pietro, seorang Italia yang kaya raya, seorang pengusaha pakaian. Dia mengajarkan anaknya Francis yang sejak remaja dan anggota keluarga lainnya untuk menjadi pengusaha. Namun pada usia yang kedua puluh dia mulai merasakan betapa repotnya hidupnya sebagai orang kaya, yang terlalu berdikus kepada kekayaan dan status.
Suatu kali dia pergi mengambil kain mahal dari tokonya dan kemudian membawa ke pasar dan menjualnya. Lalu ia juga menjual kuda yang biasa dipakainya. Dan yang membuat ayahnya marah adalah semua hasil penjualan kain mahal dan kudanya diberikan kepada orang miskin. Dan yang lebih membuat ayahnya tambah marah adalah bahwa sebulan kemudian dia didapati sedang berjalan di Jalan Assisi sedang meminta-minta sebagai pengemis. Ia menjadi pengemis dengan minta makanan dan juga menjadi badut. Ayahnya kemudian menariknya pulang, memukulinya sesampai di rumah, dan menguncinya di gudang gelap, dan memberi makan dan minum terbatas sampai dia akan sadar. Tetapi ternyata hukuman ini tidak mempan, di mana Francis tetap tidak mau minta maaf. Akhirnya, dalam keputusasaan dia memanggail pastor setempat untuk membimbing anaknya.
Sang pastor menasihatinya bahwa mencuri itu tidak baik, apalagi diambil dari keluarga sendiri, dan tetap tidak baik sekalipun diberikan kepada orang miskin. Dan pastor minta supaya barang yang telah diambil untuk dikembalikan. Dia hanya bisa menggeleng tetapi tidak mengatakan satu apapun. Lalu dia masuk ruangan sementara pastor dan ayahnya menunggu.
Lalu Francis muncul kembali dalam keadaan sudah telanjang. Dia bawa semua pakaiannya, lalu berlutut dan menaruhkan pakaiannya di kaki ayahnya. Lalu kemudian dia berkata, dari dulu sampai saat ini saya menyebut engkau Bapak Pietro di Benardone. Tetapi mulai saat ini saya tidak akan menyebut engkau Bapak Pietro di Benardone, tetapi bapak saya adalah “Bapa kami yang di surga”.
Pastor sangat tersentuh hatinya sehingga dia mengejar Francis yang berjalan keluar, lalu menutupi badannya dengan bajunya sendiri. Sejak saat itu Francis tidak lagi mau menikmati status, kekayaan, semua kesenangan yang dimiliki ayahnya. Dia memutuskan untuk hidup secara sederhana sepanjang hidupnya.
Saat ini dia dikenal sebagai tokoh suci umat Katolik dan pendiri ordo Fransiskan yang berfokus kepada hidup sederhana dan melayani orang miskin secara inklusif, yaitu kepada semua manusia tanpa memandang dari agama mana. Sebagai orang non-Katolik, saya pribadi terkesan dengan komitmennya untuk hidup sederhana dan memiskinkan diri dan menjalankan misi untuk melayani orang miskin. Suatu yang jarang terpikirkan oleh pemimpin. Poin utama yang ingin saya ambil adalah komitmennya untuk hidup sederhana.
Mungkin ini contoh radikal, tetapi pelajarannya jelas bahwa penting untuk tidak memfokuskan kepada pemilikan materi. Tujuan hidup harus jelas bukan kepada materi atau kebendaan. Fokus adalah kepada kebahagiaan diri, keluarga dan sesama. Itu tercapai bila kita mau memiliki falsafah hidup serdehana. Kehidupan yang ditunjukkan dengan berbagi dan memperhatikan si miskin, bergaul dengan orang yang menderita dan termajinalisasi. Di sini kita akan menghargai hidup dan kita akan bahagia dengan hidup apa adanya.
by Daniel Ronda
You cannot be a poor communicator and a good leader (Henry Blackaby).
Kepemimpinan dan berkomunikasi sesuatu yang tidak terpisahkan. Dan salah satunya adalah kemampuan public speaking, seperti ceramah, pidato, presentasi, dan komunikasi massa lainnya. Tetapi, mengapa ada yang pintar sekali berbicara di depan umum, tetapi ada juga kalau sedang bicara sangat membosankan? Padahal kita tahu orang tidak akan membeli kita punya ide kalau cara komunikasi kita sangat jelek.
Pidato pemimpin negara yang paling membosankan yang saya pernah dengar adalah mantan presiden Suharto. Dia hanya membaca. Namun ajaibnya, semua diam asyik mendengar (mungkin juga tidur barangkali ya?!). Kecuali saat dia bertemu dengan petani, terlihat sekali gairahnya dan semangatnya. Anehnya, saat saya masih SMA sudah bisa menikmati acara kelompencapir di TVRI, apalagi ada dialog dengan presiden Suharto. Pemimpin yang asyik didengar bicaranya adalah Jusuf Kalla dan seringkali dia tidak mengikuti teks yang sudah disiapkan. Selalu enak didengar kalau JK bicara. Presiden SBY yang paling lancar dan teratur jika berbicara di depan umum, namun kadang berputar-putar sehingga butuh konsentrasi khusus untuk memahami maksudnya. Pemimpin yang paling belepotan bicara di depan umum adalah Taufik Kiemas (suami Megawati). Mungkin saat ini dia sedang memperbaiki diri.
Masalah yang dihadapi adalah bukan pembicaranya yang tidak baik, mengingat dia sudah terangkat menjadi pemimpin. Namun pembicaraannya sering tidak dimengerti, kepanjangan, membosankan, tidak ada daya tarik, tema yang itu-itu saja. Yang justru dianggap menarik adalah pembicara yang memiliki latar belakang entertainer, sedangkan pembicara lainnya seperti kehilangan daya tariknya. Apalagi ceramah hanya berisi presentasi dari isi dengan gaya yang tidak menarik, berputar-putar, atau bertele-tele.
