Monday, January 18, 2010

Membangun Wibawa Kepemimpinan

By Daniel Ronda

Catatan: Artikel ini saya pernah bawakan dalam bentuk kuliah di Radio RRI Makassar, tanggal 18 Januari 2010, pukul 10.00-11.00. Kuliah ini diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah IX Sulawesi.

Mengapa Boediono dan mantan presiden JK diperlakukan “beda” di kasus panitia angket Century? JK dipanggil Bapak dan ada rasa hormat dengan beliau, kalaupun ada yang panggil dengan sebutan daerah, pasti tidak bermaksud menghina, walau aneh terdengar di telinga. Sedangkan wapres kita kok sepertinya tidak dihargai? Dan sepertinya dicecar banyak sekali pertanyaan dan rasa bahasa yang terbaca di TV, sepertinya Pak Boediono “dibantai” oleh DPR. Begitu pula perlakuan terhadap Sri Mulyani dan pejabat lainnya.

Pertanyaan ini saya tidak jawab secara politik, karena memang bukan bidang saya. Saya hanya memfokuskan kepada wibawa. Refleksi kepemimpinan yang muncul waktu melihat tayangan Pansus Century DPR adalah darimana pemimpin mendapat wibawa? Banyak juga yang menyebutkan wibawa dengan istilah lain seperti kharisma, pengaruh, dan otoritas.

Tentu, ada banyak definisi kepemimpinan, ada ratusan. Namun salah satu definisi John Maxwell mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh (leaderhsip is influence). Tetapi dari mana datang kekuatan untuk bisa mempengaruhi orang lain? Banyak teori kepemimpinan mengkaji akan hal ini. Saya hanya mengambil salah satu teori, di mana ada lima level pemimpin mendapatkan wibawanya. Maxwell menyebut tentang adanya lima level kepemimpinan (lihat Developing the Leader Within You)

Pertama, wibawa datang dari posisi yang diterimanya (leadership by position). Posisi ini bisa berupa penempatan atau pemberian jabatan dari pimpinan atau terpilih menjadi anggota Dewan, dan seterusnya. Posisi ini juga didapat karena pendidikan yang diterimanya atau keahlian kerja yang telah dimilikinya. Jadi posisi seseorang dapat membuat dia memiliki wibawa. Namun ini baru wibawa awal, karena banyak juga bawahan dan komunitas menentang posisi kita. Mereka tidak bersedia dipimpin kalau tidak kompeten. Jadi wibawa karena posisi masih lemah atau lebih tepatnya baru awal dari wibawa. Contohnya, perilaku anggota DPR menunjukkan bahwa posisi Sri Mulyani dan posisi Boediono, serta berbagai pejabat yang datang ke DPR tidak menakutkan mereka, bahkan kadangkala berlaku, maaf, sangat tidak sopan.

Kedua, wibawa diperoleh karena bawahan atau pengikut dari satu organisasi mau dipimpin atau memilih saudara sebagai pemimpin (leadership by permission). Itu didapat lewat relasi yang baik antara pemimpin dengan rekan-rekannya, karyawannya atau masyarakat yang memilihnya bila dia anggota Dewan. Ketika pengikut merasa bahwa kita adalah orang yang tepat di posisi itu dan mereka mau bekerja untuk kita, maka itulah yang menghasilkan wibawa. Pada level ini pemimpin diharapkan mengembangkan relasi dan kehumasan dengan baik. Bentuk pecitraan diri juga baik, namun kemampuan berelasi jauh akan menambah wibawa pemimpin. Namun ini masih belum cukup hanya karena bawahan mulai menerima kepemimpinan.

Ketiga, wibawa akan meningkat karena ada hasil yang terlihat setelah seseorang memegang posisi yang diberikan (leadership by production). Misalnya kalau ditempatkan menjadi pimpinan dalam penjualan, maka hasil penjualan meningkat, omset bertambah, mutu bertambah baik dan ada hasil lainnya, maka wibawa akan meningkat. Umumnya pemimpin yang sukses memimpin dengan menunjukkan hasilnya akan diundang ke berbagai acara untuk menceritakan keberhasilannya, apalagi disertai dengan liputan media yang besar. People are driven by success, begitu kata pepatah. Jadi wibawa didapat ketika seseorang diakui keberhasilan dan pencapaiannya.

Keempat, pemimpin mendapat wibawa dengan orang-orang yang dikembangkannya (leadership by people developpment). Kepemimpinan itu sejalan dengan waktu, dan wibawa akan terus bertambah jika pemimpin berhasil mengembangkan orang lain di bawahnya untuk menjadi pemimpin sesuai dengan bakatnya.

Kelima, wibawa pemimpin didapat karena pengembangan dirinya lewat integritasnya (leadership by personhood). Sejalan dengan waktu maka pemimpin harus terus memelihara karakternya, relasinya, dan integritasnya. Pada awalnya mungkin semua prinsip etika dan moral masih dalam bentuk pencarian, namun akhirnya semua itu akan nampak lewat kepribadiannya sendiri yang otentik, bukan dalam bentuk slogan lagi. Dan ini membuat orang memiliki kharismanya dan akan terus bersinar. Proses ini adalah proses yang panjang dalam kehidupan pemimpin dan tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Robert Clinton menyebut sebagai proses seumur hidup di dalam “university of life”.

Bila kita telah memahami lima level kepemimpinan ini, maka setiap kita harus memberikan refleksi pribadi. Pertama, kita harus memaksimalkan potensi yang ada pada kita sehingga menjadi kompetensi. Kedua, kita harus memiliki kemampuan menjalin relasi dengan sesama karena kepemimpinan adalah relasi. Ketiga, kita harus memiliki karakter yang baik, budi pekerti luhur dalam kata dan perbuatan.

Apakah ada sumbangan blogger lainnya soal wibawa kepemimpinan? Mohon sumbang saran. Thanks in advance!

No comments:

Post a Comment

Post a Comment