Menurut hemat saya, setidaknya ada beberapa penyebab mengapa pemimpin berbicara itu tidak menarik. Pertama, isi atau berita ceramah atau presentasi yang sangat miskin dan juga tidak akurat. Ini terjadi karena pembicara tidak menggunakan sumber yang tepat untuk menggali isi dari ceramahnya dan hanya memakai cara yang dangkal dalam memahami kebenaran yang hanya lewat pengalaman semata-mata yang diceritakan. Pendengar awam katakan, lebih banyak ceritanya daripada isi. Biasanya pembicara ini suka melucu dan melenceng dari tema, yang mana sebenarnya tidak jelek. Pembicara justru perlu punya “sense of humor”. Namun semuanya harus terukur dan tepat penggunaan humor itu yang harus disesuaikan dengan isi. Saya sering temukan pembicara agama bisa membuat pendengarnya tertawa dari awal sampai akhir, namun kalau ditanya pendengar apa isinya, sudah lupa. Ini karena memang tidak ada isi dan kalaupun ada sangat dangkal. Masalahnya, Tidak punya “big ideas” atau tidak ada apa gagasan besar yang ada dalam ceramah atau presentasinya?
Kedua, kajian isinya mendalam namun miskin aplikasi dan cerita praktis. Eksposisi pembicaraan yang digali sangat tidak jelas dengan cara memuja pemakaian istilah teknis, jargon bahasa tinggi, penuh dengan kutipan-kutipan para ahli dan gambaran abstrak dengan bahasa yang eksklusif dan ilmiah. Ini yang menyebabkan ceramah menjadi sangat membosankan tidak aplikatif bagi pendengar. Pendengar hanya diajak mengikuti mendengar bahasa yang tinggi yang dalam tanpa pernah menyadari pendengar membutuhkan aplikasi dan pentignya cerita untuk menjembatani konsep dan penerapan. Di sini pembicara miskin “how’-nya.
Ketiga, adalah faktor miskin cara dalam berkomunikasi atau miskin penyajian. Cara menyampaikan ceramah atau presentasi tidak koheren atau tidak beraturan sehingga pendengar sulit mengikuti apa yang menjadi tujuan dari ceramah. Harusnya ada tatanan yang baik yaitu mulai dari penjabaran tema, poin-poin yang menuju puncak, dan konklusi serta tantangan. Bila ini tidak beraturan bahkan keluar dari topik, pendengar akan menjadi bingung apa sebenarnya tema dan tujuan ceramah. Belum lagi faktor tidak menguasai teknik presentasi, intonasi, gerak tubuh, tatapan mata, dan semua yang berhubungan dengan teknis komunikasi massa. Ini bisa kita pelajari. Presentasi yang baik harus menyentuh level kognitif (kepala) yaitu level intelektualnya, juga level emosional, dan level spirit manusia.
Faktor waktu berceramah juga menyumbang kebosanan pendengar. Ada ceramah yang kepanjangan dalam menyampaikan gagasannya, bahkan berulang-ulang ditekankan sehingga pendengar menjadi bosan sekali. Daya tahan pendengar biasanya tidak lama. Sesekali bila ada pembicara tamu yang menarik mungkin pendengar bisa bertahan, namun tidak untuk selamanya. Jangan kita terobsesi menjadi pembicara yang bicaranya berkepanjangan. Dunia telah dipengaruhi “generasi MTv”, di mana generasi yang baru tidak bisa konsentrasi untuk waktu lama dengan tampilan yang monoton.
Jadi kesimpulan mengapa presentasi tidak menari, setidaknya ada tiga prinsip: 1. Isi yang miskin; 2. Miskin dalam penerapan dan aplikasi. 3. Komunikasi atau cara presentasi yang miskin.
Memperbaikinya bukan hal yang singkat. Menurut saya semua harus lewat suatu proses kehidupan. Menjadi pembicara adalah sebuah proses dan tidak ada pil ajaib yang dapat mengubah seorang pembicara langsung jadi. Ada proses waktu yang dijalani seorang pembicara. Ia perlu banyak melatih diri dan memiliki jam terbang ceramah yang banyak. Pembicara harus juga banyak belajar dan mengembangkan kompetensi dan produktivitas. Dia harus belajar memperdalam isi dari ceramahnya seusai bidangnya. Dan kita harus belajar menjembatani antara isi dan aplikasi lewat retorika, argumen, imajinasi, ilustrasi, dan sisi emosional diangkat.
Pembicara yang baik juga melakukan pemilihan kata yang tepat. Bill Hybels mengartikulasikannya dengan tepat: “The very best leaders I know wrestle with words until they are able to communicate their big ideas in a way that captures the imagination, catalyzes action, and lifts spirits (Bill Hybels, Axiom,17). Artinya, pemimpin hebat selalu bergumul dengan kata-kata sehingga mereka dapat mengkomunikasikan gagasan besar dengan memakai imajinasi, mengajak untuk melakukan yang disertai dengan mengangkat semangat dan jiwa pendengar. Kalau kita lihat pemimpin bangsa kita, Presiden SBY dalam hal ini patut dipuji karena dalam menyusun kalimat-kalimat yang dikatakan sempurna dan dia mulai menatap pendengar waktu bicara. Hanya perlu ada pendekatan yang lebih langsung dan kata-kata yang lebih sederhana serta mengangkat semangat bangsa. Prinsipnya “language matter” - bahasa itu penting!
Keterangan: sudah diposting di www.kompasiana.com/danielronda